E satu.com (Kota Cirebon) - 23 September 2025 – Puluhan mahasiswa dari berbagai fakultas di Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon mendatangi Kampus Utama UGJ, pada malam Selasa (22/09), menuntut pihak rektorat untuk mengevaluasi hasil Pemilihan Umum Raya (Pemira) Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahaiswa (BEM KM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) KM UGJ yang baru saja digelar.
Aksi yang berlangsung tertib yang diwarnai pembakaran ban di Tengah jalan Pemuda dengan penuh emosi menyoroti dugaan kuatnya muatan politik praktis dan intervensi dari pihak tertentu dalam proses demokrasi kampus tersebut.
Aksi dimulai pada malam hari di depan gerbang Kampus Utama UGJ. Para pengunjuk rasa menyampaikan berbagai orasinya yang menuntut Rektorat untuk turun tangan dan menyampaikan sejumlah temuan yang diduga menjadi penyebab ketidakmurnian proses Pemira.
Koordinator aksi, Muhamad Alif Furqon, menyatakan bahwa Pemira kali ini diwarnai dengan praktik yang tidak sehat. "Kami menemukan indikasi kuat adanya kampanye hitam, sosialisasi yang tidak sampai, adanya dugaan untuk kepentingan tertentu di luar kampus, dan bahkan adanya dugaan money politic. Ini jelas merusak nilai-nilai edukasi dalam berdemokrasi," tegasnya di depan para demonstran.
Furqon menambahkan, salah satu kandidat diduga kuat mendapat dukungan dan "arahan" dari jaringan politik luar kampus yang ingin membangun basis massa untuk kepentingan tertentu. "Ini berbahaya. Kampus harus menjadi oase netralitas, bukan ladang pembibitan politik praktis".
Kami mendesak rektorat membentuk tim independen untuk mengaudit seluruh proses Pemira, dari masa kampanye hingga penghitungan suara," paparnya.
Sementara itu, pihak rektorat UGJ yang diwakili oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Dr. H. Komarudin, Drs., M.Pd., akhirnya menemui perwakilan mahasiswa. Dalam dialog tersebut, Bapak Koamrudin menyatakan akan menindaklanjuti keluhan tersebut dengan memfasilitasi audiensi dengan PPUM KM, Panwaslu KM, dan para Dekan Fakultas yang tidak kooperatif dalam menyampaikan edaran dari Universitas mengenai Pemira.
Aksi tersebut berakhir setelah mahasiswa ditanggapi dan mendapatkan janji respons dari pihak rektorat. Suasana tegang namun tetap kondusif hingga aksi bubar. Para mahasiswa akan menggelar aksi yang lebih besar jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.
Insiden ini kembali memantik perbincangan tentang kerentanan dunia kampus terhadap infiltrasi kepentingan politik praktis, yang dikhawatirkan dapat mengikis independensi dan nilai-nilai keilmuan perguruan tinggi. (MLK)









.webp)













Post A Comment:
0 comments: