Media Online di Cirebon Yang Inofatif dan Insipiratif
PT Dua Mata Sejahtera Sudah Kantongi Ijin Yang Syah
E satu.com (Cirebon) - Terkait adanya pemberitaan tentang dibongkarnya Situs Petilasan Pangeran Matangaji yang terletak di RT 1 RW 9 Kelurahan Karyamulya Kecamatan Kesambi Kota Cirebon, Dua Mata Regency (DMR) selaku pengelola proyek tersebut membantahnya.

Menurut Humas DMR, Rusdi, lahan yang sekarang dibongkar tersebut sudah mendapatkan izin yang sah. Apalagi, DMR merupakan developer yang kawasan berdasarkan izin yang sah, dan selama ini tidak bermasalah dengan warga sekitar.

Awalnya, lanjutnya, lahan di atas situs tersebut merupakan lahan milik H. Subekti. Pihak DMR pun berminat membeli lahan milik H. Subekti, karena pengurugan lahan.

"Tembok pembatas DMR sebelah timur justru terdampak longsor. Akhirnya DMR berminat membeli lahan milik H. Subekti agar longsoran tanah bisa teratasi sekaligus pengembangan kawsan, dengan syarat tidak ada persoalan dengan warga sekitar," jelasnya, Sabtu (15/2/2020).

Adapun tentang situs yang dibongkar, tambahnya, bukan merupakan situs keramat. Karena tidak tercatat resmi di situs-situs keraton, serta berada di lokasi tanah milik H. Subekti.

"Terbukti selama beberapa bulan, situs tersebut ditutup, sebelum ditawarkan ke DMR tidak ada komplain maupun keberatan dari warga," tuturnya.

Intinya, sambungnya, DMR tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan tersebut, karena selama ini DMR selalu membangun kawasan berdasarkan izin yang sah.( Pgh )
Media Online di Cirebon Yang Inofatif dan Insipiratif
Abaikan Situs Bersejarah Developer Nakal Tabrak  Aturan
E satu.com  ( Cirebon) - Developer nakal kembali bikin ulah dengan meratakan situs bersejarah yang harusnya dilindungi untuk pengtahua anak cucuc kita .

Namun sangat disayangkan, situs bersejarah yang seharusnya dijaga dan dirawat, justru dibongkar dan dijadikan sebagai kawasan perumahan. Hal tersebut terjadi di Situs Pangeran Matangaji yang terletak di RT 1 RW 09 Kelurahan Karyamulya Kecamatan Kesambi Kota Cirebon.

Situs yang terletak di bantaran sungai ini, sudah rata dengan tanah, dan kini sedang dalam proses pengolahan yang dilakukan oleh alat berat. Hal tersebut sudah berlangsung sejak 10 bulan yang lalu. Untuk menuju ke situs ini, harus melewati sebuah turunan yang curam menuju ke Sungai Situgangga, dan masih bisa diakses. Kini lokasi bekas situs sudah tidak bisa diakses karena tertutup tanah gundukan proyek.

Menurut salah satu warga yang namanya enggan disebutkan, dirinya melihat langsung proses pembongkaran situs tersebut. Dirinya merasa bersedih, karena situs bersejarah yang seharusnya dijaga dan dirawat, justru dibongkar seenaknya.

Dia menuturkan, situs tersebut kerap dikunjungi oleh orang-orang untuk berziarah. Karena menurut cerita dari sang nenek, di situs tersebut merupakan petilasan Pangeran Matangaji, Sultan ke V dari Kesultanan Kasepuhan Cirebon yang bertahta pada 1753-1773. Nama aslinya adalah Shafiudin. Dijuluki Matangaji karena beliau merupakan seorang Sultan yang matang dalam mengaji atau pandai dalam ilmu agama, sehingga disebut Matangaji.

Konon katanya, di situs tersebut Pangeran Matangaji menyembunyikan berbagai senjata yang dibuat untuk melawan penjajah Belanda (saat itu masih bernama VOC). Senjata tersebut awalnya dibuat diam-diam di Gua Sunyaragi. Karena ketahuan Belanda, akhirnya Pangeran Matangaji melarikan diri ke wilayah Sumber. Sebelum sampai, dia menyembunyikan terlebih dahulu senjata-senjata tersebut di Karyamulya. Sayangnya, situs tersebut kini rata dengan tanah.

"Dulunya di sini banyak yang berziarah, biasanya habis dari makam Sunan Gunung Jati langsung ke sini," jelasnya saat ditemui di rumahnya yang berdekatan dengan situs, Jumat (14/2/2020).

Saat situs tersebut dibongkar, dirinya pun tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi, dia tak tahu harus mengadu ke mana. Dia pun menyayangkan pihak developer yang hanya menjanjikan saja kepada warga sekitar. Sebelumnya, pihak developer berjanji akan membuat akses jalan menuju ke masjid yang ada di Jalan Swasembada yang ada di seberang sungai, karena kampungnya terbelah oleh Sungai Situgangga yang ada di situs.

"Sebelum ada perumahan, anak-anak pada ngaji ke masjid itu. Sekarang ketika mau dibikin perumahan, akses jalannya ditutup. Kami tidak bisa berbuat apa-apa," tuturnya.

Selain membongkar situs, proyek yang dikerjakan terbit terkesan tidak mempedulikan lingkungan sekitar. Setelah pembongkaran situs yang mayoritas ditumbuhi pohon bambu, developer membuang bambu yang sudah ditebang ke sungai. Hal ini membuat kampung di RT 1 RW 09 Kelurahan Karyamulya menjadi kebanjiran. 

Menurut Litbang RW 09, Casma, hujan besar yang membasahi Kota Cirebon beberapa hari lalu, membuat banjir di wilayahnya. Hal ini dikarenakan bantaran sungai Situgangga di sisi bekas situs, ditinggikan dan ditutupi oleh bekas bambu. Akibatnya, air meluap ke sisi kampung, dan merendam hingga sedada orang dewasa. 

"Beberapa rumah yang ada di dekat sungai terendam semua," jelasnya. 


Sayangnya, lanjutnya, belum ada bantuan terkait banjir tersebut dari pihak developer. Bahkan pasca banjir saja, pihak developer sama sekali belum mengulurkan tangannya. Casma pun pernah menegur ke mandor proyek. Namun dia hanya diberi tahu agar melapor saja ke pihak developer.

"Kita berharapnya ada kompensasi dari pihak developer saja, supaya warga kampung sini tidak merasa dirugikan dengan adanya pembongkaran di bantaran sungai," pungkasnya.(Naim)
Media Online di Cirebon Yang Inofatif dan Insipiratif
Pemindahan Tahanan Solusi Mengurangi Over Capacity Di Rutan Kelas 1 Cirebon
E satu.com (Cirebon) - Over Capacity yang dirasakan oleh kebanyakan Lapas maupun Rutan menjadi permasalahan yang harus di Carikan solusinya untuk tetap menjaga ras manusia terhadap penghuninya.

50 narapidana penghuni Rumah Tahanan (Rutan) kelas 1 Cirebon dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas IIa Kuningan. Pemindahan tersebut dilakukan sebagai salah satu cara untuk mengurangi jumlah napi yang saat ini sudah over capacity atau kelebihan kapasitas.

“Jumlah saat ini ada sebanyak 574 warga binaan, sementara kapasitas di sini idealnya hanya bisa menampung sekitar 150 orang” ungkap Kepala Rutan Kelas 1 Cirebon, Fonika Afandi kepada kantor Berita RMOL Jabar, Kamis (13/2) malam.

Ia mengatakan, pada prosesnya, setiap narapidana yang akan dipindahkan, sebelumnya dikelompokkan menjadi tiga kategori, yakni minimum security, medium scurity, dan maksimum security.

“50 orang yang dipindahkan merupakan napi yang masuk ke dalam kategori pelaku tindak pidana umum dengan hukuman rata-rata di bawah 5 tahun”, katanya.

Fonika menjelaskan, alasan dipilihnya Lapas kelas IIa Kuningan sebagai tempat pemindahan para napi tersebut, tidak lain agar mereka dapat lebih dekat dengan keluarga. Karena kata Fonika, keberhasilan suatu pembinaan sangat diperlukan adanya peran dan dukungan dari pihak keluarga.

“Kita pindahkan ke Kuningan, karena para napi atau warga binaan ini rata-rata keluarganya di Kuningan. Jadi ini pun upaya kami untuk lebih mendekatkan mereka dengan keluarganya”, Ungkapnya (Pgh)