Herman Khaeron , Masih Ada Solusi Untuk Menyegarkan Kembali RNI
E satu.com  (Cirebon) -  Anggota Komisi VI DPR RI Ir. H. E. Herman Khaeron berkomitmen bagaimana menghidupkan kembali PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) untuk dapat mempertahankan produksi ditengah pengaruh dari beberapa aspek.

“Dilihat dari data adanya budidaya tebu menurun, banyak harga rendah, terdistorsi oleh banyaknya rafinasi,” ujar Kang Hero usai melakukan pertemuan dengan jajaran PG Rajawali II di Jl. Wahidin Kota Cirebon, Jum’at (3/1/20).
Kang Hero menyebutkan, ada dua pabrik gula diwilayah PG Rajawali II tepatnya Pabrik Gula Sindang Laut dan Pabrik Gula Tersana Baru yang ada di Kabupaten Cirebon yang harus dibantu untuk dihidupkan kembali ditengah budidaya turun.
Ia menjelaskan, cara untuk menanggulangi bisa dengan di Charge artinya, DPR membantu RNI untuk menambal kekurangan raw materialnya misalnya dengan row sugar.
“Kalau bisa dicharge oleh impor raw sugar, raw sugar bisa diproduksi di Sindang laut, hasil tebu masyarakat yang ada bisa dimasukan di Tersana Baru, sehingga waktu produksi akan meningkat di Tersana Baru,” jelasnya.
Sebab, lanjut dia, idealnya yakni 150 hari produksi, sekarang masih sekitar 100 hari produksi bahkan Sindang Laut dibawah itu, Kalau masih dilanjutkan sudah pasti rugi.


“Kalau RNI sekarang rugi hari ini ya pasti rugi bukan mis management, karena antara kapasitas produksi dan ketersediaan raw material tidak seimbang dan tidak mencukupi, disisi lain ada beban – beban kewajiban yang harus dipenuhi,” paparnya.
Masih kata Kang Hero, Impor low sugar yang diajukan RNI seiring dengan komitmennya bagaimana dalam 5 tahun di charge dalam raw material import dulu, sambil terus berkomitmen untuk bisa membangun raw material dalam negeri.
“Jadi raw sugar dalam negeri bisa dibangun berdasarkan raw sugar yang diimpor supaya operasional tidak rugi lagi, punya kemampuan, bisa menambah SDM, melebarkan kegiatan usaha, sambil mengajak masyarakat memperbaiki harga,” katanya.
Ia menambahkan, pengajuan impor RNI tahun lalu sekitar 250.000 ton sedangkan 6 juta ton kebutuhan nasional, baik konsumsi langsung maupun makanan minuman.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Produksi PG Rajawali II Muzamzam mengatakan, saat ini jumlah produksi gula mengalami penurunan, tahun lalu sekitar 2,2 juta ton. Dan pada tahun ini akan mengalami kekurangan karana adanya beberapa faktor yang mempengaruhi.
“Karena adanya jumlah tebu menurun, lahan dan budidaya tebu memang menjadi salah satu faktor,” katanya.
Soal pemanfaatan Pabrik Sindang Laut, pihaknya masih melakukan kajian, karena fakta jumlah bahan baku yang ada di Cirebon Timur cukup hanya untuk di olah dalam satu pabrik dengan kisaran 3 – 3,5 juta kuintal.
“Kalau di olah di dua pabrik tidak akan masuk pada hari giling, sebab idealnya hari giling 150, sedangkan kalau dibagi dua hanya dibawah 150 hari giling, ini yang menjadi in efesiensi,” jelasnya.
Ia menambahkan, dengan target tahun ini sebesar 56.100 ton gula, pihaknya akan berupaya menyelesaikan beberapa persoalan yang ada di RNI .
“Seperti soal lahan di Indramayu. Ke depan produksi gula meningkat seiring peningkatan produktivitas,” tandasnya.( Pgh)

Post A Comment:

0 comments: