E satu.com (Kabupaten Cirebon) - Bupati Cirebon Imron menekankan pentingnya menjaga stabilitas pangan melalui kerja sama antardaerah saat menghadiri High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) se-Ciayumajakuning Tahun 2026.
Kegiatan yang digelar Bank Indonesia (BI) Cirebon tersebut berlangsung di Hotel Luxton Cirebon, Selasa (15/9/2026), dengan tema memperkuat resiliensi melalui pengendalian inflasi dan akselerasi transformasi digital untuk ekonomi Ciayumajakuning yang inklusif dan berkualitas.
Imron mengatakan, karakteristik Kabupaten Cirebon membuat aktivitas ekonomi masyarakat tidak hanya berlangsung di wilayah administrasi kabupaten, tetapi berkaitan erat dengan kawasan perkotaan di sekitarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pengendalian inflasi perlu melihat keterkaitan ekonomi antarwilayah, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.
“Pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan secara parsial oleh satu daerah, karena pasokan dan distribusi pangan saling berkaitan di wilayah Ciayumajakuning,” kata Imron.
Ia menyebut Kabupaten Cirebon masih bergantung pada sejumlah daerah sekitar untuk memenuhi kebutuhan komoditas pangan, terutama pasokan dari Kabupaten Kuningan dan Majalengka.
Karena itu, Pemkab Cirebon terus menerapkan strategi 4K dalam menjaga stabilitas harga, meliputi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi yang efektif.
“Kerja sama antardaerah perlu diperkuat agar langkah intervensi dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran, sehingga manfaatnya dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” ujarnya.
Imron juga mengharapkan forum koordinasi yang difasilitasi BI dapat berlangsung secara rutin dan menghasilkan kesepakatan serta rencana aksi yang dapat ditindaklanjuti setiap pemerintah daerah.
Ia menilai koordinasi tersebut penting untuk mengantisipasi berbagai potensi tekanan terhadap perekonomian daerah, termasuk dampak kondisi ekonomi global terhadap harga dan distribusi kebutuhan masyarakat.
Kepala Perwakilan BI Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis mengatakan, hasil pemetaan neraca pangan menunjukkan adanya komoditas yang mengalami surplus maupun defisit di sejumlah wilayah Ciayumajakuning.
Untuk komoditas beras, kata dia, Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon tercatat mengalami defisit, sedangkan Indramayu, Kuningan, dan Majalengka memiliki kapasitas produksi yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan wilayah lain.
“Indramayu, Kuningan, dan Majalengka merupakan sentra produksi yang dapat dikerjasamakan agar kebutuhan pangan di Ciayumajakuning tercukupi,” kata Wihujeng.
Selain beras, menurut dia, cabai menjadi salah satu komoditas yang perlu mendapat perhatian karena beberapa wilayah mengalami defisit, sementara Majalengka memiliki potensi pasokan untuk mendukung daerah lainnya.
BI Cirebon juga mengusulkan sejumlah langkah, antara lain pembentukan badan usaha milik daerah (BUMD) pangan atau penugasan BUMD yang sudah ada, integrasi sistem informasi, kemitraan dengan offtaker, serta penyusunan aspek hukum kerja sama antardaerah
Sumber : Diskominfo Kabupaten Cirebon








.webp)










Post A Comment:
0 comments: