E satu.com  (Cirebon) - Sebuah kitab kuno berbahasa Pegon yang diperkirakan berasal dari sekitar tahun 1870-an dibuka dan dibacakan pada momentum 27 Rajab di Prabayaksa, bertepatan dengan pelaksanaan tradisi Rajaban di Keraton Kacirebonan. 16 Januari 2026

Kitab kuno tersebut mengisahkan perjalanan agung Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang sarat nilai spiritual, keilmuan, serta sejarah Islam Nusantara.

Pembacaan kitab kuno ini disertai pengantar serta terjemahan ke dalam bahasa Jawa, sehingga memudahkan para hadirin memahami kandungan makna yang tertulis di dalamnya. Prosesi berlangsung dengan penuh kekhusyukan sebagai wujud penghormatan terhadap warisan literasi dan budaya leluhur.


Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian tradisi Rajaban yang dihadiri berbagai komunitas, tokoh agama, pemerhati budaya, serta masyarakat umum. Suasana semakin khidmat ketika kitab kuno dibacakan oleh E. Moh. Hilman, yang dengan cermat melantunkan teks Pegon sekaligus memberikan penjelasan makna perjalanan Isra Mi’raj.


Sultan Kacirebonan IX, P.R. Abdul Gani Nata Diningrat, dalam wawancaranya menegaskan bahwa tradisi Rajaban di Keraton Kacirebonan merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahun.

“Rajaban di Keraton Kacirebonan secara rutin kami laksanakan setiap tahun pada tanggal 27 Rajab di Prabayaksa. Tradisi ini bukan hanya peringatan Isra Mi’raj, tetapi juga menjadi sarana pelestarian nilai-nilai spiritual, budaya, dan sejarah yang diwariskan oleh para leluhur,” ujar Sultan.

Menurut Sultan, keberadaan dan pembacaan kitab kuno berbahasa Pegon dalam rangkaian Rajaban menjadi bukti kuat bahwa Keraton Kacirebonan memiliki peran penting dalam menjaga khazanah keilmuan Islam Nusantara agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.


Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Saung Langit Utama, Tri Nugroho, menyampaikan bahwa kegiatan pembacaan kitab kuno tersebut merupakan bentuk ikhtiar bersama dalam merawat tradisi Islam Nusantara yang sarat kearifan lokal.


“Rajaban bukan sekadar peringatan peristiwa Isra Mi’raj, tetapi juga ruang edukasi dan refleksi spiritual. Dengan menghadirkan pembacaan kitab kuno beserta terjemahannya, masyarakat diajak memahami ajaran Islam secara lebih mendalam sekaligus menghargai warisan budaya,” ungkap Tri Nugroho.

Melalui kegiatan ini, diharapkan nilai-nilai sejarah, keagamaan, dan kebudayaan yang terkandung dalam manuskrip kuno berbahasa Pegon tersebut dapat terus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari kekayaan identitas budaya bangsa.

Reporter.        : Als
Media.            : www.e-satu.com
Foto Grafer.   : jurnalis e-satu
Baca Juga

Post A Comment:

0 comments:

AADD Biro Jasa STNK
Back To Top