Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif
E satu.com (Cirebon) - Komunitas Advokat Spiritual Cirebon (KASBON) mengajak masyarakat memaknai Rebo Wekasan bukan sekadar sebagai tradisi, tetapi sebagai momentum untuk introspeksi, mawas diri, meningkatkan rasa syukur, dan memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT.
Ketua KASBON, Qorib Magelung Sakti, mengatakan kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari berbagai ujian, termasuk musibah, mara bahaya, maupun bencana alam.
Karena itu, menurutnya, momentum Rebo Wekasan dapat menjadi pengingat agar manusia tidak hanya mengandalkan kemampuan dirinya, tetapi juga senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT.
"Rebo Wekasan bagi kami adalah sebuah pesan moral. Momentum ini mengajak kita untuk selalu introspeksi dan mawas diri terhadap berbagai mara bahaya, musibah, maupun bencana alam yang dapat menimpa kehidupan kita," kata Qorib.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Menurutnya, kerusakan lingkungan, keserakahan, dan kelalaian manusia harus menjadi pelajaran agar manusia kembali memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, sesama manusia, dan alam sekitar.
"Kita harus meningkatkan rasa syukur dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Jangan sampai tradisi hanya menjadi seremonial, tetapi kehilangan makna terdalamnya, yaitu mengingat Allah, memperbaiki diri, memperbanyak doa, memperkuat kepedulian sosial dan menjaga alam," ujarnya.
Basuh Raga, Basuh Jiwa
Dalam memaknai Rebo Wekasan, KASBON juga menyoroti istilah basuh raga sebagai simbol pembersihan diri secara lahir dan batin.
Basuh raga tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan membersihkan tubuh.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi simbol untuk membersihkan hati dari kesombongan, pikiran dari prasangka buruk, serta memperbaiki perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Qorib menegaskan, seluruh ikhtiar spiritual tetap harus ditempatkan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT.
"Basuh raga adalah simbol. Yang paling penting adalah bagaimana kita mampu membasuh hati, pikiran dan jiwa. Kita melakukan ikhtiar, berdoa dan bertawakal kepada Allah SWT," katanya.
Rebo Wekasan Bukan untuk Menakut-nakuti
KASBON juga mengingatkan masyarakat agar tidak memahami Rebo Wekasan secara berlebihan atau menjadikannya sebagai momentum untuk menebarkan ketakutan.
Sebaliknya, Rebo Wekasan dapat dimaknai sebagai momentum untuk bermuhasabah, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, mempererat silaturahmi, meningkatkan kepedulian terhadap sesama, serta menjaga kelestarian lingkungan.
Menurut Qorib, musibah dan bencana harus menjadi bahan evaluasi bersama, baik dari sisi spiritual maupun rasional.
Masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana melalui ikhtiar nyata, seperti menjaga lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, menjaga hutan dan sumber air, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Di momentum Rebo Wekasan, KASBON mengajak masyarakat Cirebon untuk meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT, memperkuat iman dan ketakwaan, serta melakukan introspeksi dan muhasabah diri.
Selain itu, masyarakat diajak meningkatkan kewaspadaan terhadap mara bahaya dan bencana, menjaga alam sebagai amanah Allah SWT, memperbanyak doa, dzikir dan amal kebaikan, serta mempererat silaturahmi dan kepedulian sosial.
Tradisi Rebo Wekasan, kata KASBON, hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Tradisi tersebut dapat menjadi sarana mengambil hikmah dan memperbaiki diri.
Qorib pun menyampaikan refleksi terkait makna Rebo Wekasan.
"Jangan takut kepada hari, tetapi takutlah ketika kita kehilangan kesadaran untuk memperbaiki diri. Rebo Wekasan hendaknya menjadi pengingat bahwa hidup adalah perjalanan untuk terus bersyukur, berikhtiar, bermuhasabah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT," pungkasnya. (Wandi)





















.webp)












