E satu.com (Tangerang ) - Tradisi Lebaran di Indonesia, meskipun sarat makna spiritual dan kekeluargaan, kini kerap menonjolkan sisi konsumtif yang menimbulkan kecemburuan sosial. Pergeseran nilai ini terjadi karena praktik lebaran tidak lagi hanya soal bermaaf-maafan, melainkan berubah menjadi ajang pamer kemewahan bagi sebagian kelompok.
Berikut adalah beberapa aspek yang menjadikan Lebaran rentan menimbulkan kecemburuan sosial:
Pamer Baju Baru dan Gaya Hidup: Kesenjangan sosial semakin terasa ketika lebaran dijadikan ajang memamerkan pakaian baru, perhiasan, hingga kendaraan mewah. Hal ini menciptakan tekanan bagi mereka yang kurang mampu secara ekonomi untuk tetap tampil maksimal, sehingga memicu perilaku konsumtif atau bahkan utang.
Fenomena Mudik dan THR: Mudik, yang merupakan tradisi pulang kampung, sering kali menjadi panggung "pamer keberhasilan" di kota bagi perantau, terutama melalui pemberian THR dalam jumlah besar atau pamer kendaraan mewah, yang bisa membuat warga lokal merasa tertinggal.
Tekanan Sosial (Peer Pressure): Adanya standar sosial bahwa lebaran harus mewah—makanan serba banyak, rumah didekorasi, baju serba baru—membuat mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi merasa terpinggirkan atau malu.
Pakar sosiologi menyoroti bahwa budaya sosial yang menempel pada Lebaran seringkali mengaburkan makna Idul Fitri itu sendiri, di mana fokus pada materialisme mengalahkan esensi spiritual dan sosial.
Mengatasi Kecemburuan Sosial di Momen Lebaran:
Untuk menghindari hal tersebut, penting untuk menggeser fokus Lebaran kembali ke nilai-nilai esensial, seperti mempereratg silaturahmi, berbagi secara tulus, dan tidak memaksakan diri mengikuti gaya hidup konsumtif.
( AWW )








.webp)












Post A Comment:
0 comments: