E satu.com (Indramayu) -
Dugaan penyimpangan dalam proyek Rekonstruksi Jalan Kedaton- Purwajaya kembali menjadi sorotan publik. Setelah ramai  di media sosial dan diberitakan sejumlah media, proyek  Dinas PUPR Kabupaten Indramayu  itu kembali  dikritik oleh warga setempat, Kamis (28/05/2026). 

Pantauan di lapangan menunjukkan, pada sisa pekerjaan sepanjang sekitar 200–250 meter, pihak pelaksana baru mendatangkan alat berat jenis stamper (stump), memasang pembesian dowel, serta menggelar material batu untuk pemadatan tanah dasar.  Proyek senilai Rp2,87 miliar  dari APBD Indramayu TA 2026 yang dikerjakan oleh CV Arbi Bagus Sejahtera (ABS) tersebut dinilai gagal memenuhi ekspektasi masyarakat.

Sumber di lapangan yang memantau langsung pekerjaan di wilayah perbatasan Indramayu- Cirebon, tepatnya di Desa Purwajaya, Kecamatan Krangkeng, mengungkapkan bahwa pada sisa pekerjaan tersebut dilakukan pemadatan jalan yang masih gembur menggunakan material batu limestone atau batu putih yang dibelah.


Padahal, sesuai spesifikasi teknis, material yang semestinya digunakan adalah base course atau campuran batu pecah (split), kerikil, pasir, dan abu batu bergradasi tertentu yang ideal untuk lapisan pondasi sebelum pengecoran beton dilakukan.  Selain itu, terlihat pemasangan pembesian dowel di sejumlah titik, sementara alat berat stamper melakukan pemadatan di area pekerjaan yang belum dicor beton, khususnya di wilayah barat Blok Sumurjaya.

“Memang ada perbaikan, tetapi diduga belum sesuai spesifikasi teknis maupun gambar kontrak. Meski begitu, masih lebih baik dibanding pekerjaan sebelumnya yang diduga jelas-jelas bermasalah,” ujar warga setempat, Akhmad dan Kosim, Kamis (28/5/2026).

Menurut mereka, indikasi masalah sudah terlihat sejak awal pekerjaan. Beton jalan yang baru beberapa hari dicor dilaporkan mengalami retak hingga pecah di sejumlah titik, meski proyek masih tergolong baru.

Mereka juga menyoroti proses pemadatan dasar jalan yang diduga tidak dilakukan secara maksimal sebelum pengecoran dilaksanakan.


Setelah kritik publik bermunculan, alat berat jenis stamper memang mulai terlihat di lokasi proyek. Namun, keberadaan alat tersebut dinilai tidak otomatis menghapus dugaan kelalaian pada tahapan pekerjaan sebelumnya yang sudah terlanjur dicor beton.

Tak hanya itu, material batu yang digunakan untuk pemadatan juga diduga tidak sesuai dengan pedoman teknis Kementerian Pekerjaan Umum.

Dugaan penyimpangan lain juga muncul pada pemasangan dowel beton. Jarak antar dowel diduga tidak sesuai standar sebagaimana tercantum dalam gambar kontrak. Bahkan, terdapat indikasi pengurangan jumlah potongan dowel dari spesifikasi yang telah ditentukan.

Temuan lainnya menyangkut proses cutting beton yang seharusnya menggunakan mesin pemotong khusus. Namun di lapangan, pekerjaan tersebut diduga dilakukan secara manual. Padahal, tahapan cutting sangat penting untuk mengendalikan retakan alami beton akibat penyusutan dan perubahan suhu.

Imbasnya kata  Akhmad,  ditemukannya beberapa bagian beton yang dicor telah retak bahkan pecah. 

“Sedikitnya ada lima titik cor beton yang pecah dan retak. Keretakannya memanjang sepanjang badan jalan. Sebaiknya titik yang rusak dibongkar dan dikerjakan ulang,” tegas Akhmad.

Sebelumnya diberitakan, pelaksanaan pengecoran proyek Rekonstruksi Jalan Purwajaya- Kedaton diduga dilakukan dalam kondisi tanah yang masih gembur dan saat cuaca hujan.

Akibatnya, proyek di wilayah perbatasan Indramayu- Cirebon dengan nilai anggaran Rp2.872.825.000 itu diprediksi tidak akan bertahan lama.

Pantauan awak media saat pelaksanaan pengecoran pada Sabtu dan Minggu malam menemukan sejumlah dugaan penyimpangan, mulai dari pemasangan dowel yang diduga tidak sesuai ketentuan hingga kualitas pemadatan jalan yang dipersoalkan warga.

Selain itu, kondisi jalan hasil pengecoran dilaporkan bergelombang dan tidak rata, sehingga baru sehari setelah pengecoran muncul retak dan pecah di beberapa titik.

Warga juga menyoroti pemasangan berem yang diduga menggunakan material tidak sesuai juknis dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB).

“Yang paling parah ada di wilayah barat Blok Sumurjaya. Jalan yang sudah dipadatkan malah dilalui kendaraan molen saat kondisi tanah bercampur lumpur, sehingga menjadi gembur seperti kubangan kerbau. Namun tetap dipaksakan untuk dicor. Ini jelas berpotensi cepat rusak,” ungkap Akhmad dan kosim

Menurut mereka, saat pengecoran berlangsung kondisi cuaca sedang hujan, tetapi pihak pelaksana diduga tidak melakukan pemadatan ulang. Tanah hanya diratakan secara manual sebelum langsung ditimpa cor beton.


“Semua bukti sudah kami dokumentasikan. Sebaiknya proyek ini dibongkar dan dikerjakan ulang karena masyarakat yang nantinya dirugikan. Jangan karena lokasinya jauh dari permukiman lalu pekerjaan dilakukan asal-asalan,” kata Akhmad.

Hingga berita ini diturunkan, pihak kontraktor dari CV Arbi Bagus Sejahtera belum memberikan klarifikasi terkait berbagai temuan tersebut. Sikap serupa juga ditunjukkan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dinas PUPR Kabupaten Indramayu, Wimbanu, yang belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi.

Publik kini mempertanyakan sikap Dinas PUPR Kabupaten Indramayu terkait kelanjutan proyek tersebut. Dengan sejumlah dugaan penyimpangan yang mencuat, masyarakat mempertanyakan apakah proses Provisional Hand Over (PHO) tetap akan dilanjutkan atau justru ditunda hingga seluruh persoalan dibuka secara transparan. (TKH)
Baca Juga

Post A Comment:

0 comments:

AADD Biro Jasa STNK
Back To Top