E satu.com (Cirebon) - Sudah sebulan terakhir ratusan kapal nelayan di Pelabuhan Kejawanan, Kota Cirebon, terpaksa bersandar tanpa aktivitas akibat kelangkaan solar subsidi. Kondisi itu membuat ribuan Anak Buah Kapal (ABK) kehilangan mata pencaharian karena tidak bisa melaut.
Di tengah situasi tersebut, Anggota DPR RI Komisi VI sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Herman Khaeron, menyinggung dampak konflik Timur Tengah hingga penutupan Selat Hormuz yang disebut memengaruhi distribusi dan suplai BBM dunia.
"Ya sebetulnya memang situasi saat ini terkendala dengan suplai. Ada beberapa yang tentu disuplai dari kawasan Hormuz, ada 20 persennya dari sana," ujar Herman saat diwawancarai di Gedung DPRD Kota Cirebon, Jumat (8/5/2026).
Menurut pria yang akrab disapa Kang Hero itu, penutupan Selat Hormuz membuat distribusi BBM global tidak bisa langsung digantikan oleh pasokan dari wilayah lain.
"Ketika kemudian terjadi penutupan Selat Hormuz, ya tidak serta-merta kita mendapatkan pengganti karena harus ada proses-proses meskipun ada komitmen dari Amerika dan Rusia," ucapnya.
Meski demikian, ia memastikan pemerintah masih berupaya menjaga ketersediaan BBM nasional agar tetap aman.
"Yakinlah, pemerintah sedang berusaha untuk tetap bisa menjaga kebutuhan 1,5 sampai 1,6 juta barel per day untuk semua jenis BBM ini bisa terpenuhi," jelas dia.
Hero juga menegaskan harga BBM subsidi hingga akhir tahun dipastikan tidak mengalami kenaikan.
"Untuk subsidi, sampai akhir tahun ini sudah ditetapkan aman untuk tidak ada terjadi kenaikan harga atas BBM bersubsidi," katanya.
Namun, ia mengakui sejumlah jenis BBM non subsidi seperti Pertamina Dex, Turbo, hingga BBM industri mengalami kenaikan akibat skema floating price yang mengikuti harga internasional.
"Nah, tinggal kita bisa mencermati karena itu juga termasuk dalam floating price ya, harga yang naik-turun akibat dari harga internasional," ujarnya.
Ia pun meminta masyarakat tidak melakukan panic buying ataupun penimbunan BBM yang justru dapat memperparah situasi.
"Yakinlah ya, yang penting tidak terjadi panic buying, tidak terjadi bahkan tidak terjadi penimbunan misalkan," ucap Hero.
Sementara itu, di Pelabuhan Kejawanan, nelayan hanya bisa pasrah menunggu kepastian ketersediaan solar subsidi. Salah satunya Tessy (40), pengurus kapal yang mengaku sudah sebulan tidak bisa melaut akibat keterbatasan BBM.
"BBM saat ini sangat susah, Mas. Dari pemerintah cuma dapat 15 KL. Kalau bisa sih minta dilebihkan, kira-kira 24 KL lah. Kalau tidak ya 20 KL, karena itu lumayan bisa buat berangkat," ujar Tessy.
Ia menjelaskan, kapal berukuran 30 GT membutuhkan sedikitnya 24 kiloliter BBM untuk sekali perjalanan melaut selama empat hingga lima bulan di Laut Jawa.
"Kebutuhan buat berangkat paling tidak 24 KL," ucapnya.
Namun saat ini, jatah solar yang diterima hanya 15 kiloliter. Kondisi semakin sulit lantaran BBM non subsidi yang biasa digunakan sebagai alternatif juga kosong.
"Yang non-subsidi sekarang tidak ada pengisian. Sudah satu bulan ini kosong," katanya.
Menurut Tessy, krisis BBM sebenarnya sudah dirasakan nelayan sejak dua tahun terakhir, namun situasi kali ini menjadi yang paling parah.
"Kekurangan BBM sudah dua tahunan lebih. Tapi yang paling parah ya sekarang ini, sudah satu bulan tidak bisa berangkat," ujarnya.
Akibat kondisi tersebut, sekitar 100 kapal nelayan di Pelabuhan Kejawanan tidak beroperasi. Dalam satu kapal, rata-rata terdapat 13 ABK yang menggantungkan hidup dari hasil melaut. "Kalau satu kapal rata-rata 13 orang," katanya.
Ketua Himpunan Nelayan Kota Cirebon, Karsudin, membenarkan lumpuhnya aktivitas nelayan akibat keterbatasan solar subsidi. "Untungnya masih ada bantuan 15 KL dari Pertamina. Tapi kebutuhan satu kapal itu 24 KL untuk satu kali perjalanan," ujar Karsudin.
Menurutnya, pihak nelayan sudah beberapa kali mengirim surat permohonan penambahan kuota BBM ke Kementerian ESDM dan Pertamina, namun belum ada realisasi.
"Kami sudah kirim surat ke ESDM dan Pertamina, tapi belum ada realisasi," katanya.
Jika kondisi ini terus berlanjut, nelayan bahkan mempertimbangkan aksi protes.
"Mungkin akan orasi ke Pertamina, karena yang jadi sasaran utama tentu BBM," ucapnya.
Menanggapi kondisi nelayan Pantura tersebut, Hero mengaku baru mengetahui adanya kesulitan solar subsidi yang membuat nelayan tidak bisa melaut.
"Saya juga baru tahu kalau kemudian para nelayan sekarang kesulitan melaut akibat karena tidak adanya solar ataupun adanya pembatasan terhadap solar bersubsidi," katanya.
Ia pun berjanji akan menindaklanjuti aspirasi para nelayan dan memastikan kondisi tersebut kepada pihak terkait.
"Nanti kami coba akan tanya dan pastikan betul. Nanti saya akan infokan kembali kepada media di Cirebon," ujar Hero. (Wandi)









.webp)













Post A Comment:
0 comments: