Jika bicara tentang anak-anak muda, maka generasi Z lah yang akan menjadi sasarannya. Merekalah jiwa muda yang bergerak menjadi mayoritas dalam masyarakat saat ini. Namun, kondisi pemuda sekarang tidak baik-baik saja. Konselor profesional dalam bidang terapi kognitif dan perilaku, Janee Steele, mengatakan 60 persen generasi Z melaporkan mengalami stres dan kecemasan sosial (Mojok.co, 30/04/2026).
Dari hasil survei lain mengatakan bahwa kekhawatiran terhadap masa depan menjadi pemicu utama gangguan mental pada gen Z, dengan proporsi mencapai 60%. Hal ini menunjukkan adanya ketidakpastian yang besar terkait karier, stabilitas ekonomi, hingga kondisi global. Selain itu, tekanan finansial juga menjadi faktor signifikan 57%, diikuti oleh ekspektasi sosial 42% serta perasaan tidak berdaya terhadap situasi yang berada di luar kendali 36% (data.goodstats.id, 08/04/2026).
Fenomena pada gen Z ini tidak hanya terjadi di Indonesia, karena nyatanya gen Z di dunia sedang dirundung kecemasan tentang masa depan. Ratusan juta anak muda sedang menganggur. Fenomena ini merata di berbagai negara. Gen Z di negara maju pun sulit mendapatkan pekerjaan layak untuk menopang kehidupan mereka. Setidaknya 262 juta generasi Z di dunia tidak bekerja, tak bersekolah, dan tak ikut pelatihan (Kompas.id, 27/02/2026).
Meskipun gen Z disebut sebagai generasi yang paling rentan dalam sistem ekonomi formal. Namun di sisi lain, mereka juga dinilai sebagai generasi yang paling tangguh secara emosional. Kemampuan untuk mengenali, menerima, dan mencari solusi atas masalah mental menjadi kekuatan baru yang membedakan mereka dari generasi sebelumnya (data.goodstats.id, 08/04/2026). Selain itu, generasi Z yang kerap dicap sebagai generasi rapuh dan mudah mengeluh itu dapat membalikkan stereotipe tersebut. Mereka mulai menunjukkan ”taji” dengan melancarkan gelombang resistensi (Kompas.id, 25/05/2026).
Pada dasarnya generasi Z disebut sebagai generasi digital native, sehingga merekalah yang mendominasi penggunaan teknologi dan internet pada era ini. Apapun yang mereka lihat di media sosial atau internet membentuk cara pandang mereka, begitu pula dengan cara pandang mereka akan masa depan. Berdasarkan penelitian Patricia dkk. (2024), sebanyak 81% anak muda bahkan mengaku bahwa melihat status (story) seseorang di media sosial berujung membandingkan diri dengan orang lain. Dengan demikian, tanpa sadar penilaian salah dan benar mereka bergantung pada penilaian manusia.
Sementara itu, ruang digital sebagai media dengan arus informasinya yang menampilkan banyak konten di media sosial atau internet ini tidak bergerak secara acak, namun dikendalikan dengan sistem alogaritma. Alogaritma bergerak untuk mempermudah pengguna, namun juga bertindak membatasi keberagaman infomasi yang diterima pengguna. Armanda dan kawan-kawannya (2025), menegaskan bahwa alogaritma secara langsung menciptakan ruang informasi yang sempit dan homogen, yang menghambat keberagaman perspektif serta melemahkan kemampuan berpikir kritis.
Maka dengan ini, alogaritma telah membangun ruang digital yang tidak netral dan tidak bebas nilai, sehingga mempengaruhi pola pikir dan sikap seseorang, yang kemudian membentuk kepribadian itu sendiri. Ditambah lagi sistem saat ini yaitu sistem sekuler kapitalistik, mendorong orang-orang untuk selalu bebas berkespresi di depan layar media tanpa adanya batasan, bahkan sampai menyimpang dari nilai agama. Sistem inilah yang mendominasi ruang digital dan perlahan menggerus jati diri pemuda saat ini.
Tentu ini bukan masalah sepele karena nasib sebuah negara ada di tangan pemudanya. Generasi muda adalah generasi yang seharusnya meneruskan perjuangan di masa mendatang, disiapkan dari segala bentuk aspek, dibimbing dan dibina menjadi generasi yang berkualitas. Namun, peran negara saat ini hanya cenderung membentuk pemuda sebagai mesin penghasil uang. Di balik kondisi tersebut, gen Z lah yang justu seringkali mendapatkan cap buruk dari generasi sebelumnya.
Meski begitu, ternyata dulu Islam punya generasi muda yang paling unggul. Saat dimana Islam berada di puncaknya berhasil menyatukan 1/3 dunia. Salah satu pemuda ternama pada masa itu ialah Muhammad Al-Fatih, berhasil menjadi pemimpin para pemuda di usianya yang belum genap 21 tahun dalam penakhlukan Konstantinopel. Imam Syafi’i yang kita kenal sebagai pendiri Madzhab Syafi’i pun merupakan pemuda yang terkenal dengan kecerdasannya pada masa itu.
Kemajuan Islam pada saat itu didorong oleh kemajuan ilmu. Maka, generasi saat itupun lahir dari majelis ilmu. Ilmu yang menjadi pondasi kehidupan termasuk dalam mengurusi urusan umat dari berbagai kondisi. Mereka dibentuk menjadi pribadi Islam yang kuat dari pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah). Dengan demikian generasi muda Islam saat itu cakap dalam berbagai bidang keilmuan dan lahir menjadi ilmuan hebat dengan karya-karyanya. Segala aktivitas yang mereka lakukanpun karena mengejar penilaian Allah semata, bukan penilaian manusia.
Negara saat itu pun bertanggung jawab sebagai pelindung dan pelayan umat. Negara menjamin pemenuhan kebutuhan hidup secara adil. Rakyat yang kaya ataupun miskin akan mendapatkan fasilitas pendidikan dengan mudah. Hal ini sesuai dalam Islam, karena menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim. Allah SWT. juga mengabarkan, bahwa Dia akan meninggikan derajat orang berilmu.
“Allah akan meninggikan oang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah: 11)
Oleh karena itu, kebangkitan generasi muda saat ini bisa kembali dirasakan seperti masa itu hanya dengan penerapan Islam secara menyeluruh. Mengambil seluruh hukum Allah tanpa terkecuali. Islam sebagai panduan kehidupan telah mencakup segala aspek mulai dari bangun tidur hingga bangun negara. Hal ini pun tentunya sesuai dengan fitrah manusia. Wallahu’alam bishawab.
Penulis: Memi Mirnawati (Aktivis Muslimah)








.webp)













Post A Comment:
0 comments: