Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

Dunia sedang mengirimkan sinyal yang patut diperhatikan. Puluhan negara mulai mengingatkan warganya agar menyediakan cadangan makanan, air minum, obat-obatan, dan perlengkapan darurat. Bahkan negara-negara maju yang dikenal memiliki ekonomi kuat dan teknologi canggih ikut memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.


Ada apa sebenarnya? Mengapa negara-negara maju mulai mengingatkan rakyatnya untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk? Apakah dunia sedang menuju krisis besar?

Dilansir tvOneNews, Jumat, 30 Oktober 2026, sebanyak 33 negara dan wilayah tercatat memiliki panduan penyediaan kebutuhan darurat. Pemberitaan tersebut merujuk pada pemetaan Newsweek yang terbit 28 Oktober 2026.

Negara-negara tersebut antara lain Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Jepang, Singapura, Australia, dan sejumlah negara Eropa lainnya. Pemerintah menganjurkan persediaan untuk tiga hingga sepuluh hari, bergantung pada kondisi masing-masing negara.

Pada 27 Oktober 2026, pemerintah wilayah Normandia, Prancis, kembali mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu keadaan darurat terjadi untuk mempersiapkan kebutuhan pokok. Prancis menganjurkan persediaan minimal 72 jam.

Berita Newsner, 31 Oktober 2026, turut menyoroti meluasnya panduan kesiapsiagaan tersebut di enam benua. Ancaman yang diantisipasi meliputi konflik geopolitik, cuaca ekstrem, bencana alam, serangan siber, hingga gangguan infrastruktur.

Meski demikian, bukan berarti 33 negara secara bersamaan menetapkan keadaan darurat atau memastikan perang besar akan terjadi. Sebagian panduan sudah diterapkan sejak beberapa tahun sebelumnya.

Namun, fenomena ini tetap menyisakan pertanyaan besar. Mengapa dunia yang semakin maju justru terus dibayangi ketidakpastian?

Krisis Global dan Persoalan Sistem Kapitalisme Sekuler

Kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi seharusnya membuat kehidupan manusia semakin sejahtera. Namun, kenyataannya, jutaan manusia masih menghadapi kelaparan, kemiskinan, dan ketidakpastian hidup.

Laporan The State of Food Security and Nutrition in the World 2026 yang diterbitkan pada 21 Juli 2026 mencatat sekitar 645 juta manusia mengalami kelaparan sepanjang 2025. Bahkan, sekitar 2,1 miliar orang menghadapi kerawanan pangan sedang atau berat.

Memang, angka kelaparan global mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, jumlah tersebut tetap menunjukkan besarnya persoalan pemenuhan kebutuhan dasar manusia.

Laporan FAO dan WFP pada 17 Juni 2026 juga mengidentifikasi 13 wilayah rawan kelaparan akut, termasuk Sudan, Sudan Selatan, Yaman, Palestina, Nigeria, dan Somalia.

Mengapa persoalan ini terus terjadi?

Mantan Direktur Jenderal FAO, José Graziano da Silva, dalam tulisan yang diterbitkan kembali pada Oktober 2026, menyoroti hubungan erat antara konflik dan kelaparan. Konflik menghancurkan sistem pangan, sementara kelaparan dapat memperburuk ketidakstabilan masyarakat.

Artinya, persoalan pangan tidak bisa dipisahkan dari kebijakan ekonomi dan politik global.

Dalam perspektif kritik ekonomi Islam, sistem kapitalisme sekuler menjadi salah satu akar persoalan struktural yang perlu dikaji.

Kapitalisme menempatkan kepemilikan modal, mekanisme pasar, dan keuntungan sebagai penggerak utama ekonomi. Sementara itu, sekularisme memisahkan agama dari pengaturan kehidupan publik.

Ketika keuntungan materi lebih diutamakan daripada kesejahteraan manusia, kebutuhan dasar berisiko diperlakukan sebatas komoditas perdagangan.

Pangan tersedia, tetapi tidak semua orang mampu membelinya. Kekayaan alam melimpah, tetapi manfaatnya tidak selalu dinikmati secara merata. Pertumbuhan ekonomi terjadi, tetapi ketimpangan tetap menjadi persoalan.

Tentu, tidak seluruh krisis disebabkan kapitalisme. Konflik bersenjata, perubahan iklim, dan bencana alam juga berperan besar. Namun, ketimpangan distribusi kekayaan serta ketergantungan terhadap pasar global dapat memperparah dampaknya.

Ketika jalur perdagangan terganggu, harga kebutuhan melonjak. Ketika harga meningkat, masyarakat miskin menjadi kelompok paling rentan.

Lantas, bagaimana mungkin rakyat diminta menyiapkan makanan untuk beberapa hari, sementara sebagian masyarakat masih kesulitan memenuhi kebutuhan makan hari ini?

Di sinilah letak persoalannya. Kesiapsiagaan darurat memang diperlukan, tetapi tidak cukup untuk menjamin kehidupan rakyat.

Negara tidak seharusnya hanya mengingatkan rakyat menghadapi krisis. Negara juga harus memastikan sistem ekonomi mampu melindungi mereka.

Negara Bertanggung Jawab Menjamin Kehidupan Rakyat

Islam menawarkan prinsip pengelolaan kehidupan yang menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai tanggung jawab kepemimpinan.

Rasulullah saw. bersabda:

"Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa pemimpin bukan sekadar pembuat kebijakan, melainkan pemegang amanah untuk mengurus kebutuhan masyarakat.

Pertama, Islam menekankan jaminan kebutuhan pokok setiap individu, meliputi pangan, sandang, dan papan. Negara berkewajiban membangun mekanisme ekonomi yang memungkinkan kebutuhan tersebut terpenuhi, termasuk memberikan bantuan kepada masyarakat yang tidak mampu.

Kedua, Islam mengatur kepemilikan dan pengelolaan sumber daya. Kekayaan yang termasuk kepemilikan umum harus dikelola berdasarkan ketentuan syariat untuk kemaslahatan masyarakat, bukan semata-mata kepentingan segelintir pemilik modal.

Ketiga, Islam melarang penimbunan yang merugikan masyarakat. Negara perlu menjaga produksi, distribusi, dan ketersediaan pangan, sekaligus mengawasi praktik perdagangan yang menimbulkan kezaliman.

Keempat, negara harus membangun ketahanan ekonomi melalui penguatan pertanian, pengelolaan sumber daya, penyediaan cadangan pangan, serta distribusi yang adil.

Sejarah Islam memberikan contoh pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Ketika terjadi kelaparan besar yang dikenal sebagai Am ar-Ramadah sekitar tahun 18 Hijriah, Umar mengupayakan bantuan pangan dari berbagai wilayah untuk masyarakat yang terdampak.

Krisis tidak dianggap sebagai persoalan rakyat semata. Pemimpin mengambil tanggung jawab untuk menggerakkan sumber daya dan menyalurkan bantuan.

Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, perhatian terhadap pengelolaan Baitulmal, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat juga menjadi bagian penting dari kebijakan kepemimpinannya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana prinsip tanggung jawab negara dapat diwujudkan dalam kebijakan nyata.

Karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan masyarakat untuk bersabar ketika menghadapi kesulitan, tetapi juga menuntut hadirnya kepemimpinan yang adil dan bertanggung jawab.

Dalam pandangan politik Islam, penerapan syariat secara menyeluruh, termasuk dalam pengelolaan ekonomi dan pemerintahan, ditawarkan sebagai jalan untuk membangun kehidupan yang lebih adil dan menjamin kebutuhan rakyat.

Dunia hari ini tidak cukup hanya membutuhkan persediaan makanan untuk menghadapi keadaan darurat. Dunia membutuhkan sistem yang mampu melindungi manusia dari kelaparan, ketimpangan, dan ketidakadilan.

Sebab, apa artinya dunia memiliki kekayaan melimpah jika jutaan manusia masih kelaparan? Apa artinya negara disebut maju jika rakyatnya tetap hidup dalam bayang-bayang krisis?

Peringatan kesiapsiagaan dari berbagai negara seharusnya tidak hanya membuat manusia bertanya tentang ancaman yang akan datang, tetapi juga mendorong evaluasi terhadap sistem kehidupan yang dijalankan hari ini.


Oleh : Asma Sulistiawati (Pegiat Literasi)

Wallahu'alam.
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Kota Tangerang) – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Tangerang bergerak cepat menindaklanjuti laporan dan keluhan masyarakat terkait sejumlah lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) yang mengalami kerusakan atau tidak berfungsi.

Perbaikan tersebut menjadi bentuk respons terhadap kebutuhan masyarakat akan penerangan jalan yang memadai, terutama pada malam hari.

Keberadaan lampu PJU bukan sekadar fasilitas pelengkap, melainkan bagian penting dalam menunjang kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan serta aktivitas warga.

Respons cepat Dishub Kota Tangerang ini patut menjadi perhatian positif. Namun, pemeliharaan dan pengawasan secara berkala juga diperlukan agar kerusakan serupa tidak terus berulang.

Masyarakat berharap pelayanan publik seperti ini terus ditingkatkan, dengan membuka ruang pengaduan dan menindaklanjuti setiap laporan warga secara cepat dan tepat

( AWW )
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi persoalan serius di Indonesia. Bukan hanya hutan yang terbakar, melainkan juga ruang hidup masyarakat yang terancam oleh kabut asap. Anak-anak, balita, lansia, hingga ibu hamil harus menanggung risiko kesehatan akibat udara yang tercemar. Namun, di tengah dampak yang meluas, pemerintah menyatakan masih sanggup menangani karhutla dan belum menetapkannya sebagai bencana nasional.


Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Dudung Abdurachman, dalam konferensi pers di kantor Kemenko Polkam, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026). Ia mengatakan, “Ya, sementara kita masih sanggup, ya. Negara kita masih sanggup.”

Kendati demikian, bukannya bencana karhutla ini semakin redam justru menimbulkan kasus baru yaitu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga Rabu (14/10/2026) pukul 16.00 WIB, jumlah kumulatif kasus ISPA di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota terdampak mencapai 288.540 kasus. Sebanyak 64.913 kasus di antaranya dialami balita berusia 0-5 tahun, dengan tambahan 3.295 kasus baru yang dilaporkan pada hari tersebut.

Sumatera Selatan mencatat kasus ISPA tertinggi dengan 76.460 kasus, disusul Kalimantan Selatan sebanyak 75.804 kasus. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena paparan kabut asap dapat mengancam kesehatan masyarakat, terutama anak-anak yang masih rentan terhadap polusi udara.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan. Ini merupakan persoalan kemanusiaan yang menyangkut hak masyarakat untuk hidup sehat dan memperoleh perlindungan dari negara.

Kepemimpinan yang Dipertanyakan

Berulangnya karhutla memperlihatkan bahwa penanganan bencana tidak cukup dilakukan dengan memadamkan api setelah kebakaran meluas. Pencegahan, pengawasan pengelolaan lahan, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran, serta pemulihan ekosistem harus menjadi bagian dari kebijakan yang berkelanjutan.

Pernyataan pemerintah bahwa negara masih sanggup menangani karhutla tentu perlu diikuti bukti nyata berupa penurunan luas kebakaran, perlindungan kesehatan masyarakat dan penyelesaian akar persoalan. Sebab, kemampuan negara semestinya tidak hanya diukur dari ketersediaan personel dan anggaran, tetapi juga dari keberhasilannya mencegah kerugian yang terus berulang.

Dalam perspektif Islam, pemimpin bukan sekadar pengelola administrasi negara, melainkan pengemban amanah untuk mengurus rakyat. Rasulullah saw. bersabda: “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa kepemimpinan mengandung tanggung jawab besar. Pemimpin tidak cukup menyatakan bahwa negara mampu menangani bencana, tetapi harus memastikan keselamatan masyarakat terlindungi, kebutuhan korban terpenuhi dan penyebab bencana ditangani hingga ke akarnya.

Dalam pandangan Islam, sekularisme yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan dapat menjauhkan kebijakan publik dari tuntunan syariat. Ketika kepemimpinan tidak dibangun di atas kesadaran akan amanah dan pertanggungjawaban kepada Allah, kepentingan rakyat berisiko tersisih oleh pertimbangan duniawi.

Di sisi lain, sistem ekonomi kapitalisme yang memberikan ruang besar bagi penguasaan sumber daya oleh pemilik modal juga perlu dikritisi. Ketika keuntungan menjadi orientasi utama, hutan dan lahan berpotensi dipandang sebagai komoditas ekonomi semata. Jika pengawasan lemah dan kepentingan bisnis lebih dominan daripada kelestarian lingkungan, kerusakan ekologis serta penderitaan masyarakat dapat menjadi konsekuensinya.

Karena itu, penanganan karhutla tidak boleh berhenti pada pemadaman api. Negara perlu mengusut penyebab kebakaran, menindak pelanggaran tanpa pandang bulu dan memastikan pengelolaan hutan tidak mengorbankan keselamatan rakyat.

Islam Menawarkan Kepemimpinan yang Bertanggung Jawab

Islam memiliki konsep kepemimpinan sebagai raa’in (pengurus rakyat) dan junnah (perisai atau pelindung). Rasulullah saw. bersabda bahwa imam adalah perisai, tempat orang-orang berlindung dan berjuang di belakangnya (HR. Bukhari dan Muslim).

Konsep ini menempatkan perlindungan rakyat sebagai bagian penting dari tanggung jawab penguasa. Pemimpin harus memiliki kekuatan dalam menjalankan kebijakan (al-quwwah), ketakwaan kepada Allah (at-taqwa), serta kelembutan terhadap rakyat (ar-rifq bi ar-ra’iyyah). Ketiganya diperlukan agar kebijakan tegas terhadap pelaku pelanggaran tetap disertai kepedulian kepada masyarakat terdampak.

Pembentukan pemimpin yang amanah membutuhkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam. Pendidikan tidak hanya membekali seseorang dengan kecakapan teknis, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa setiap keputusan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Dengan demikian, kepentingan rakyat tidak semestinya dikalahkan oleh kepentingan pribadi maupun kelompok.

Dalam pengelolaan sumber daya alam, Islam mengenal pembagian kepemilikan menjadi kepemilikan individu, umum dan negara. Sumber daya yang termasuk kepemilikan umum tidak boleh dikuasai secara sewenang-wenang demi keuntungan segelintir pihak. Rasulullah saw. bersabda, “Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud).

Prinsip ini menjadi landasan untuk mengkaji pengelolaan sumber daya yang menyangkut hajat hidup masyarakat. Hutan dan lahan harus dikelola sesuai ketentuan syariat, dengan memperhatikan fungsi ekologis dan kemaslahatan umum. Pengawasan ketat dan penegakan hukum diperlukan agar eksploitasi yang merusak lingkungan dapat dicegah.

Tentu, nilai-nilai tersebut harus diwujudkan dalam kebijakan nyata, didukung data yang akurat, kemampuan teknis, kesiapan petugas, dan koordinasi lintas wilayah.

Asap yang tak kunjung padam menjadi pengingat bahwa kepemimpinan adalah amanah, bukan sekadar kekuasaan. Rakyat membutuhkan pemimpin yang bukan hanya menyatakan sanggup, tetapi benar-benar hadir sebagai pelindung.

Oleh: Tina Hartina, S.Sos.

Wallahu alam bishowaib

Sumber:
https://rm.id/baca-berita/nasional/330508/64-ribu-balita-kena-ispa-karhutla-renggut-4-nyawa

https://news.detik.com/berita/d-8713943/masih-sanggup-tangani-pemerintah-belum-tetapkan-karhutla-bencana-nasional
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Subang) - Suasana malam  di Desa Cupunagara, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, terasa berbeda. Anggota Satgas TMMD ke-130 Kodim 0605/Subang bersama masyarakat menikmati makan malam ikan bakar dalam suasana penuh keakraban, Minggu malam (1/11/2026).

Kebersamaan tersebut menjadi salah satu potret kedekatan antara prajurit TNI dan masyarakat selama pelaksanaan program TMMD. Di tengah kesibukan menyelesaikan berbagai sasaran pembangunan, momen makan bersama menghadirkan ruang untuk berinteraksi dan mempererat hubungan kekeluargaan.

Tidak ada suasana formal dalam pertemuan tersebut. Anggota Satgas dan warga duduk bersama, menikmati hidangan ikan bakar sambil berbincang santai. Suasana sederhana itu memperlihatkan hubungan yang tumbuh melalui kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.

Danki Satgas TMMD ke-130, Letda Inf Anggriawan Rizki, menyampaikan bahwa kedekatan dengan masyarakat merupakan bagian penting dalam pelaksanaan TMMD. Menurutnya, hubungan yang baik akan semakin memperkuat semangat gotong royong selama kegiatan berlangsung.

“Melalui kebersamaan seperti ini, kami ingin terus menjalin silaturahmi dengan masyarakat. Kehadiran Satgas TMMD di desa ini tidak hanya untuk melaksanakan pembangunan, tetapi juga membangun hubungan yang harmonis dengan warga,” ungkapnya.

Momen makan malam bersama tersebut menjadi gambaran bahwa pelaksanaan TMMD tidak hanya menghadirkan pembangunan secara fisik, tetapi juga mempererat hubungan sosial antara TNI dan masyarakat. Kehangatan yang terjalin diharapkan terus terpelihara, bahkan setelah seluruh rangkaian program TMMD ke-130 selesai dilaksanakan..
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Subang) - Memastikan kondisi kesehatan tetap terjaga menjadi bagian dari perhatian Satgas TMMD ke-130 Kodim 0605/Subang selama pelaksanaan pembangunan di Desa Cupunagara, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang. Sebelum memulai pekerjaan, anggota Satgas bersama masyarakat mendapatkan pendampingan pemeriksaan kesehatan dari personel kesehatan Satgas, PNS Mukmin. Senin (2/11/2026).

Pemeriksaan tersebut dilakukan sebagai bentuk perhatian terhadap kondisi fisik anggota Satgas dan masyarakat yang terlibat dalam berbagai kegiatan TMMD. Dengan mengetahui kondisi kesehatan sejak awal, potensi gangguan kesehatan selama beraktivitas di lapangan dapat lebih diantisipasi.

Dalam pelaksanaannya, PNS Mukmin memberikan pendampingan pemeriksaan kesehatan kepada anggota Satgas dan warga sebelum mereka menjalankan pekerjaan. Kehadiran personel kesehatan ini menjadi bagian dari dukungan pelayanan kesehatan selama program TMMD berlangsung.

Danki Satgas TMMD ke-130, Letda Inf Anggriawan Rizki, mengatakan bahwa kesehatan personel dan masyarakat menjadi perhatian penting dalam mendukung kelancaran seluruh kegiatan di lapangan.

“Pelaksanaan pekerjaan membutuhkan kondisi fisik yang baik. Karena itu, kami memperhatikan kesehatan anggota Satgas maupun masyarakat yang ikut bergotong royong. Kami berharap seluruh kegiatan dapat berjalan dengan lancar dan setiap orang tetap menjaga kondisi kesehatannya,” ungkapnya.

Sementara itu, PNS Mukmin menjelaskan bahwa pendampingan pemeriksaan kesehatan dilakukan untuk mengetahui kondisi anggota Satgas dan masyarakat sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan.

“Pemeriksaan ini menjadi langkah awal untuk memantau kondisi kesehatan sebelum beraktivitas. Dengan begitu, apabila ditemukan keluhan kesehatan, dapat segera diketahui dan ditindaklanjuti sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Melalui pendampingan kesehatan tersebut, Satgas TMMD ke-130 Kodim 0605/Subang berupaya menjaga keseimbangan antara pelaksanaan pembangunan dan kondisi kesehatan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Sebab, kelancaran pembangunan juga didukung oleh kesiapan fisik serta kesehatan para pelaksananya.
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Subang) - Proses rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) milik Emak Ruhimah di Kampung Cilalay RT 03/RW 03, Desa Cupunagara, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, terus berlanjut. Setelah menyelesaikan pengecatan bagian dalam rumah, anggota Satgas TMMD ke-130 Kodim 0605/Subang kini melanjutkan pekerjaan pada bagian luar bangunan. Senin (2/11/2026).

Pengecatan bagian luar menjadi salah satu tahapan yang memberikan perubahan pada tampilan rumah. Dinding yang sebelumnya telah melalui proses pembangunan dan perbaikan kini mulai mendapatkan sentuhan akhir agar terlihat lebih rapi.

Pengerjaan tersebut dilakukan anggota Satgas TMMD sebagai bagian dari program rehabilitasi Rutilahu yang sejak awal melibatkan semangat gotong royong bersama masyarakat. Setiap tahapan dikerjakan secara bertahap hingga rumah dapat memberikan kenyamanan lebih baik bagi penghuninya.

Danki Satgas TMMD ke-130, Letda Inf Anggriawan Rizki, menyampaikan bahwa pengerjaan Rutilahu terus diarahkan agar setiap bagian rumah dapat diselesaikan dengan baik. Pengecatan bagian luar menjadi kelanjutan dari pekerjaan sebelumnya sehingga hasil rehabilitasi dapat terlihat semakin utuh.

“Pengecatan bagian luar ini merupakan kelanjutan dari pekerjaan sebelumnya. Kami terus mengupayakan agar seluruh tahapan rehabilitasi dapat diselesaikan dengan baik, sehingga rumah ini nantinya dapat memberikan kenyamanan bagi Emak Ruhimah dan keluarga,” ungkapnya.

Bagi Emak Ruhimah, perubahan rumah yang ditempatinya bersama sang suami menjadi kebahagiaan tersendiri. Ia melihat langsung bagaimana kondisi rumahnya berangsur berubah sejak proses pembongkaran hingga memasuki tahap penyelesaian.

“Alhamdulillah, sekarang rumah sudah semakin bagus. Bagian dalam sudah dicat, sekarang bagian luarnya juga mulai dikerjakan. Emak sangat bersyukur dan berterima kasih kepada bapak-bapak TNI yang sudah membantu memperbaiki rumah kami,” ungkap Emak Ruhimah.

Melalui program TMMD ke-130, rehabilitasi Rutilahu ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi keluarga penerima. Pembangunan yang dilakukan secara bertahap menjadi wujud kepedulian Satgas TMMD dalam membantu meningkatkan kualitas hunian masyarakat di wilayah pedesaan.
AADD Biro Jasa STNK
Back To Top