E satu.com (Kuningan) - Udara dingin menyambut langkah di lereng Gunung Ciremai, tepatnya di Perkebunan Kopi Botanika, Desa Puncak, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan.

Di tengah hamparan tanaman kopi, biji-biji kopi tumbuh dan dirawat hingga menghasilkan cita rasa yang kini mulai dikenal hingga mancanegara.

Pengelola Perkebunan Kopi Botanika, Robi, menceritakan perjalanan perkebunan tersebut yang kini menjadi salah satu binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Cirebon.

Robi yang telah lama berkecimpung di dunia perkopian mengatakan, Perkebunan Botanika mulai dirintis sejak tahun 2000-an. Saat itu, lahan yang digunakan sekitar 16 hektare dengan penanaman awal mencapai 10 ribu pohon kopi.


"Sebetulnya untuk berkebun di sini kita berawal dari tahun 2000-an. Nah, dari tahun 2000-an dan kita melanjutkan di tahun 2022 sampai sekarang. Untuk perluasan lahan, penanaman pertama ada 10.000 pohon dengan area 16 hektare. Untuk mitra petani, kita sama mitra petani itu hampir 25 hektare," kata Robi saat ditemui, Kamis (10/9/2026).


Perjalanan panjang itu perlahan membuahkan hasil. Kini, Perkebunan Kopi Botanika mampu menghasilkan sekitar 20-25 ton kopi setiap tahun.

Produksi tersebut tak lepas dari peran para petani yang ikut mengembangkan perkebunan kopi di kawasan tersebut. Dari awalnya hanya melibatkan sekitar 5-10 petani, kini jumlahnya telah berkembang menjadi 30 petani kopi.

"Awal-awal memang dari 5 sampai 10 orang. Alhamdulillah kita tahun ke tahun lebih meningkat lagi. Sampai sekarang ini sudah ada 30 petani kopi," ujarnya.

Robi menyebut Botanika tidak hanya mengembangkan satu jenis kopi. Saat ini terdapat tiga jenis kopi yang dikembangkan, yakni Arabika, Robusta, dan Liberika yang masih dalam tahap pengembangan.

Dari ketiga jenis tersebut, Arabika menjadi varietas yang paling dominan dengan komposisi sekitar 70 persen.

"Untuk jenis kopinya kita ada Arabika, Robusta, dan untuk Liberika kita masih tahap pengembangan. Untuk dominasi kita hampir 70 persen jenis Arabika," jelasnya.

Untuk mencapai area perkebunan, pengunjung harus berjalan kaki melewati jalur berbatu dan menanjak. Namun, medan tersebut justru menjadi bagian dari pengalaman menikmati perkebunan kopi di lereng Ciremai.

Sambil berjalan menyusuri kebun, Robi terus menceritakan perkembangan Botanika. Salah satunya mengenai pemasaran kopi yang kini tidak hanya menyasar pasar dalam negeri.

Kopi Botanika telah dikirim ke berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan, produknya mulai merambah pasar luar negeri.

"Kemarin kebetulan baru ke Thailand, terus Jepang, terus ada sebagian teman kita masuk ke Amerika," katanya.

Menurut Robi, salah satu karakter yang membuat kopi dari kawasan tersebut berbeda adalah cita rasanya. Kopi Arabika Botanika dinilai memiliki karakter yang lebih manis, halus, serta menonjolkan sensasi buah atau fruity.

"Untuk spesialnya kita di sini cenderung kopinya lebih manis, smooth, untuk buahnya juga lebih ada. Untuk fruity-nya cenderung gaya Arabika utamanya," ujarnya.

Robi juga merupakan bagian dari kelompok Buana Ciremai, yang menjadi salah satu ekosistem pengembangan kopi di wilayah Kuningan.


Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis, mengapresiasi potensi kopi Kuningan.


Menurutnya, kopi yang tumbuh di wilayah tersebut memiliki karakter rasa yang khas dan peluang besar untuk dikembangkan lebih luas.

"Kopi dari Kuningan ini memiliki cita rasa yang sangat khas dan berpotensi besar untuk terus dikembangkan, tidak hanya di pasar lokal tetapi juga hingga tembus ke pasar global," ujar Wihujeng.

Dari perkebunan di lereng Ciremai, perjalanan kopi Botanika kini tak lagi berhenti di pasar lokal.

Dari tangan para petani, biji kopi itu perlahan menempuh perjalanan lebih jauh, membawa rasa khas Kuningan hingga ke sejumlah negara. (Wandi)
Baca Juga

Post A Comment:

0 comments:

AADD Biro Jasa STNK
Back To Top