E satu.com (Kabupaten Cirebon) - Polres Cirebon Kota bersama Pemerintah Kabupaten Cirebon, dan unsur Forkopimda kabupaten Cirebon melakukan peninjauan langsung ke kawasan objek wisata religi Makam Sunan Gunung Jati, Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Rabu (6/8/2025), guna menertibkan aktivitas pengemis dan peminta kotak amal yang dinilai meresahkan pengunjung.
Peninjauan ini dipimpin langsung oleh Bupati Cirebon, Drs. H. Imron, M.Ag., didampingi Kapolres Cirebon Kota AKBP Eko Iskandar, Dandim 0620 Letkol Inf Mukhammad Yusron, Kajari Yudhi Kurniawan, Ketua DPRD Sophi Zulfia, serta sejumlah pejabat terkait lainnya.
Kapolres Cirebon Kota, AKBP Eko Iskandar mengatakan, pihaknya tengah melakukan penyelidikan terkait dugaan adanya sindikat yang mengatur keberadaan para pengemis di kawasan tersebut.
" Kami menduga ada pengkondisian atau mobilisasi secara sistematis. Jika terbukti ada yang memberdayakan anak - anak untuk mengemis, akan kami proses dengan hukum yang berlaku, termasuk dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO)," tegas AKBP Eko Iskandar.
Berdasarkan pendataan, sedikitnya ada sekitar 300 pengemis yang beraktivitas di kawasan tersebut. Namun, jumlah ini dinamis dan bisa berubah sewaktu - waktu.
Guna memastikan kondisi tetap terkendali, personel gabungan dari Polres Cirebon Kota, Kodim 0620 kabupaten Cirebon, dan Satpol PP kabupaten Cirebon disiagakan setiap hari.
" Setiap harinya ada 6 personel dari Polri, 5 dari TNI, dan 30 dari Satpol PP kabupaten Cirebon yang berjaga. Jumlah ini bisa disesuaikan tergantung eskalasi di lapangan," ujarnya.
Sementara itu, Menurut Bupati Imron, penertiban ini merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah daerah dalam menjaga kenyamanan dan keamanan kawasan wisata religi yang menjadi ikon spiritual dan budaya Kabupaten Cirebon tersebut.
“Kami mendapat banyak masukan dari masyarakat, bahwa banyak peziarah merasa tidak nyaman karena adanya pemaksaan untuk mengisi kotak amal. Ini tidak bisa dibiarkan. Kawasan ini harus nyaman, aman, dan tertib untuk semua,” ujar Imron.
Bupati juga menegaskan bahwa praktik pemaksaan oleh para pengemis dan peminta amal tersebut tidak hanya mengganggu peziarah, tetapi juga berdampak pada para pelaku usaha setempat.
“Tadi saya berbicara langsung dengan pedagang di sekitar makam. Mereka mengeluhkan turunnya minat belanja dari pengunjung karena merasa terganggu oleh banyaknya pengemis dan pengamen,” ungkapnya.
Pemerintah daerah juga telah berkoordinasi dengan pihak Keraton Kanoman guna memastikan penertiban berjalan baik. Imron menyebut kondisi kawasan makam kini mulai tertib dibandingkan minggu-minggu sebelumnya.
Dari hasil pendataan, mayoritas pengemis yang beroperasi di sekitar makam diketahui bukan berasal dari Kabupaten Cirebon.
“Sebagian besar dari luar daerah. Ini menjadi perhatian kami karena jumlahnya tidak sedikit,” ungkap Imron.
Imron menambahkan, bahwa kawasan Makam Sunan Gunung Jati saat ini tidak masuk dalam sektor Pendapatan Asli Daerah (PAD), meskipun tingkat kunjungannya tinggi, dengan estimasi sekitar satu juta penziarah setiap bulannya.
" Karena itu, kami ingin memastikan bahwa kawasan ini tetap tertib dan nyaman, tanpa ada praktik - praktik yang meresahkan," pungkasnya. (Wandi)










.webp)










Post A Comment:
0 comments: