AKB


E satu.com (Cirebon)
- Anggota Kompi 1 Batalyon C Pelopor kali ini sasaranya adalah ruko-ruko penjual sembako, Covid-19 yang menyerang Indonesia saat ini telah mengubah banyak hal yang berkaitan dengan kepekaan khususnya perilaku manusia. Dalam menghadapi situasi seperti ini, perilaku seseorang dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari harus berubah dan beradaptasi di tengah krisis ketidakpastian. Saat kondisi seperti ini seseorang tidak akan tahu dengan cepat siapa saja yang terpapar oleh virus, tidak mengetahui apakah dirinya sehat atau terjangkit, bahkan tidak pernah tahu sampai kapan orang tersebut hidup.

Ditempat terpisah Komandan Satuan Brimob Polda Jawa Barat Kombes Pol.Yuri Karsono, S.I.K. Mengatakan "Panic buying adalah perilaku yang terjadi akibat kekhawatiran terhadap ketidakpastian yang menyebabkan manusia menimbun apapun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya." Teori psikologi menjelaskan Panic buying sebagai respons manusia untuk bertahan hidup. Sejak, isu covid-19 merebak di Indonesia, terjadi serbuan di pasar dan swalayan. Masyarakat membeli sebanyak-banyaknya kebutuhan pokok, seperti beras, gula, minyak goreng, telur, mie instan, dan kebutuhan pokok lainnya. Tidak hanya kebutuhan tersebut yang diburu oleh masyarakat, produk kebersihan diri, kebersihan rumah tangga, masker, handsanitizer, dan antiseptic gel menjadi barang langka di pasar. Kelangkaan dan tingginya produk-produk tersebut, membuat harga jualnya meningkat.

Menurut Bripka Nurhadianto Panic buying yaitu teori yang melihat tingkah laku seseorang yang bergerak secara terdesak tanpa adanya komando atas dasar kehilangan kontrol diri. di saat manusia tak lagi punya kendali atas lingkungannya, mereka akan berupaya sebisa mungkin untuk memiliki kendali. Membeli kebutuhan pokok dan menimbunnya jadi semacam cara untuk manusia memiliki kendali untuk bertahan hidup.

Menututnya "Panic buying ini bisa terjadi disebabkan 4 (empat) hal yang menyebabkan munculnya fenomena Panic buying. Pertama, terjadi karena ketidakpastian atas situasi krisis yang dialami. Kedua, aksi Panic buying dilakukan untuk meminimalisir risiko dari kemungkinan penderitaan secara emosional dan fisik. Ketiga, Panic buying dipengaruhi oleh penularan emosi saat melihat orang lain melakukan pembelanjaan dalam jumlah banyak di tengah situasi krisis. Terakhir, setelah melakukan Panic buying seseorang merasa adanya ketenangan telah menimbun kebutuhan dan dirumuskan dengan hadirnya asumsi “semua terkendali”.

Kondisi seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Bahkan terjadi di berbagai negara yang terdampak corona, akibatnya justru harga barang-barang melonjak tajam, dan terjadinya inflasi yang berlebih, untuk itu "mari kita jaga kondusifitas negara ini dengan tidak memborong barang terutama kebutuhan pokok," ungkap Bripka Nurhadianto.(wnd)

Post A Comment:

0 comments: