E satu.com (Tangerang) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Banten menargetkan proses pembersihan pestisida di Sungai Cisadane rampung dalam waktu satu hingga dua minggu.
Kepala DLH Banten, Wawan Gunawan mengatakan, pembersihan harus dilakukan cepat karena zat pestisida berisiko terhadap kesehatan dan lingkungan. DLH Banten bergerak bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mempercepat penanganan.
"Nah, ini kan pabrik pestisida. Begitu kejadian kebakaran, akhirnya pestisida mengalir ke sungai. Dampak pestisida itu memang bahaya karena mengandung racun, jadi memang harus dibersihkan segera," ucap Kepala DLH Banten, Wawan Gunawan, dilansir dari Antara, Sabtu (13/2/2026).
Menanggapi hal itu, pakar pencemaran dan ekotoksikologi IPB University, Etty Riani, menyampaikan, tidak mungkin bisa "membersihkan" seluruh dampak pestisida di Sungai Cisadane hanya dalam waktu dua minggu.
"Hanya dua minggu? Untuk air iya, tetapi untuk ekosistem secara keseluruhan sangat tidak mungkin," ujar Etty di kutip dari Kompas.com, Sabtu (14/2/2026).
Menurut Etty, sangat tidak mungkin Sungai Cisadane benar-benar "bersih" dalam dua minggu.
Sebab, pestisida yang tumpah sangat banyak, khususnya, pestisida jenis Cypermethrin yang bersifat mudah terikat pada partikel tanah meski sulit larut dalam air.
Imbasnya, cemaran dari pestisida jenis Cypermethrin relatif stabil di dasar perairan. Bahkan, cemaran dari pestisida jenis Cypermethrin akan tertinggal karena mengendap pada sedimen dan pinggir sungai.
Maka dari itu, proses pembersihan harus memastikan baik dasar maupun pinggir sungai sudah benar-benar "bersih" dari cemaran pestisia.
"Ya (pestisida) bisa mengendap dan berakumulasi dalam sedimen. Waktu (Pestisida yang tumpah) hilang hanya dalam air, begitu air berganti langsung hilang dua minggu (itu) cukup, tetapi yang di dasar dan pinggir sungai enggak mungkin bisa cepat. Butuh waktu panjang, bisa tahunan baru benar-benar hilang dari ekosistem sungai," jelas Etty.
(AWW)








.webp)












Post A Comment:
0 comments: