AKB



E satu.com
 - Sebuah slogan yang sering dilontarkan oleh masyarakat ketika musim pemilihan Kuwu / PILWU dan ini mindset yang sudah menjadi budaya di kehidupan masyarakat. Padahal jika masyarakat sadar bahwa mereka yang menjadi Kuwu atau kepala desa karena peran serta masyarakat yang memilih bukan karena ujug-ujug jadi Kuwu tanpa pemilihan. Sadar ataupun tidak sadar bahwa munculnya pemikiran semacam itu dikarenakan masyarakat sudah jengah atau bosen kepada Kuwu, yang tidak memperdulikan kepentingan masyarakat banyak akan tetapi lebih kearah kepentingan Kuwu atau kelompoknya saja dan ini yang membentuk mindset/ pola pikir masyarakat.

Pemikiran masyarakat semacam itu harus dirubah jika masyarakat menginginkan sebuah perubahan yang nantinya berdampak di kehidupan sehari-hari. Jika menginginkan pemimpin yang bijak maka masyarakat juga harus bisa bijak dalam memilih calon pemimpin karena awal sebuah perubahan itu dari diri kita sendiri.

Money politik sudah tak asing dalam pemilihan Kuwu atau kepala desa dan lagi-lagi masyarakat menjadi objek dari tim sukses para calon, maka masyarakat harus sadar ketika kita mudah untuk di suap atau diberi uang untuk mencoblos salah satu calon itu artinya kita sendiri yang merusak tatanan kehidupan bermasyarakat dan slogan "DADI SIH DADI DEWEK" itu yang menciptakan masyarakat sendiri. 

Masyarakat harus terima ketika jalanan rusak, drainase yang tersumbat atau sampah yang berserakan di jalan-jalan itu karena kita sendiri sebagai masyarakat yang belum bijak dalam memilih calon pemimpin. Masyarakat harus sadar bahwa uang yang seharusnya digunakan untuk pembangunan, kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat pada akhirnya di korup oleh pemimpin yang terpilih untuk membayar hutang terlebih dahulu dan sangat mustahil untuk kepentingan masyarakat banyak.

Pembangunan Desa yang seharusnya sesuai Standar Operasional Prosedur maka itu tidak terjadi karena mungkin sebagian uangnya akan di korup untuk menutupi ongkos politik pada waktu pencalonan. Sudah saatnya masyarakat sadar dan bijak dalam memilih calon pemimpin bukan karena sudah dikasih uang, nasi lengko, rokok ataupun sejenisnya pada akhirnya kita tidak enak jika tidak memilihnya.

Ini tentang 5 tahun kedepan bukan tentang hari ini ataupun besok akan tetapi ini tentang sebuah kemajuan desa dan kesejahteraan masyarakat kedepannya, jangan sampai tergadai oleh rasa tidak enak karena sudah dikasih uang atau semacamnya dan akhirnya menyesali hasil pilihannya.

Oleh : Warsono
Baca Juga

Post A Comment:

0 comments:

Back To Top