Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Kota Cirebon) - Fenomena warga Kota Cirebon yang berbondong-bondong mendatangi kantor kelurahan, Dinas Sosial (Dinsos), Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), hingga Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mempertanyakan status desil dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) mendapat perhatian DPRD Kota Cirebon.

Anggota Komisi III DPRD Kota Cirebon, Rinna Suryanti, menilai banyaknya masyarakat yang mempertanyakan status desil karena dianggap tidak sesuai dengan kondisi ekonomi sebenarnya harus menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Cirebon.

Menurut Rinna, persoalan tersebut tidak semata-mata mengenai keinginan masyarakat untuk mendapatkan desil yang lebih rendah. Fenomena itu juga menunjukkan adanya pertanyaan mengenai akurasi data sosial ekonomi yang menjadi dasar berbagai kebijakan pemerintah.

“Meningkatnya warga Kota Cirebon yang mendatangi kelurahan, Dinsos, Disdukcapil maupun BPS karena merasa status desilnya tidak sesuai dengan kondisi ekonomi sebenarnya harus dibaca sebagai alarm serius bagi pemerintah daerah,” kata Rinna pada Rabu (16/9/26).

Politisi PAN tersebut menegaskan, pemerintah tidak cukup hanya memberikan penjelasan bahwa proses pemutakhiran data tidak secara otomatis membuat status desil seseorang turun.

Menurutnya, hal yang lebih penting adalah memastikan data yang digunakan dalam menentukan desil benar-benar menggambarkan kondisi riil masyarakat.

Rinna memahami bahwa desil merupakan hasil pengolahan data menggunakan metodologi tertentu sehingga perubahan status tidak bisa dilakukan hanya karena adanya pengajuan keberatan dari masyarakat.

Namun, ia meminta agar mekanisme tersebut tidak membuat masyarakat merasa hanya diminta menerima status yang muncul dalam sistem tanpa mendapatkan penjelasan yang memadai.

“Kalau data adalah dasar negara memberikan bantuan, perlindungan sosial, dan intervensi kebijakan, maka kesalahan data bukan persoalan kecil. Salah data bisa berarti salah sasaran dan berpotensi menghilangkan hak warga yang sebenarnya membutuhkan,” ujarnya.

Rinna meminta Pemkot Cirebon mengambil peran aktif dalam menangani berbagai pengaduan masyarakat terkait DTSEN.

Menurutnya, Dinsos, Disdukcapil, kecamatan, dan kelurahan harus memiliki kanal pengaduan serta mekanisme verifikasi yang jelas, cepat, dan terukur.

Setiap keberatan warga, kata dia, harus ditindaklanjuti melalui proses verifikasi dan pemutakhiran data berdasarkan kondisi faktual di lapangan.

“Jangan sampai rakyat dipingpong dari kelurahan ke Dinsos, dari Dinsos ke BPS, sementara persoalan substantifnya tidak pernah selesai,” tegasnya.

Ia berharap DTSEN tidak hanya dipandang sebagai data nasional, tetapi juga mampu menjadi gambaran kondisi sosial ekonomi masyarakat di tingkat daerah, termasuk Kota Cirebon.

Sebagai bagian dari fungsi pengawasan DPRD, Rinna juga meminta Pemkot Cirebon menyampaikan data secara transparan mengenai pengaduan masyarakat terkait status desil.

Ia meminta pemerintah menjelaskan berapa jumlah warga yang telah mengajukan keberatan, berapa yang sudah diverifikasi, berapa yang mengalami perubahan status, serta berapa warga yang berpotensi kehilangan akses bantuan akibat ketidaktepatan data.

“Jangan jadikan kalimat ‘pemutakhiran tidak otomatis menurunkan desil’ sebagai tameng birokrasi. Yang dituntut masyarakat bukan sekadar penurunan desil, tetapi keadilan data,” kata Rinna.

Ia menambahkan, kualitas data menjadi bagian penting dalam memastikan kebijakan pemerintah tepat sasaran.

“Sebab ketika data salah, kebijakan bisa salah. Dan ketika kebijakan salah sasaran, rakyatlah yang pertama kali menanggung akibatnya,” pungkasnya. (Wandi)
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Cirebon) - Generasi Muda Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI-Polri (GM FKPPI) menggelar ziarah ke Taman Makam Pahlawan kesenden sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-67 PEPABRI dan HUT ke-48 GM FKPPI.

Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan syukuran yang digelar di Pendopo 76 Kodim 0614/Kota Cirebon.

Ziarah menjadi momentum untuk mengenang jasa dan pengorbanan para pahlawan.

Sementara syukuran diisi dengan doa serta ungkapan rasa syukur atas kesehatan, kebersamaan, dan kesempatan untuk terus mengabdi kepada bangsa dan negara.


"Syukur ini kami panjatkan atas nikmat kesehatan, kebersamaan, dan kesempatan untuk terus berkarya dan mengabdi bagi Ibu Pertiwi," ujar Ketua GM FKPPI Kota Cirebon, Dany Jaelani, kepada wartawan, Rabu (16/9/2026).


Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa semangat pengabdian harus terus dilanjutkan oleh generasi penerus.

"Dari makam pahlawan, kami belajar arti pengorbanan. Di Pendopo 76, kami bersyukur atas kesempatan mengabdi," katanya.

Dany menyampaikan apresiasi kepada Kodim 0614/Kota Cirebon yang telah memberikan tempat dan dukungan untuk pelaksanaan kegiatan syukuran tersebut.


"Terima kasih Kodim 0614 Kota Cirebon atas tempat dan dukungannya. Semoga di usia 48 tahun, GM FKPPI semakin solid, semakin bermanfaat, dan semakin bersih dalam pengabdian," ujarnya.


Ia menambahkan, momentum HUT ke-67 PEPABRI dan HUT ke-48 GM FKPPI menjadi kesempatan untuk memperkuat semangat kebersamaan dan pengabdian.

"Setelah menunduk hormat kepada pahlawan, kami berdiri tegak untuk mengabdi. Hari ini kami bersyukur di Pendopo 76 Kodim 0614. Syukur karena masih diberi tenaga, diberi waktu, diberi amanah untuk berkarya," tuturnya. (Wandi)
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com
 (Kabupaten Cirebon) - Komisi Pemilihan Umum (KPU) bersama Pemerintah Kabupaten Cirebon mendorong generasi muda tidak hanya menjadi pemilih dalam setiap gelaran pemilu, tetapi ikut mengambil peran sebagai subjek sekaligus agen demokrasi.

Upaya tersebut dilakukan melalui Sekolah Demokrasi Caruban Nagari yang digelar di Ruang Nyimas Gandasari, Sekretariat Daerah Kabupaten Cirebon, Selasa (15/9/2026).

Sekda Kabupaten Cirebon, Hendra Nirmala dalam sambutannya, demokrasi tidak berhenti pada pelaksanaan pemilu.

Demokrasi juga membutuhkan masyarakat yang memahami hak dan kewajibannya, mampu menyampaikan aspirasi secara santun, menghargai perbedaan, serta ikut menjaga kehidupan sosial dan politik yang sehat.

Menurutnya, tantangan demokrasi semakin kompleks di era digital. Masyarakat harus mampu menghadapi derasnya arus informasi, termasuk hoaks, disinformasi, dan berbagai bentuk manipulasi politik.

“Karena itu, kemampuan untuk memahami, menyaring informasi menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang demokratis,” kata Hendra saat membacakan sambutan Bupati Cirebon Imron.

Hendra memastikan Pemkab Cirebon mendukung upaya penguatan pendidikan demokrasi dan partisipasi masyarakat.

Melalui Sekolah Demokrasi, peserta diharapkan mampu menjadi agen yang menyebarluaskan nilai-nilai demokrasi di lingkungan masing-masing.

“Mari kita bersama-sama membangun demokrasi yang cerdas, santun, inklusif, dan berintegritas, sehingga demokrasi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Dorong Pemilih Rasional

Sementara itu, Anggota KPU Jawa Barat, Abdullah Sapi’i, menilai Sekolah Demokrasi Caruban Nagari menjadi ruang penting untuk membentuk pemilih yang lebih rasional.

Ia mengutip klasifikasi pemilih dalam teori Agens Demokrasi, yakni Hobbit, Hooligan, dan Vulkan. Pemilih Hobbit digambarkan sebagai pemilih yang apatis dan menentukan pilihan karena faktor nonpolitik. Sementara Hooligan, cenderung fanatik terhadap pilihan politik tertentu.

Adapun pemilih Vulkan merupakan pemilih yang menggunakan pertimbangan rasional dalam menentukan pilihan.

“Jadi, dari teori tadi, kita bertujuan Cirebon Nagari ini adalah mengajak rekan-rekan semua untuk masuk pada kategori Vulkan. Pemilih Vulkan,” kata Sapi’i.

Menurut Sapi’i, pemilih rasional tidak sekadar menentukan pilihan karena kedekatan atau fanatisme. Mereka mempertimbangkan program, rekam jejak, dan kapasitas calon sebelum menentukan pilihan politik.

Namun, ia menekankan bahwa proses pendidikan demokrasi tidak boleh berhenti pada kemampuan memilih secara rasional. Generasi muda juga perlu mengambil posisi sebagai subjek kepemiluan.

“Bekal ilmu itu, kalau sudah masuk kategori Vulkan, maka harus diimplementasikan pada kategori berikutnya, yaitu sebagai subjek kepemiluan,” ujar Sapi’i.

KPU Jawa Barat juga mendorong peserta Sekolah Demokrasi Caruban Nagari untuk terlibat langsung dalam penyelenggaraan pemilu pada masa mendatang.

Sapi’i mengatakan, generasi muda memiliki peluang untuk menjadi bagian dari penyelenggara pemilu, mulai dari PPK, PPS, KPPS hingga Pantarlih sesuai ketentuan yang berlaku.

Ia menyebut berdasarkan pembaruan Data Pemilih Berkelanjutan semester I, sekitar 59 persen pemilih di Jawa Barat berasal dari generasi Y dan Z.

“Artinya generasi adik-adik semua nanti yang akan terbesar menjadi pemilih ke depan,” kata Sapi’i.

Sapi’i juga meminta peserta memanfaatkan jejaring dan media sosial untuk membantu KPU menyebarluaskan pendidikan pemilih kepada lingkungan masing-masing.

Menurutnya, generasi muda memiliki posisi strategis sebagai agen sosialisasi, karena lebih dekat dengan komunitas dan lingkungan digital mereka.

Senada disampaikan Ketua KPU Kabupaten Cirebon, Esya Karnia Puspawati. Esya mengatakan, Sekolah Demokrasi Caruban Nagari dirancang untuk mempertemukan berbagai generasi sekaligus membentuk ekosistem demokrasi di Kabupaten Cirebon.

“Generasi Z, generasi Alfa, bertemu menjadi satu, berakulturasi menjadi satu, sehingga membentuk sebuah ekosistem demokrasi di Kabupaten Cirebon,” kata Esya.

Ia menjelaskan, KPU Kabupaten Cirebon telah melakukan pemetaan wilayah untuk memastikan keterwakilan peserta dari kawasan timur, barat, selatan, utara, dan tengah.

Kegiatan kali ini melibatkan peserta dengan rentang usia hingga 30 tahun. Sementara peserta yang lebih muda, termasuk siswa SMP berusia sekitar 14 tahun, akan mendapatkan ruang pendidikan demokrasi melalui tahapan atau program berikutnya.

“Tujuannya sudah jelas. Kami ingin mencetak agen-agen demokrasi di setiap wilayah,” ujarnya.

Sekolah Demokrasi Caruban Nagari berlangsung secara hybrid, dengan hari pertama dilaksanakan secara daring dan hari kedua secara luring.

Kegiatan luring tersebut bertepatan dengan Hari Demokrasi Internasional yang diperingati setiap 15 September.



Sumber : Diskominfo Kabupaten Cirebon
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com
 (Kabupaten Cirebon) - Bupati Cirebon Imron menekankan pentingnya menjaga stabilitas pangan melalui kerja sama antardaerah saat menghadiri High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) se-Ciayumajakuning Tahun 2026.

Kegiatan yang digelar Bank Indonesia (BI) Cirebon tersebut berlangsung di Hotel Luxton Cirebon, Selasa (15/9/2026), dengan tema memperkuat resiliensi melalui pengendalian inflasi dan akselerasi transformasi digital untuk ekonomi Ciayumajakuning yang inklusif dan berkualitas.

Imron mengatakan, karakteristik Kabupaten Cirebon membuat aktivitas ekonomi masyarakat tidak hanya berlangsung di wilayah administrasi kabupaten, tetapi berkaitan erat dengan kawasan perkotaan di sekitarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pengendalian inflasi perlu melihat keterkaitan ekonomi antarwilayah, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.

“Pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan secara parsial oleh satu daerah, karena pasokan dan distribusi pangan saling berkaitan di wilayah Ciayumajakuning,” kata Imron.

Ia menyebut Kabupaten Cirebon masih bergantung pada sejumlah daerah sekitar untuk memenuhi kebutuhan komoditas pangan, terutama pasokan dari Kabupaten Kuningan dan Majalengka.

Karena itu, Pemkab Cirebon terus menerapkan strategi 4K dalam menjaga stabilitas harga, meliputi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi yang efektif.

“Kerja sama antardaerah perlu diperkuat agar langkah intervensi dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran, sehingga manfaatnya dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” ujarnya.

Imron juga mengharapkan forum koordinasi yang difasilitasi BI dapat berlangsung secara rutin dan menghasilkan kesepakatan serta rencana aksi yang dapat ditindaklanjuti setiap pemerintah daerah.

Ia menilai koordinasi tersebut penting untuk mengantisipasi berbagai potensi tekanan terhadap perekonomian daerah, termasuk dampak kondisi ekonomi global terhadap harga dan distribusi kebutuhan masyarakat.

Kepala Perwakilan BI Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis mengatakan, hasil pemetaan neraca pangan menunjukkan adanya komoditas yang mengalami surplus maupun defisit di sejumlah wilayah Ciayumajakuning.

Untuk komoditas beras, kata dia, Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon tercatat mengalami defisit, sedangkan Indramayu, Kuningan, dan Majalengka memiliki kapasitas produksi yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan wilayah lain.

“Indramayu, Kuningan, dan Majalengka merupakan sentra produksi yang dapat dikerjasamakan agar kebutuhan pangan di Ciayumajakuning tercukupi,” kata Wihujeng.

Selain beras, menurut dia, cabai menjadi salah satu komoditas yang perlu mendapat perhatian karena beberapa wilayah mengalami defisit, sementara Majalengka memiliki potensi pasokan untuk mendukung daerah lainnya.

BI Cirebon juga mengusulkan sejumlah langkah, antara lain pembentukan badan usaha milik daerah (BUMD) pangan atau penugasan BUMD yang sudah ada, integrasi sistem informasi, kemitraan dengan offtaker, serta penyusunan aspek hukum kerja sama antardaerah



Sumber : Diskominfo Kabupaten Cirebon
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Cirebon) - Tradisi budaya masyarakat Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, yang meliputi Festival Sedekah Bumi, arak-arakan hingga nadran diusulkan kembali digelar.

Salah satu tradisi yang menjadi perhatian adalah ider-ideran yang berkaitan erat dengan kawasan makam Sunan Gunung Jati.

Keinginan menghidupkan kembali tradisi tersebut muncul dari sejumlah tokoh masyarakat.

Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun itu dinilai menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Gunung Jati yang perlu terus dilestarikan.

Juru Kunci atau Jeneng Makam Sunan Gunung Jati, Nasirudin, mengatakan usulan untuk kembali menggelar ider-ideran disampaikan dalam rapat bersama sejumlah pihak.

"Intinya berdasarkan masukan-masukan dari tokoh-tokoh masyarakat yang menginginkan adanya acara ider-ideran itu diadakan kembali," kata Nasir seusai rapat, Selasa (15/9/2026).

Nasir menyebut pelaksanaan tradisi tersebut nantinya perlu menyesuaikan kondisi lalu lintas dan aktivitas masyarakat. Salah satu penyesuaian yang disiapkan yakni perubahan rute arak-arakan.

"Rutenya mungkin yang tadinya sampai batasan Taman Krucuk, saya akan rubah sampai batasan di Klayan atau di Pertamina saja," ujarnya.

Menurut Nasir, perubahan rute tersebut dilakukan untuk mengurangi potensi kemacetan selama kegiatan berlangsung. Dengan rute yang disesuaikan, pelaksanaan tradisi diharapkan tetap berjalan tanpa terlalu mengganggu aktivitas pengguna jalan.

Selain rute, waktu pelaksanaan juga akan diusulkan untuk mengalami perubahan.

Jika sebelumnya direncanakan berlangsung pada Sabtu, Nasir menyebut keberangkatan arak-arakan akan diusulkan pada Minggu pagi.


"Dan harinya pun tadinya hari Sabtu keberangkatan acara, saya akan rubah menjadi hari Minggu pagi," katanya.


Nasir berharap rencana menghidupkan kembali tradisi ider-ideran mendapat dukungan dari masyarakat Desa Astana dan wilayah sekitarnya.

Ia menilai pelestarian tradisi budaya tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Keterlibatan masyarakat diperlukan agar nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur tetap terjaga dan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

Tradisi tersebut juga memiliki keterkaitan dengan kawasan makam Sunan Gunung Jati yang selama ini menjadi salah satu pusat kegiatan budaya dan religi masyarakat di wilayah Gunung Jati. (Wandi)
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Cirebon) -
Masyarakat Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, menginginkan tradisi budaya berupa Festival Sedekah Bumi, arak-arakan, dan nadran kembali digelar.

Tradisi tersebut dinilai menjadi bagian penting dari warisan leluhur yang perlu dilestarikan.

Rangkaian tradisi tersebut berkaitan erat dengan kawasan makam Sunan Gunung Jati yang menjadi salah satu pusat kegiatan budaya dan religi masyarakat di wilayah Gunung Jati.

Juru Kunci atau Jeneng Makam Sunan Gunung Jati, Nasirudin, mengatakan usulan untuk menggelar kembali acara ider-ideran datang dari sejumlah tokoh masyarakat.

"Intinya berdasarkan masukan-masukan dari tokoh-tokoh masyarakat yang menginginkan adanya acara ider-ideran itu diadakan kembali," kata Nasir, usai kegiatan rapat tersebut, Selasa (15/9/2026).



Menurutnya, pelaksanaan tradisi tersebut tetap harus memperhatikan kondisi lalu lintas dan aktivitas masyarakat. Karena itu, pihaknya berencana melakukan penyesuaian terhadap rute arak-arakan.

"Rutenya mungkin yang tadinya sampai batasan Taman Krucuk, saya akan rubah sampai batasan di Klayan atau di Pertamina saja," ujarnya.

Perubahan rute tersebut dilakukan untuk mengurangi potensi kemacetan yang ditimbulkan selama kegiatan berlangsung.

Selain rute, waktu pelaksanaan juga akan disesuaikan. Jika sebelumnya keberangkatan acara direncanakan pada Sabtu, Nasir menyebut pihaknya akan mengusulkan pelaksanaan pada Minggu pagi.


"Dan harinya pun tadinya hari Sabtu keberangkatan acara, saya akan rubah menjadi hari Minggu pagi," katanya.

Nasir berharap rencana menghidupkan kembali tradisi tersebut mendapat dukungan dari masyarakat Desa Astana dan wilayah sekitarnya.

Menurutnya, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan bersama agar nilai-nilai yang diwariskan leluhur tetap terjaga.(Wandi)
AADD Biro Jasa STNK
Back To Top