E satu.com 
(Cirebon) – Pembangkit listrik milik Cirebon Power mendapat apresiasi dari tujuh anggota Dewan Energi Nasional (DEN) usai melakukan kunjungan ke fasilitas pembangkit pada Sabtu (13/6/2026).

Kinerja operasional yang andal, penerapan teknologi rendah karbon, hingga komitmen terhadap lingkungan dan pemberdayaan masyarakat dinilai menjadikan perusahaan tersebut layak menjadi role model pengelolaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Indonesia.

Anggota DEN dari unsur pemangku kepentingan kalangan industri, Sripeni Inten Cahyani, mengatakan Cirebon Power menjadi contoh positif bagi industri ketenagalistrikan nasional, khususnya dalam pengelolaan PLTU.


"Kami ingin memastikan bagaimana pelaksanaan industri kelistrikan, khususnya dari sisi penyediaan tenaga listrik, berjalan dengan baik. Di PLTU Cirebon ini kami melihat salah satu contoh yang bagus, mulai dari pengelolaan batu bara hingga operasional pembangkitnya," ujar Sripeni.


Menurut mantan Pelaksana Tugas Direktur Utama PT PLN (Persero) tersebut, salah satu aspek yang menonjol adalah performa operasional pembangkit yang dinilai sangat baik.

Ia menyebut nilai Equivalent Availability Factor (EAF) berada di atas 85 persen dengan kapasitas faktor sekitar 80 persen.

"Menurut saya itu sangat bagus. Pengelolaan batu baranya juga baik dan pembangkitnya bersih, padahal ini adalah PLTU berbahan bakar batu bara," katanya.


Sripeni juga mengapresiasi penggunaan teknologi supercritical (SC) dan ultra super critical (USC) yang dinilai mampu menekan dampak lingkungan.


Selain itu, Cirebon Power disebut tengah mengkaji penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) sebagai bagian dari upaya pengurangan emisi karbon.

"Mereka sudah concern terhadap isu lingkungan. Bahkan sudah memikirkan penerapan CCS dan kemungkinan pengembangan PLTS karena masih tersedia lahan yang dapat dimanfaatkan," ujarnya.

Tak hanya dari sisi teknologi, Sripeni menilai program tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Mulai dari penanaman mangrove, pemberdayaan UMKM, peningkatan pendidikan, hingga pelatihan bagi warga sekitar dinilai mendukung keberlanjutan operasional perusahaan.

"Penerimaan masyarakat menjadi salah satu kunci agar perusahaan bisa beroperasi secara berkelanjutan. Kalau IPP bisa melakukan seperti ini, menurut saya sangat bagus," katanya.

Senada dengan itu, anggota DEN Muhammad Kholid Syeirazi menyebut Cirebon Power telah menunjukkan praktik terbaik dalam pengelolaan pembangkit berbasis batu bara yang tetap berkomitmen pada agenda dekarbonisasi.

"Saya mengapresiasi kinerja PLTU ultra super critical yang sangat maju dalam penerapan teknologi rendah karbon. Meskipun menggunakan batu bara, teknologi USC mampu memberikan pengurangan emisi yang signifikan," ujarnya.

Kholid menambahkan Cirebon Power memiliki peran strategis sebagai salah satu penopang keandalan sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali (Jamali). Ia juga mengapresiasi program keberlanjutan lingkungan yang dijalankan perusahaan, termasuk penanaman hampir 200 ribu mangrove.

"Tadi kami mendapatkan informasi mengenai penanaman hampir 200 ribu mangrove yang dilakukan Cirebon Power. Program CSR juga dilaksanakan dengan sangat baik. Saya kira ini salah satu role model PLTU dan pembangkit listrik secara umum yang bisa dijadikan barometer," katanya.

Meski demikian, Kholid menegaskan Indonesia masih membutuhkan PLTU sebagai pembangkit beban dasar (base load) untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional. Namun, ia mendorong seluruh pelaku industri terus berkomitmen mengurangi emisi melalui penerapan teknologi yang lebih ramah lingkungan.

"Kita belum bisa sepenuhnya meninggalkan PLTU sebagai tulang punggung elektrifikasi nasional. Tetapi kita terus mendorong agar PLTU berkomitmen terhadap pengurangan emisi dan menerapkan teknologi yang lebih ramah lingkungan," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Direktur Utama Cirebon Power Joseph Pangalila menyampaikan apresiasi atas berbagai masukan yang diberikan anggota DEN selama kunjungan berlangsung.

Menurut Joseph, salah satu isu yang turut menjadi pembahasan adalah kondisi pasokan batu bara ke sejumlah pembangkit yang belakangan mengalami penurunan cukup signifikan.


Ia berharap berbagai rekomendasi yang muncul dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan energi nasional.


"Kami berharap apa yang kami sampaikan bisa menjadi bahan masukan untuk perbaikan kebijakan energi nasional, terutama terkait pasokan batu bara yang saat ini berkurang. Kami berharap isu-isu di sekitar batu bara dapat diselesaikan dengan baik," kata Joseph.

Untuk menjaga keandalan pasokan bahan bakar, lanjutnya, Cirebon Power terus berkoordinasi dengan para pemasok batu bara sekaligus membuka peluang memperoleh suplai dari sumber lain.

"Dari sisi perusahaan, kami terus berdiskusi dengan supplier batu bara untuk meningkatkan pasokan dan juga membuka peluang memperoleh suplai dari pemasok lainnya," ujarnya. (Wandi)
Baca Juga

Post A Comment:

0 comments:

AADD Biro Jasa STNK
Back To Top