E satu.com - Belajar memahami dan menghargai jejak-jejak peninggalan sejarah memang tidak semudah memakan gorengan sambil minum es di siang bolong. Betapa hidup bagaikan mantan kekasih yang menyisakan puing-puing kenangan masa silam karena pernah ada. Oh, betapa menyakitkan.
Namun, itu semua hanya perumpamaan bagaimana keberadaan sesuatu akan terasa lebih berarti apabila telah tiada. Maka, hanya sejumput cindera mata sebagai pengingat bahwa pada masanya pernah berharga.
Sekilas seperti lirik lagu raja dangdut Rhoma Irama: "Kalau sudah tiada, baru terasa. Bahwa kehadirannya sungguh terasa..." Tapi, ini bukan soal mantan. Ini soal bangunan bersejarah peninggalan Kolonial Belanda yang sempat numpang mandi dan berak juga mendirikan bangunan ala-ala arsitek mereka di tanah Cirebon ini. Cirebon menjadi tempat jajahan para kompeni-kompeni yang haus akan rempah-rempahnya. Apalagi terasinya. Uh! Mantap!
Baiklah, kali ini mari kita berangkat ke Jalan Yos Sudarso yang banyak berdiri beberapa bangunan tua tetapi masih terlihat kokoh dan angkuh meskipun usia memang tidak bisa dibohongi. Yuk menelisik kabar bangunan tersebut. Simak baik-baik di bawah ini ya.


1. Gedung Bank Indonesia
Gedung B I Cirebon
Apabila melancong ke jalan tersebut, mata akan langsung melirik dan ternganga melihat gedung Bank Indonesia Cirebon. Menurut buku yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon, gedung BI merupakan eks De Javashe Bank. Gedung ini berdiri di Kampung Cangkol Kelurahan Lemahwungkuk Kecamatan Lemahwungkuk. Luasnya mencapai sekira 450 m2 (bangunan awal) terdiri atas tiga lantai dengan material utama batu, bata merah, pasir, besi, kayu jati, marmer, dan genteng. Gedung ini memiliki sistem keamanan ketat dan komunikasi canggih dilengkapi dengan sarana peribadatan, kantin, dan kesehatan.
Bagian samping dan belakang gedung dikelilingi pagar tembok dan besi pada bagian depan. Terdapat dua pintu gerbang yang terletak di samping Selatan dan Tengah. Pintu gerbang tengah lebarnya sekira 6 meter dilengkapi dengan Candi Bentar yang dibangun sekira 1990-an.
Luas lahannya sekira 1.961 m2. Mulanya, gedung ini digunakan sebagai kantor Agentschap De Cheribon yang dibuka pada 31 Juli 1866 sebagai kantor cabang ke-5 De Javashe Bank. Waktu itu, kantor masih berupa gedung tidak bertingkat, terasnya disangga empat pilar bulat, pintu dan jendela besar serta beratap genting. Kemudian mengalami perkembangan pesat dan pada 1919 gedung baru dirancang oleh arsitek F.D. Cuypers & Hulswit dengan gaya art deco.
Pada masa Jepang, nama De Javashe Bank berubah menjadi Hanpo Kaihatsu Ginko. Setelah dinasionalisasi berdasarkan Undang-undang No.11 tahun 1953 berubah menjadi Bank Indonesia. Di antara gedung eks De Javashe Bank lainnya, gedung cabang Cirebon ini memiliki keunikan di bagian kubah sehingga sampai hari ini masih terpantau elok. 
2. Kantor Pos Indonesia Cirebon
Agak sedikit ke Timur dan letaknya sangat bertetangga sebelah dengan Bank indonesia, mata akan
Kantor Pos Indonesia Cirebon
langsung menangkap bangunan bersahaja yang berjasa mengirimkan berbagai informasi dari satu tempat ke tempat lainnya.
Secara administratif, gedung ini berada di wilayah sama dengan BI. PT Pos Indonesia (Persero) Cirebon didirikan pada abad ke-20 dengan nama Jawatan Pos, Telegraf dan Telepon (Jawatan PTT) di bawah naungan Departemen Perhubungan. Setelah Gubernur Jendral G.W. Baron van Inhoff membangun Kantor Pos Jakarta sebagai pos pertama, gedung pos keduanya adalah di Cirebon.
Gedung ini memiliki lahan seluas 5550 m2 dengan luas bangunan sekira 885 m2. Di halamannya terdapat tiga pintu masuk berbentuk Candi Bentar dibangun pada 1980-an. Beberapa kali mengalami perbaikan secara berkala baik bagian interior maupun eksterior.
Adanya bangunan ini bertujuan untuk memudahkan pengiriman informasi melalui surat-surat untuk kepentingan kalangan Hindia Belanda, khususnya dari pulau Jawa ke pemerintah pusat di Batavia.
3. Gedung Bank Mandiri
 Gedung Bank Mandiri Cirebon
Setelah dari BI dan Kantor Pos, bergerak ke arah sebaliknya atau ke Utara, ada sebuah bangunan eks Escompto Bank. Terletak di pertigaan Jl. Yos Sudarso, Jl. Merdeka, dan Jl. Pasuketan. Gedung ini berdiri di atas lahan seluas 1815 m2. Secara administratif berada di Kampung Kamiran, Kelurahan panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk. Pada masa Hindia Belanda, Cirebon menjadi pusat perekonomian kota.
Dibangun pada 1920-an milik pemerintah yang diprakarsai oleh Escomto Bank untuk menunjang kepesatan perkembangan ekonomi pada masanya. Gedung yang dirancang oleh Archietec Bireu, Job: Sprey N.V. memiliki dua lantai dengan material utama batu, besi, bata merah, kayu jati, genteng, dan tegel. Saat ini luasnya mencapai 1053 m2.
Sedikitnya pernah mengalami tiga kali perbaikan. Pada 1952 oleh pihak Escompto Bank, kemudian diambil alih dan menjadi Bank Dagang Negara pada 1960, terakhir pada 1999 menjadi Bank Mandiri dengan menambah bangunan musala serta lahan parkir. Bank ini memfungsikan lantai I sebagai tempat layanan nasabah dan lantai II sebagai kantor.
4. Gedung B.A.T
B.A.T adalah istilah keren penyebutan untuk gedung bernama PT. British American Tobbaccos. Ada
Gedung B.A.T Cirebon
rokok-rokoknya gitu ya? Memang. Gedung ini letaknya di sebelah Selatan perempatan Jl. Pasuketan, Jl. Merdeka, Jl. Yos Sudarso, dan Jl. Sisingamangaraja. Letaknya masih cakupan Lemahwungkuk.
Pada mulanya, gedung ini merupakan perusahaan rokok SS Michael. Sebelum 1925, pihak B.A.T membelinya. Gedung yang dibangun oleh Arsitek F.D. Cuypers & Hulswit itu berlantai dua. Secara umum, bangunannya terdiri dari lobi, ruang kantor, pabrik, sarana penunjang seperti musala dan kantin.
Di tahun 90-an, ketika melakukan mekanisasi, semula lantai pabrik adalah kayu dan berubah menjadi marmer. Sejak dibuat, gedung ini nyaris tidak memiliki halaman. Hanya menyisakan lahan yang ditanami pohon Palem, pos polisi, trotoar, yang semuanya ditutupi tegel.
Pada 1930, B.A.T merupakan pabrik rokok besar dengan kapasitas produksi mencapai 17,5 juta batang rokok sehari (Memori Residen Cirebon, C.J.A.E.T. Hiljee, 3 Juni 1930). Pekerjanya berjumlah 1.700 orang laki-laki dan perempuan. Sayangnya, tembakau yang digunakan masih impor. Meski pernah berencana menyuruh rakyat menanam sendiri di wilayah Onderdistrik Waled dan Ciawigebang, namun rencana itu urung dilaksanakan.
Menyaksikan (fakta) jejak sejarah yang kini menjadi Benda Cagar Budaya (BCB), Cirebon terlihat maju sekali beberapa abad yang lalu. Apalagi B.A.T? Kalau sekarang seperti dulu, masyarakat Cirebon bisa jadi tidak merantau ke ibu kota (yang konon lebih kejam dari ibu tiri). Tapi jangan salah, sekarang B.A.T mulai ramai dan masyhur dengan wisata kuliner dan tempat rujukan foto prewed ala-ala noni Belanda gitu.(Uyung)

Post A Comment: