E satu.com (Tangerang) - Juru propaganda Nazi menjelang saat Perang Dunia II, Dr. Joseph Goebbels mengatakan, "Jika kita mengulang-ulang kebohongan sesering mungkin dan dengan keteguhan, rakyat (pasti) akan mempercayai kebohongan itu sebagai kebenaran!''. Dalam artian kasarnya adalah, kebohongan yang disampaikan secara terus-menerus, publik akan menganggap sebuah kebenaran."
Jurus tersebut yang dipakai oleh seseorang, kelompok, bahkan sebuah negara dalam memenangkan opini publik. Tujuannya adalah untuk menguasai ni kepentingan yang disasarkan, baik secara politik, ekonomi, ideologi, bahkan untuk menghancurkan lawan. Baik lawan secara pribadi, golongan, maupun berbentuk negara.
Mereka berselindung dibalik akun anonim atau sebuah badan terorganisir yang kasat mata. Menyebarkan opini yang dikemas dalam berbagai bentuk lewat media sosial, seperti portal berita online, facebook, Pesanan WA berantai, twitwar di twitter, bahkan menampilkan potongan video secara masif di Instagram dan youtube.
Kemasan opininya berupa berita, analisis dan asumsi, gambar/foto yang membangun persepsi (Meme), propaganda, bahkan konten-konten berisi fitnah belaka. Mereka akan melakukan dengan segala cara, tanpa mengenal waktu. Mereka akan bergerilya dan faham kapan harus menyerang atau bertahan, meskipun bukan di dalam medan perang sesungguhnya.
Target objek dari perang opini ini adalah bagaimana memenangi pemikiran publik, sebagai penikmat media sosial. Sadarkah kita, bahwa perang opini ini menembus ruang-ruang sekat pribadi kita. Mereka dengan mudahnya masuk ke ruang kerja maupun ruang keluarga kita. Bahkan kesakralan ruang tidur kita pun, tak mampu menahan invasi mereka, selama media sosial mudah diakses dan didapatkan.
Coba kita imbas kembali di dalam tahun ini, bagaimana dalam masa Catur Wulan pertama, kita terjebak dalam perang opini politik. Kehidupan bermasyarakat terancam, dan pemikiran publik meruncing terbelah menjadi dua. Dua kelompok masyarakat ini bersitegang, dalam menyampaikan pembelaan kepada Sang Pemilik Opini. Seperti hanya menunggu isyarat saja, untuk menjadi perang opini massal.
Catur Wulan kedua, keadaan pro-kontra politik kian membiak dan mendapat suplai pupuk dari Sang pemilik Opini. Pasca pemilihan politik menjadi sangat kelam, sindiran dan nyinyiran menjadi vitamin harian yang menyegarkan. Perang opini politik terus bergerak, sehingga menjadi pemikiran publik. Puncaknya adalah demonstrasi bergulir, pergesekan antara publik dan aparatur negara tak terelakkan. Anarkisme dan korban jiwa mewarnai, menjadi bagian orgasme dari akhir perang opini politik.
( AWW )










.webp)











Post A Comment:
0 comments: