E satu.com (Cirebon) - Dalam ajaran Islam, kemuliaan seseorang tidak diukur dari kekayaan, jabatan, maupun popularitas, melainkan dari sejauh mana ia memberi manfaat bagi orang lain. Prinsip tersebut ditegaskan dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR Ahmad, Ath-Thabrani, dan Ad-Daruquthni).
Hadits tersebut kembali mengingatkan umat Islam bahwa esensi kebaikan tidak hanya terletak pada kesalehan personal melalui ibadah ritual, tetapi juga pada kesalehan sosial yang tercermin dalam kepedulian, empati, serta tindakan nyata membantu sesama.
Ketua Wardang Petik, Muslimin, menjelaskan bahwa makna “memberi manfaat” memiliki cakupan yang sangat luas. Manfaat tidak semata-mata berbentuk bantuan materi atau harta, tetapi juga dapat berupa ilmu yang dibagikan, tenaga yang dicurahkan, waktu yang diluangkan, hingga sikap dan tutur kata yang menenangkan serta membangun.
“Bahkan senyum tulus dan upaya mencegah keburukan termasuk bentuk manfaat yang bernilai ibadah. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang harus saling memberi manfaat,” ujar Muslimin dalam wawancarannya, Kamis (18/12/2025).
Ia menegaskan, di tengah kehidupan modern yang kerap mengukur kesuksesan dari jabatan dan kekayaan, pesan Nabi Muhammad SAW tersebut menjadi pengingat penting. Menurutnya, jabatan hanyalah amanah sementara dan harta merupakan titipan Allah SWT yang tidak akan bernilai jika tidak digunakan untuk kemaslahatan umat.
“Nilai sejati seseorang terletak pada dampak positif yang ia berikan kepada orang lain, baik melalui hal besar maupun kecil. Kebaikan yang diberikan akan kembali kepada diri kita sendiri dalam berbagai bentuk yang tidak terduga, sesuai janji Allah SWT dalam Al-Qur’an tentang balasan kebaikan,” katanya.
Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, hadits tersebut juga mendorong lahirnya individu-individu yang berorientasi pada pelayanan dan pengabdian. Semangat saling menolong, gotong royong, serta solidaritas sosial dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun peradaban yang berkeadilan dan beradab.
Dengan menjadikan kebermanfaatan sebagai tujuan hidup, setiap orang memiliki peluang yang sama untuk menjadi manusia terbaik tanpa harus menunggu kaya atau memiliki jabatan tinggi. Sebab, di sisi Allah SWT, kemuliaan diukur dari ketakwaan dan sejauh mana kehadiran seseorang membawa kebaikan bagi sesama.
“Menjadi orang yang bermanfaat adalah jalan hidup yang bermakna, mencerminkan ajaran agama sekaligus membangun hubungan sosial yang positif,” pungkas Muslimin. (Wandi)








.webp)












Post A Comment:
0 comments: