AKB


E satu.com
- Harapan para siswa untuk bisa belajar secara langsung di sekolah bersama guru dan teman-teman sekelas, nampaknya masih belum bisa terwujud di tahun ajaran baru ini. Pasalnya pandemi covid-19 belum juga berakhir, bahkan akhir-akhir ini jumlah kasus yang positif justru mengalami peningkatan signifikan. Padahal, hanya tinggal beberapa minggu lagi para pelajar di semua jenjang pendidikan mulai memasuki tahun ajaran baru.

Pandemi yang berkepanjangan ini tak ayal membuat masyarakat bimbang. Terlebih saat upaya pemerintah yang belum juga menampakan hasil yang memuaskan, menambah kekhawatiran masyarakat. Status siaga 1 yang kembali diberlakukan terhadap beberapa wilayah seperti Kota Bandung, Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat semakin menguatkan spekulasi belum efektifnya penanganan pandemi virus Corona selama ini.

Keinginan besar para siswa dan guru untuk bisa PTM bukanlah tanpa alasan. Selama proses pembelajaran secara daring para siswa dan guru banyak menemui kendala, hingga sampai pada kesimpulan bahwa pemebelajaran luring jauh lebih efektif daripada daring. Jika sudah begini, belum efektifnya penanganan pandemi akhirnya mau tidak mau berimbas pula pada proses dalam mencetak generasi yang berkualitas. Sungguh sayang jika masa depan generasi pun harus tergadaikan.

Menyoal pandemi yang berlarut ini, disinyalir tidak terlepas dari penerapan sistem Kapitalisme - Demokrasi yang keliru menyikapi pandemi, sehingga membuat pandemi covid-19 terus berlajut hingga sekarang. Panjangnya durasi pandemi serta banyaknya korban yang berjatuhan harusnya bisa membuat mata kita jernih dalam melihat persoalan. Bahwa solusi tambal sulam yang selama ini diberlakukan tidak lah solutif, justru semakin memperkeruh situasi.

Mirisnya, ada pula pihak yang tampak saling bersaing mencari keuntungan dari keadaan. Hingga sektor kesehatan pun dimanfaatkan sebagai target bisnis kesehatan beromzet superbesar.

Belum lagi dengan opsi dibukanya kembali tempat pariwisata demi pemulihan ekonomi. Alih-alih meningkatkan ekonomi yang lesu karena pandemi, yang terjadi justru timbulnya kluster-kluster baru akibat kerumunan dan abainya prokes di tempat wisata. Jelaslah, bahwa berharap pada sistem kapitalisme ibarat pungguk merindukan bulan hanya akan berakhir pada kekecewaan.

Namun, akan jauh berbeda penanganan wabah atau pandemi dalam konsep Islam. Karena sungguh untuk mengakhiri pandemi butuh sistem yang tegak di atas asas yang benar. Yakni berupa keyakinan, bahwa manusia, alam semesta, dan kehidupan diciptakan oleh Zat Yang Mahasempurna, Mahatahu, Mahaadil, dan Maha Menetapkan Aturan.

Secara logis dapat dipahami bahwa wabah tak akan mengglobal jika sejak awal si sakit segera diisolasi. Begitu pun dengan pintu-pintu penyebarannya, baik di negara atau wilayah asal maupun di wilayah penularan, semuanya juga harus segera dikunci.

Strategi mengunci ini dalam Islam justru merupakan tuntunan syar’i. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., yang artinya, “Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat, maka janganlah memasukinya, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu ada di tempat itu, maka janganlah keluar darinya.” (HR Imam Muslim).

Disisi lain, bersamaan dengan proses ini, negara tentu wajib men-support segala hal yang dibutuhkan agar wabah segera dieliminasi. Mulai dari dukungan logistik, fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, obat-obatan, alat test, vaksin, dan lain-lain. Bahkan negara wajib memastikan kebutuhan masyarakat selama wabah tetap tercukupi. Negara atau penguasa tak boleh membiarkan masyarakat menantang bahaya hanya karena alasan ekonomi.

Di sinilah negara akan mengelola sumber-sumber keuangan yang ada, termasuk harta milik umum di kas negara untuk memenuhi hajat hidup masyarakat, khususnya mereka yang terdampak agar kesehatan mereka terjaga dan imunitasnya tinggi. Tentu tanpa iming-iming syarat atau prosedural yang memberatkan.

Selain itu, Edukasi dan riset akan di dukung penuh oleh negara sebagai wujud tanggung jawab kepemimpinan mengurus dan menjaga umat. Keduanya bersinergi dengan penerapan aturan lain yang semuanya ada dalam kontrol negara.

Terkait riset, negara akan mendukung penuh upaya menemukan obat atau vaksin yang dibutuhkan. Caranya, negara akan mengerahkan semua potensi yang dimiliki, mulai dari para pakar, perguruan tinggi, lembaga-lembaga penelitian, hingga pendanaan yang memadai yang berasal dari kas negara alias baituk mal.

Pun yang berkaitan dengan edukasi kepada masyarakat. Maka, negara akan memastikan tak boleh ada satu pun masyarakat yang tak paham apa yang sedang terjadi, sehingga mereka membahayakan orang lain dan dirinya sendiri. Maka, seluruh kanal media yang dimiliki akan dioptimalkan untuk membangun kesadaran umat ini dengan kesadaran berbasis akidah.

Masyarakat akan terus-menerus diajak berpartisispasi melakukan apa pun yang bisa membantu wabah segera teratasi. Seperti dengan taat menjalankan protokol kesehatan, yang dalam Islam dinilai sebagai bentuk ketaatan pada kepemimpinan.

Melalui mekanisme yang benar dalam mengatasi pandemi, tentu akan efektif juga dalam penanggulangannya. Hingga pandemi tidak akan berlarut-larut seperti saat ini. Masa depan generasi akan terselamatkan begitupun sektor-sektor penting lainnya. Maka benarlah bahwa Islam adalah solusi hakiki yang justru sangat dibutuhkan hari ini. Hal ini sejalan dengan hakikat syariat Islam sebagai solusi kehidupan yang patut di implementasikan secara nyata... Wallahu'alam  (Opini Dari Lilis Suryani)

Post A Comment:

0 comments: