Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Cirebon) -  Komunitas Advokat Spiritual Cirebon (KASBON) mengajak masyarakat memaknai Rebo Wekasan bukan sekadar sebagai tradisi, tetapi sebagai momentum untuk introspeksi, mawas diri, meningkatkan rasa syukur, dan memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT.

Ketua KASBON, Qorib Magelung Sakti, mengatakan kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari berbagai ujian, termasuk musibah, mara bahaya, maupun bencana alam.

Karena itu, menurutnya, momentum Rebo Wekasan dapat menjadi pengingat agar manusia tidak hanya mengandalkan kemampuan dirinya, tetapi juga senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT.

"Rebo Wekasan bagi kami adalah sebuah pesan moral. Momentum ini mengajak kita untuk selalu introspeksi dan mawas diri terhadap berbagai mara bahaya, musibah, maupun bencana alam yang dapat menimpa kehidupan kita," kata Qorib.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Menurutnya, kerusakan lingkungan, keserakahan, dan kelalaian manusia harus menjadi pelajaran agar manusia kembali memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, sesama manusia, dan alam sekitar.

"Kita harus meningkatkan rasa syukur dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Jangan sampai tradisi hanya menjadi seremonial, tetapi kehilangan makna terdalamnya, yaitu mengingat Allah, memperbaiki diri, memperbanyak doa, memperkuat kepedulian sosial dan menjaga alam," ujarnya.

Basuh Raga, Basuh Jiwa
Dalam memaknai Rebo Wekasan, KASBON juga menyoroti istilah basuh raga sebagai simbol pembersihan diri secara lahir dan batin.
Basuh raga tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan membersihkan tubuh.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi simbol untuk membersihkan hati dari kesombongan, pikiran dari prasangka buruk, serta memperbaiki perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Qorib menegaskan, seluruh ikhtiar spiritual tetap harus ditempatkan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT.

"Basuh raga adalah simbol. Yang paling penting adalah bagaimana kita mampu membasuh hati, pikiran dan jiwa. Kita melakukan ikhtiar, berdoa dan bertawakal kepada Allah SWT," katanya.

Rebo Wekasan Bukan untuk Menakut-nakuti
KASBON juga mengingatkan masyarakat agar tidak memahami Rebo Wekasan secara berlebihan atau menjadikannya sebagai momentum untuk menebarkan ketakutan.

Sebaliknya, Rebo Wekasan dapat dimaknai sebagai momentum untuk bermuhasabah, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, mempererat silaturahmi, meningkatkan kepedulian terhadap sesama, serta menjaga kelestarian lingkungan.

Menurut Qorib, musibah dan bencana harus menjadi bahan evaluasi bersama, baik dari sisi spiritual maupun rasional.
Masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana melalui ikhtiar nyata, seperti menjaga lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, menjaga hutan dan sumber air, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Di momentum Rebo Wekasan, KASBON mengajak masyarakat Cirebon untuk meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT, memperkuat iman dan ketakwaan, serta melakukan introspeksi dan muhasabah diri.

Selain itu, masyarakat diajak meningkatkan kewaspadaan terhadap mara bahaya dan bencana, menjaga alam sebagai amanah Allah SWT, memperbanyak doa, dzikir dan amal kebaikan, serta mempererat silaturahmi dan kepedulian sosial.

Tradisi Rebo Wekasan, kata KASBON, hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Tradisi tersebut dapat menjadi sarana mengambil hikmah dan memperbaiki diri.
Qorib pun menyampaikan refleksi terkait makna Rebo Wekasan.

"Jangan takut kepada hari, tetapi takutlah ketika kita kehilangan kesadaran untuk memperbaiki diri. Rebo Wekasan hendaknya menjadi pengingat bahwa hidup adalah perjalanan untuk terus bersyukur, berikhtiar, bermuhasabah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT," pungkasnya. (Wandi)
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Cirebon) - Perubahan iklim mulai memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat di Kota Cirebon.

Hal itu terlihat dari meningkatnya kejadian bencana hidrometeorologi dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kota Cirebon karena kesiapsiagaan dinilai penting untuk menjaga keselamatan masyarakat sekaligus keberlanjutan pembangunan daerah.

Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, menyampaikan hal tersebut saat menjadi Pembina Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi Tingkat Kota Cirebon Tahun 2026 di Grage City Hub, Selasa (11/8/2026).

Effendi mengatakan, berdasarkan data kejadian bencana, terdapat peningkatan yang perlu menjadi perhatian bersama.
Sepanjang 2025 tercatat sebanyak 156 kejadian bencana di Kota Cirebon.


Bencana tersebut meliputi pohon tumbang, bangunan ambruk, cuaca ekstrem, banjir, tanah longsor, kebakaran lahan hingga banjir rob.


Jumlah itu hampir dua kali lipat dibandingkan 2020 yang tercatat sebanyak 88 kejadian bencana.

"Perubahan iklim bukan lagi sesuatu yang hanya kita bicarakan sebagai persoalan di masa depan. Dampaknya sudah kita rasakan dan kita hadapi bersama. Karena itu, kesiapsiagaan harus menjadi kebiasaan, bukan hanya dilakukan ketika bencana sudah terjadi," ujar Effendi.

Ia mengatakan, penanggulangan bencana tidak bisa hanya dilakukan setelah bencana terjadi.

Kesiapan pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan berbagai unsur terkait harus dibangun sejak sebelum potensi bencana muncul.

Effendi menyebutkan, pada Januari 2026, banjir menyebabkan kerusakan tanggul dan merendam lima kelurahan di tiga kecamatan.

Bencana tersebut berdampak terhadap lebih dari 4.000 jiwa.
Sementara itu, selama semester pertama 2026, tercatat lima kejadian banjir di Kota Cirebon.

Untuk mengantisipasi berbagai potensi bencana tersebut, Pemkot Cirebon telah menetapkan status siaga darurat bencana tahun 2025-2026.
Sejumlah langkah mitigasi juga terus dilakukan, baik melalui pembangunan infrastruktur maupun penguatan kesiapsiagaan masyarakat.

Di sisi struktural, penanganan dilakukan melalui sejumlah program, di antaranya penataan kawasan Sungai Sukalila, pembangunan senderan dan pintu air, pembenahan drainase Sungai Suba, penanggulan alur sungai di Argasunya, pemasangan trash barrier serta normalisasi drainase Jalan Cipto.
Upaya tersebut dilakukan melalui sinergi Pemkot Cirebon bersama pemerintah pusat, BBWS Cimanuk-Cisanggarung dan PT Arida.

Sementara dari sisi nonstruktural, Pemkot Cirebon telah membentuk 12 Kelurahan Tangguh Bencana dan lima Kecamatan Tangguh Bencana.

Di sektor pendidikan, telah dibentuk empat Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dengan dukungan 75 fasilitator terlatih.

Penguatan kesiapsiagaan juga dilakukan dengan memasang rambu jalur evakuasi di berbagai fasilitas publik hingga tingkat RW.

"Mitigasi bencana tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur. Masyarakat juga harus tahu apa yang harus dilakukan, ke mana harus menyelamatkan diri, dan bagaimana saling membantu ketika terjadi keadaan darurat," kata Effendi.

"Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan kota," lanjutnya.
Berbagai upaya tersebut turut membuahkan hasil.

Kota Cirebon berhasil mempertahankan kategori Risiko Bencana "Sedang" dari BNPB selama dua tahun berturut-turut.
Selain itu, BPBD Provinsi Jawa Barat menetapkan Kota Cirebon sebagai salah satu penyelenggara Posko Kolaborasi Siaga Bencana Terbaik pada arus mudik dan balik Idulfitri 2026.

Kekeringan Jadi Perhatian
Selain ancaman banjir dan cuaca ekstrem, Pemkot Cirebon juga memberikan perhatian terhadap potensi kekeringan pada musim kemarau.
Mengacu pada rilis BMKG, Agustus 2026 merupakan puncak musim kemarau.

Hingga 4 Agustus 2026, kekeringan telah melanda tiga RW di Kelurahan Argasunya.
Kondisi tersebut menyebabkan 1.004 kepala keluarga atau sekitar 3.271 jiwa mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

Untuk membantu warga terdampak, Pemkot Cirebon melalui BPBD, PDAM dan PMI telah mendistribusikan sebanyak 45.000 liter air bersih.

Effendi menilai, penanganan kekeringan ke depan perlu diarahkan pada langkah yang lebih antisipatif.

Menurutnya, ketersediaan pasokan air harus dipersiapkan sebelum masyarakat memasuki kondisi kritis.

"Ketika kekeringan sudah terjadi dan masyarakat mulai kesulitan mendapatkan air, tentu kita harus segera hadir. Tetapi ke depan, yang lebih penting adalah bagaimana kita mempersiapkan pasokan air sejak awal, sebelum kondisi menjadi kritis," tuturnya.

"Jadi, penanggulangan bencana harus semakin bergeser pada langkah pencegahan dan kesiapsiagaan," sambungnya.

Lepas Kontingen Jamnas XII
Dalam apel tersebut, Wali Kota Cirebon juga melepas Kontingen Pramuka Penggalang Kota Cirebon yang akan mengikuti Jambore Nasional (Jamnas) XII.

Kegiatan tersebut akan berlangsung pada 13-20 Agustus 2026 di Buperta Cibubur, Jakarta Timur.

Jamnas XII tahun ini mengangkat tema "Berkreasi, Berinovasi, Terampil dan Mandiri untuk Mendukung Swasembada Pangan".

Effendi berpesan agar para peserta menjadikan Jambore Nasional sebagai ruang untuk mengembangkan kemandirian, keterampilan sekaligus memperluas pengalaman.


"Kepada seluruh Kontingen Kota Cirebon, saya berpesan agar mengikuti Jamnas ini dengan sungguh-sungguh. Jadikan setiap kegiatan sebagai kesempatan untuk belajar, mengembangkan kemandirian dan keterampilan," katanya.


"Jaga nama baik Kota Cirebon dan bawa pulang pengalaman yang diperoleh untuk menjadi bagian dari pembangunan daerah," lanjutnya.

Menutup amanatnya, Effendi mengajak seluruh unsur pemerintah dan masyarakat menjadikan kesadaran terhadap bencana sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

"Budaya sadar bencana harus kita bangun bersama, mulai dari tahap pra-bencana, tanggap darurat, sampai pascabencana. Kota yang tangguh bukan hanya kota yang mampu menangani bencana ketika terjadi, tetapi juga kota yang mampu mencegah, mempersiapkan diri, dan bangkit setelahnya," ungkapnya.

Menurut Effendi, kesiapsiagaan merupakan bagian penting dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

"Dengan kolaborasi seluruh pihak, Kota Cirebon semakin mampu menghadapi berbagai tantangan dan mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan," pungkasnya. (Wandi)
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Cirebon) - Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, meresmikan kantor baru Sekretariat Daerah (Setda) Kota Cirebon yang berada di kawasan Grage City Hub, Selasa (11/8/2026).

Pada kesempatan yang sama, kawasan yang sebelumnya dikenal dengan nama Grage City Mall tersebut resmi memperkenalkan identitas barunya menjadi Grage City Hub.

Peresmian dihadiri Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida Rosmawati, Sekretaris Daerah Kota Cirebon Iing Daiman, Ketua TP PKK Kota Cirebon Noviyanti Edo, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Cirebon Walyanah Iing Daiman, sejumlah kepala perangkat daerah, jajaran manajemen Grage Group, serta tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Effendi Edo mengatakan perpindahan kantor Setda tidak semata-mata dimaknai sebagai perpindahan tempat bekerja.


Menurutnya, kantor baru diharapkan menjadi momentum untuk mengubah pola kerja birokrasi agar lebih terbuka, dinamis, serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat.


"Hari ini kita mencatat babak baru bagi Pemerintah Kota Cirebon. Kepindahan Sekretariat Daerah ke kawasan ini bukan hanya soal pindah kantor atau berganti meja kerja. Ini menjadi bagian dari upaya kita mengubah cara kerja birokrasi supaya lebih segar, lebih terbuka, dan lebih mudah berkoordinasi," ujar Effendi.

Ia menilai suasana dan lingkungan kerja turut memengaruhi semangat aparatur dalam menjalankan tugas.
Dengan lingkungan kerja yang lebih terbuka dan representatif, koordinasi antarpersonel maupun antarperangkat daerah diharapkan dapat berlangsung lebih efektif.


"Harapannya tentu semangat kerjanya juga bertambah. Koordinasi lebih mudah, pekerjaan lebih cepat, dan pada akhirnya pelayanan kepada masyarakat bisa kita berikan secara lebih maksimal dan optimal," katanya.

Effendi juga menyampaikan apresiasi kepada manajemen Grage Group yang telah menyediakan tempat bagi kantor Setda Kota Cirebon.

Ia menyebut kawasan tersebut dinilai representatif untuk mendukung aktivitas pemerintahan sekaligus berada di tengah kawasan yang menjadi bagian dari aktivitas masyarakat.

"Atas nama Pemerintah Kota Cirebon, saya menyampaikan terima kasih kepada manajemen Grage Group yang sudah memberikan tempat yang baik dan representatif. Tentu ini bukan hal kecil," tuturnya.

Grage City Mall Berubah Jadi Grage City Hub
Pada momen yang sama, Grage City Mall resmi memperkenalkan wajah dan identitas barunya sebagai Grage City Hub.
Effendi menilai penggunaan nama "Hub" memiliki makna sebagai titik temu sekaligus penghubung berbagai aktivitas masyarakat.

"Nama Hub ini menurut saya punya pesan yang kuat. Artinya bukan lagi sekadar tempat orang datang untuk berbelanja, tetapi menjadi titik temu dan penghubung berbagai kegiatan," ungkapnya.

Menurut dia, Grage City Hub nantinya dapat menjadi ruang yang mempertemukan berbagai aktivitas, mulai dari kegiatan usaha, interaksi sosial, hiburan, pelayanan, hingga aktivitas masyarakat lainnya.

"Ini membuat kawasan ini semakin dekat dengan kehidupan masyarakat Kota Cirebon," katanya.

Effendi juga menilai keberadaan kantor Setda di kawasan tersebut menjadi salah satu bentuk kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta.

Menurutnya, kerja sama tersebut diharapkan memberikan manfaat bagi kedua pihak, terutama masyarakat.

"Pemerintah mendapatkan tempat yang baik untuk bekerja dan memberikan pelayanan, sementara kawasan Grage City Hub juga akan semakin hidup karena menjadi salah satu pusat pergerakan masyarakat. Ini adalah bentuk kerja sama yang saling memberikan manfaat," ujarnya.

Minta Setda Tingkatkan Disiplin
Kepada seluruh jajaran Setda Kota Cirebon, Effendi berpesan agar perpindahan ke kantor baru diikuti perubahan semangat dan kualitas kerja.

Ia meminta jajaran Setda meningkatkan disiplin, mempercepat urusan administrasi, serta memberikan dukungan penuh kepada seluruh perangkat daerah.

"Kantor baru harus dibarengi dengan semangat kerja yang baru. Saya minta seluruh jajaran Setda meningkatkan disiplin, mempercepat urusan administrasi, dan memberikan dukungan penuh kepada perangkat daerah lainnya," tegasnya.

Ia berharap Setda dapat menjadi rumah koordinasi yang memastikan program pembangunan Kota Cirebon berjalan dengan baik dan tepat sasaran.

"Setda harus menjadi rumah koordinasi yang memastikan program-program pembangunan berjalan lancar, menyentuh kebutuhan masyarakat, dan tepat sasaran," katanya.

Grage Group: Jadi Rumah Bersama untuk Melayani Masyarakat
Sementara itu, CEO Grage Group, Dekon Gunawan Boediman, mengatakan pihaknya merasa terhormat dengan kehadiran kantor Setda Kota Cirebon di kawasan Grage City Hub.

Menurut Dekon, keberadaan kantor pemerintahan di kawasan tersebut menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

"Bagi kami, kehadiran kantor Sekretariat Daerah di sini merupakan suatu kehormatan. Kami melihat tempat ini sebagai rumah bersama untuk melayani masyarakat," ujar Dekon.

Ia menyebut kehadiran kantor Setda juga menjadi wujud nyata sinergi antara pemerintah dan pihak swasta dalam mendukung pembangunan Kota Cirebon.


Menurutnya, perpindahan kantor Setda bukan sekadar perubahan lokasi, tetapi harus memberikan dampak terhadap peningkatan pelayanan kepada masyarakat.


"Ini bukan sekadar pindah ruang kerja. Yang paling penting adalah bagaimana tempat ini bisa menjadi bagian dari upaya memastikan pelayanan kepada masyarakat berjalan maksimal dan roda pembangunan terus berputar. Kepentingan masyarakat tetap menjadi prioritas utama," katanya.

Dekon menambahkan, Grage Group ingin terus menjadi bagian dari perkembangan Kota Cirebon dengan membuka ruang kolaborasi bersama pemerintah maupun masyarakat.

"Kita ingin membangun kota ini bersama-sama. Pemerintah hadir untuk melayani, sementara pihak swasta mendukung melalui ruang dan sumber daya yang kami miliki. Semoga kolaborasi seperti ini bisa terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat," ungkapnya. (Wandi)
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Kabupaten Cirebon) - Program padat karya pembersihan saluran air digelar di sejumlah desa di Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon.

Kegiatan tersebut melibatkan masyarakat dan telah rampung membersihkan saluran air hingga sekitar 8 kilometer.

Kuwu Desa Keraton Muali mengatakan panjang saluran air di wilayah Desa Keraton dan desa-desa sekitar mencapai hampir 8 kilometer. Sebagian saluran juga telah dibersihkan secara swadaya oleh masyarakat.


“Programnya sih 4.000 sekian meter. Cuman karena sungai-sungai atau kali-kali di wilayah, khususnya Desa Keraton dan desa-desa sekitar itu kurang lebih hampir ada 8.000 meter. Dari pekerjaannya, ada swadaya dari masyarakat itu sekitar kurang lebih 2.000 atau 3.000 meteran,” kata Muali kepada wartawan, Selasa (11/8/2026).


Menurutnya, masyarakat merasa terbantu karena mendapat tambahan penghasilan dari kegiatan tersebut.

“Dan pada intinya sih pada tahun ini mudah-mudahan tidak lagi terjadi air melimpah ke pekarangannya masyarakat,” ujarnya. (Wandi)
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Kabupaten Cirebon) - Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Cirebon bahwa Peraturan Bupati (Perbup) Cirebon Nomor 22 Tahun 2024 tentang penetapan dan penegasan batas wilayah desa antara Desa Wanakaya dan Desa Kalisapu merupakan keputusan yang harus dipatuhi seluruh perangkat daerah maupun instansi terkait.

Kepala DPMD Kabupaten Cirebon, Iwan Ridwan Hardiawan, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa penerbitan Perbup tersebut bukan keputusan sepihak. Penetapan batas wilayah sebelumnya telah melalui proses kesepakatan antara kedua desa yang dituangkan dalam berita acara dan ditandatangani oleh pihak-pihak terkait.

“Pada prinsipnya, kalau pemerintah daerah sudah mengeluarkan satu kebijakan, yaitu Perbup Nomor 22 Tahun 2024, perlu diketahui kebijakan tersebut juga bermula dari kesepakatan antar pihak. Ada berita acara dan tanda tangan,” ujar Iwan, kepada wartawan, Selasa (11/8/2026).

Menurutnya, setelah kesepakatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Cirebon kemudian mengambil langkah administratif melalui penetapan Perbup sebagai dasar hukum batas wilayah kedua desa.

Dalam ketentuan tersebut, sebagian wilayah Blok Tenggeran yang sebelumnya menjadi bagian dari Desa Wanakaya ditetapkan masuk ke dalam wilayah administrasi Desa Kalisapu.


Iwan menegaskan, apabila setelah terbitnya Perbup masih ditemukan pelayanan administrasi yang belum menyesuaikan dengan batas wilayah baru, persoalan tersebut bukan lagi terkait dengan keabsahan keputusan batas desa.


Sebaliknya, hal tersebut merupakan persoalan tindak lanjut administratif yang harus segera diselesaikan oleh perangkat daerah maupun instansi terkait.

“Kalaupun dalam perjalanan ternyata ada pelayanan-pelayanan administratif yang belum sesuai dengan Perbup tersebut, dinas terkait, apakah itu kependudukan, pertanahan maupun perpajakan, harus mengikuti Perbup Nomor 22,” tegasnya. (Wandi)
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Kabupaten Cirebon) -  Institut Pertanian Bogor (IPB) terus mendorong pengembangan potensi masyarakat Desa Kalisapu, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon.

Upaya tersebut dilakukan melalui sejumlah kegiatan, mulai dari diversifikasi produk ikan bandeng, fasilitasi sertifikasi halal bagi pelaku UMKM, hingga pemanfaatan limbah cangkang kerang menjadi bahan campuran paving block.

Kegiatan tersebut digelar pada Sabtu (8/8/2026) di Kantor Kuwu Desa Kalisapu.

Program ini digagas melalui Lembaga Pengembangan AgroMaritim dan Akselerasi Intrapreneurship (LP2AI) IPB dengan melibatkan Pemerintah Desa Kalisapu, PKK, BPD, Babinsa, Bumdes, pelaku UMKM, mahasiswa KKNT IPB, serta masyarakat setempat.

Ketua Kelompok Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB di Desa Kalisapu, Faiz, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa bersama IPB untuk menggali sekaligus mengembangkan potensi lokal yang dimiliki Desa Kalisapu.


Menurutnya, salah satu potensi yang mendapat perhatian ialah limbah cangkang kerang yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.


"Limbah cangkang kerang tidak hanya dipandang sebagai sampah, tetapi juga dapat dimanfaatkan menjadi material yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi," ujar Faiz dalam kegiatan tersebut.

Ia menjelaskan, pemanfaatan cangkang kerang sebagai campuran pembuatan paving block diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengurangi limbah sekaligus membuka peluang inovasi produk berbasis potensi lokal.

Selain sektor lingkungan, kelompok KKNT IPB juga mendorong pengembangan UMKM melalui diversifikasi produk, khususnya olahan ikan bandeng yang menjadi salah satu potensi masyarakat Desa Kalisapu.

Faiz berharap pendampingan yang dilakukan bersama masyarakat tidak berhenti setelah program KKNT selesai.

Ia ingin masyarakat dapat melanjutkan inovasi tersebut sehingga menghasilkan produk yang memiliki manfaat ekonomi dan dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Sementara itu, Kuwu Desa Kalisapu, Suhana, menyambut baik kegiatan yang dilakukan IPB bersama masyarakat.

Menurut Suhana, kehadiran mahasiswa dan pihak IPB memberikan tambahan pengetahuan sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi desa yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.

Ia menilai pemanfaatan limbah cangkang kerang menjadi paving block merupakan inovasi menarik karena menyentuh dua aspek sekaligus, yakni pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Suhana juga berharap pendampingan terhadap pelaku UMKM, termasuk fasilitasi sertifikasi halal, dapat membantu meningkatkan kualitas serta daya saing produk masyarakat Desa Kalisapu.

"Dengan adanya pendampingan seperti ini, kami berharap UMKM di Desa Kalisapu semakin berkembang dan produk masyarakat memiliki nilai tambah serta legalitas yang lebih baik," kata Suhana.

Dorong Ekonomi Sirkular di Desa
Kegiatan IPB tersebut sekaligus memperkenalkan konsep pemanfaatan limbah menjadi produk yang memiliki nilai guna.


Cangkang kerang yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah diarahkan untuk dimanfaatkan sebagai salah satu bahan campuran pembuatan paving block.


Di sisi lain, pendampingan sertifikasi halal memberikan perhatian terhadap aspek legalitas sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk UMKM.

Kolaborasi antara IPB, Pemerintah Desa Kalisapu, mahasiswa KKNT, dan masyarakat diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun inovasi berbasis potensi lokal.

Program tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat berlanjut menjadi model pemberdayaan masyarakat yang menghubungkan pendidikan, inovasi, pengelolaan lingkungan, dan penguatan ekonomi desa. (Wandi)
AADD Biro Jasa STNK
Back To Top