Pada Kamis (24/07/2025), Kementerian Agama Republik Indonesia meluncurkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai wajah baru pendidikan Islam yang lebih humanis, inklusif, dan spiritual. Diketahui bahwa, kurikulum ini hadir sebagai respons terhadap krisis kemanusiaan, intoleransi, dan degradasi lingkungan yang semakin mengkhawatirkan. KBC dibangun di atas lima nilai utama yang disebut Panca Cinta, yaitu Cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa, cinta kepada diri dan sesama, cinta kepada ilmu pengetahuan, cinta kepada lingkungan, serta cinta kepada bangsa dan negeri (khazanah.republika.co.id, 26/07/2025).
Kurikulum Berbasis Cinta juga memberi ruang pembaruan dalam pendidikan agama yang tidak hanya berhenti pada aspek ritual dan hafalan. Melalui kurikulum itu nantinya diharapkan lahir generasi yang tidak hanya taat beragama, melainkan juga mampu hidup damai dalam keragaman. Pendidikan yang berlandaskan cinta akan membentuk pribadi yang tidak mudah terprovokasi oleh perbedaan (m.antara.com, 25/7/2025).
Menarik, itulah kata pertama setelah mendengar peluncuran Kurikulum Berbasis Cinta dengan Panca Cintanya. Bagaimana tidak, KBC seolah hadir menjadi solusi di tengah kegundahan masyarakat. Poin kedua pada Panca Cinta tak kalah menarik perhatian, "Cinta kepada diri dan sesama". Dengan poin tersebut diharapkan melahirkan generasi yang mampu hidup damai dalam keberagaman. Mencintai sesama manusia dengan sama rata, termasuk kepada yang beragama muslim ataupun non-muslim. Bagaimana dengan seseorang yang terang-terangan menyerang dan memusuhi? Haruskah tetap dicintai?
Secara universal, cinta ditunjukkan sebagai sikap kemanusiaan. Sikap ini ditampilkan sebagai pilihan untuk tidak membalas kebencian dengan kebencian, bukan berarti menerima atau membenarkan tindakan permusuhan. Dalam hal ini, mencintai musuh berarti menjaga martabat diri dengan tidak jatuh ke dalam lingkaran balas dendam.
Lalu, bagaimana Islam memandang hal tersebut? Dalam Islam, seorang muslim tentunya senantiasa bersikap/berperilaku sesuai dengan aturan Allah Swt. Sang Pencipta. Islam juga memiliki konsep Cinta dan Benci, yaitu Cinta dan Benci karena Allah. Konsep Cinta dan Benci ini akan menuntun seorang muslim dalam bersikap. Berbeda dengan konsep cinta yang universal, cinta karena Allah adalah perasaan cinta seorang hamba Allah karena keimanan dan ketaatannya kepada Allah.
لا يجد أحد حلاوة الإيمان حتى يحب المرء لا يحبه إلا لله...
"Siapa pun tidak akan merasakan manisnya iman hingga ia mencintai seseorang tidak karena yang lain kecuali karena Allah semata." (Hadist dari Anas bin Malik yang dikeluarkan oleh al-Bukhari)
Jika seorang muslim mencintai atas dasar keimanan dan ketaatan, maka seorang muslim akan membenci seseorang karena kekufuran dan perbuatan maksiat yang dilakukan oleh seseorang tersebut. Dalam hal ini, Islam membangun rasa cinta dan benci atas dasar yang jelas, bukan serta merta meratakan suatu perasaan dan perilaku. Secara tidak langsung Islam berupaya menegakkan sebuah keadilan dalam bermasyarakat.
Tidak cukup sampai disitu, karena dalam Islam kehidupan seorang non-muslim juga dapat terjamin. Kafir adalah sebutan lain dari non-muslim. Dalam Islam kafir terbagi menjadi beberapa kategori, diantaranya kafir harbi fi'lan, kafir musta'min, kafir mu'ahid, dan kafir dzimmi.
Kafir harbi fi'lan, kafir yang wajib diperangi, karena tampak memusuhi dan menyerang kaum Muslimin. Kafir musta'min, kafir yang masuk ke wilayah negeri kaum Muslimin dan mendapatkan jaminan keamanan. Kafir mua'hid, kafir yang tinggal di negeri mereka sendiri, namun memiliki perjanjian dengan kaum Muslimin. Mereka berhak atas apa yang ada di perjanjian selama berpegang teguh pada janji dan tidak membantu musuh kaum Muslimin. Sementara, kafir dzimmi adalah kafir yang hidup Damai di negeri kaum muslimin dengan terikat perjanjian (dhimmah), seperti membayar jizyah (pajak perlindungan).
Dengan demikian, KBC yang terlihat seperti menyelesaikan solusi, malah akan menyebabkan permasalahan baru. Hal ini akan memunculkan sikap toleransi yang berlebihan. Sesuatu yang berlebih itu tidak baik, dan sikap toleransi yang berlebihan ini dapat membahayakan sampai bisa mengecam keberadaan toleransi itu sendiri. Generasi yang digaungkan menjadi generasi emas akan menjadi generasi sekuler, jauh dari aturan Islam. Jelas, dalam Islam, sekulerisme adalah pemahaman yang salah.
Di sisi lain, pendidikan menurut KBBI adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Tentunya Islam pun telah mengatur dalam bidang pendidikan. Dalam hal ini, kurikulum pendidikan haruslah berlandaskan aqidah Islam bukan yang lain. Aqidah Islam merupakan keyakinan dasar seorang muslim yang mencangkup lima rukun Islam, diantaranya iman kepada Allah Swt., iman kepada Malaikat, iman kepada Kitab-kitab Allah, iman kepada Rasulullah, iman kepada hari akhir, serta iman kepada qada dan qadar.
Selain itu, Aqidah ini harus tercermin dalam perilaku/perbuatan sehari-hari seorang muslim. Jika aqidahnya kuat, maka seseorang tersebut akan melahirkan ketaatan dan totalitas dalam melaksanakan syariat Allah. Dengan begitu, seseorang juga akan mampu menyelesaikan segala permasalahan dalam kehidupannya, termasuk masalah krisis kemanusiaan. Dalam hal ini, Negara memiliki kewajiban dalam menjaga akidah masyarakat, bukan hanya menjadikan aqidah Islam sebagai kurikulum namun juga menjadikannya sebagai asas negara. Wallahualam bishawab.
Penulis : Memi Mirnawati (Mahasiswi)








.webp)










Post A Comment:
0 comments: