E satu.com (Cirebon) -
Ketersediaan batu bara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cirebon Power disebut mulai menipis.

Pengelola saat ini menunggu langkah pemerintah untuk memastikan pasokan batu bara bagi pembangkit listrik tetap terjaga.

Direktur Utama PLTU Cirebon Power, Joseph Pangalila, mengatakan salah satu faktor yang memengaruhi pasokan adalah kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) batu bara yang dinilai memiliki harga paling rendah dibanding sektor industri lain.

“Mungkin banyak faktor. Salah satunya karena harga DMO batu bara untuk pembangkit listrik itu termasuk paling rendah dibanding DMO lain. Misalnya untuk semen sekitar USD 90 per ton, sementara untuk pembangkit listrik hanya sekitar USD 70 per ton,” kata Joseph dalam kegiatan buka puasa bersama Jurnalis di Umah Kebon, Kota Cirebon, Kamis (5/3/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut membuat pemasok batu bara cenderung memprioritaskan sektor lain yang menawarkan harga lebih tinggi.

“Kalau smelter itu mengikuti harga pasar, sehingga tentu prioritas supplier biasanya ke sektor lain dulu baru ke pembangkit listrik,” ujarnya.

Joseph menyebut, kondisi tersebut berpengaruh pada ketersediaan batu bara di PLTU. Saat ini stok batu bara di pembangkit tersebut bervariasi, sebagian masih di atas 10 hari operasi, namun sebagian lainnya sudah berada di bawah 10 hari.

“Kalau dibilang tidak ada, sebenarnya masih ada, tapi stoknya ada yang di atas 10 hari dan ada juga yang kurang dari 10 hari,” katanya.

Ia menjelaskan pemerintah saat ini sedang berkoordinasi dengan para pemasok batu bara untuk meningkatkan suplai ke pembangkit listrik. Pihaknya pun berharap ada keberpihakan kebijakan agar kebutuhan batu bara bagi pembangkit listrik tetap terpenuhi.


“Pemerintah sedang berbicara dengan supplier untuk meningkatkan suplai batu bara ke pembangkit. Kami berharap ada keberpihakan pemerintah untuk menambah pasokan batu bara ke pembangkit listrik,” ucap Joseph.

Menurutnya, pembangkit listrik tenaga uap dirancang menggunakan jenis batu bara dengan spesifikasi tertentu. Karena itu, penggantian dengan jenis batu bara lain tidak bisa dilakukan sembarangan.

“PLTU itu sudah didesain menggunakan jenis batu bara tertentu. Bahkan untuk mengganti dengan batu bara jenis lain pun sulit karena setiap pembangkit menggunakan spesifikasi batu bara yang berbeda,” ujarnya.

Meski demikian, Joseph menilai kebutuhan listrik biasanya menurun menjelang Hari Raya Idul Fitri karena banyak aktivitas industri berhenti sementara.

“Menjelang Idul Fitri biasanya banyak pabrik tutup, sehingga kebutuhan listrik juga berkurang cukup banyak,” pungkasnya. (Wandi)
Baca Juga

Post A Comment:

0 comments:

AADD Biro Jasa STNK
Back To Top