E satu.com World Economic Forum (WEF) memperkirakan Indonesia akan menghadapi krisis kepercayaan dan lonjakan pengangguran yang diproyeksikan berlangsung hingga 2028. Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencetak rekor tertinggi, meskipun sektor manufaktur kini berada di ambang ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran. 

Pemerintah mengincar pertumbuhan ekonomi 6% melalui percepatan belanja negara dan pembentukan Satgas Debottlenecking. Namun, Global Risk Report 2026 yang dirilis WEF mengungkapkan bahwa Indonesia termasuk dalam daftar 27 negara yang berisiko menghadapi guncangan ekonomi dan sosial struktural dalam kurun waktu tiga tahun mendatang.

Laporan tersebut menyoroti kesenjangan yang semakin melebar antara narasi pertumbuhan ekonomi yang diusung pemerintah dengan kenyataan yang dihadapi masyarakat sehari-hari. Inilah awal dari era yang disebut sebagai "Frustrasi Ekonomi".

Bom Waktu dalam Kepercayaan Sosial

Berdasarkan Executive Opinion Survey (EOS) yang melibatkan pemimpin bisnis global, Indonesia kini dibayangi oleh dua krisis kembar yakni pengangguran struktural dan erosi kepercayaan sosial.

Pemicu utamanya adalah lack of economic opportunity atau kurangnya kesempatan ekonomi. Masalahnya bukan sekadar kuantitas lowongan kerja, melainkan kegagalan sistem dalam menyerap angkatan kerja secara berkualitas.

Ketika masyarakat merasa kerja keras tidak lagi mampu mengubah nasib, muncul persepsi bahwa sistem hanya berpihak pada segelintir elite.

Manufaktur yang 'Menciut' dan Efek Samping Hilirisasi

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengonfirmasi kekhawatiran WEF. Ia menyoroti bahwa lonjakan PHK saat ini bersifat struktural, bukan lagi siklikal.

"Sektor formal yang diandalkan makin shrinking atau mengecil," ujar Bhima Selasa (20/1/2026).

Ironisnya, strategi hilirisasi tambang yang diagungkan belum mampu menciptakan industrialisasi di sektor tengah (mid-stream). Sepanjang 2025, sebanyak 27 smelter berhenti beroperasi akibat oversupply nikel dan jatuhnya harga internasional.

Ancaman Gelombang PHK Massal

Menurut Bhima sektor yang rentan terkena PHK pada 2026 adalah industri smelter nikel, pakaian jadi alas kaki, rokok, kertas, produk olahan kayu, furniture, industri karet dan kulit. Upaya untuk menahan tekanan di beberapa sektor itu adalah memfokuskan insentif fiskal, menahan laju barang impor terutama barang jadi, dan memfasilitasi pencarian pasar ekspor alternatif.

 ' inalisasi perjanjian dagang antara Indonesia dengan AS juga menjadi kunci agar sektor pakaian jadi, teksil, alas kaki mendapat kepastian," katanya.

Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) jumlah tenaga kerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) pada 2025 mencapai 88.519 orang. Jumlah ini terus meningkat dari tahun ke tahun.

Tercatat pada 2024 jumlah PHK mencapai 77.965 tenaga kerja. Sedangkan, pada 2023 jumlah PHK mencapai 64.855 orang tenaga kerja.

Adapun jumlah PHK itu dihitung dari tenaga kerja yang terklasifikasi sebagai peserta program Jaminan Kehilangan Pekerja (JKP).

“Tenaga kerja ter-PHK paling banyak pada periode 2025 terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu sekitar 21,26% dari total tenaga kerja ter-PHK yang dilaporkan,” jelas Kemenaker dikutip dari situs Satudata Kemenaker. Dilansir dari Suara,Com 

( AWW)
Baca Juga

Post A Comment:

0 comments:

AADD Biro Jasa STNK
Back To Top