PG Rajawali II RNI Group Harus Bertanggung Jawab Atas Tidak Lakunya Gula Petani
E satu.com (Cirebon) - Proses pengolahan tebu menjadi gula pasir sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu, di Indonesia sendiri tercatat ada beberapa pabrik gula dengan kapasitas produksi cukup besar yang sudah mulai beroperasi sejak jaman penjajahan Belanda, beberapa pabrik bahkan hingga kini masih bisa beroperasi dengan baik walaupun menggunkan mesin-mesin yang sudah berusia ratusan tahun yang tidak pernah kunjung direvitalisasi dan masih kuat  menjadi tulang punggung produksi gula nasional.

Tidak dapat dipungkiri lagi, gula merupakan salah satu bahan makanan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Bagaimana tidak, gula adalah bahan yang banyak digunakan sebagai bahan pemanis alami selain madu, Terlepas dari fungsinya tersebut, gula juga memiliki kadar glukosa yang begitu tinggi. Dimana glukosa ini nantinya akan diolah menjadi energi.

Menumpuknya Gula di beberapa PG yang di wilayah jawa Barat seperti PG Sindang Laut ,PG Tersana Baru Babakan menjadi sebuah tanda tanya besar karena PG tersebut sudah ratusan tahun memproduksi gula namun ditahun ini dianggap hasi produksinya oleh Menteri Perdagangan mengandung ICUMSA ( International Commission For Uniform Methods of Sugar Analysis) merupakan Salah satu parameter kualitas dari gula ditinjau dari warna ICUMSA, yaitu menunjukkan kualitas warna gula dalam larutan. ICUMSA ( International Commission For Uniform Methods of Sugar Analysis) merupakan lembaga yang dibentuk untuk menyusun metode analisis kualitas gula dengan anggota lebih dari 30 negara. Mengenai warna gula ICUMSA telah membuat rating atau grade kualitas warna gula. Sistem rating berdasarkan warna gula yang menunjukkan kemurnian dan banyaknya kotoran yang terdapat dalam gula tersebut terlalu tinggi diatas Standar Nasional Indonesia.

PG Rajawali II ( RNI Group ) selaku produsen gula petani harus bertanggung jawab atas tidak terjualnya Gula Petani yang dianggap tinggi ICUMSAnya,sehingga petani mengalami kerugian selama delapan periode dari rencana penggilingan selama dua puluh periode ,yang telah memproduksi gula tersebut ,sehingga memaksa Importir memasukan gula Rafinasi ke dalam Negeri.
Rudy Listiono Selaku Sekertaris Perusahaan tidak bisa memberikan jawaban karena sedang ada kesibukan yang tidak bisa di tinggalkan ( PGH)

Post A Comment: