E satu.com (Cirebon) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Cirebon mendorong penguatan kerja sama antar daerah di wilayah Ciayumajakuning untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan. Langkah ini dinilai penting untuk menekan biaya distribusi sekaligus mengendalikan inflasi.

Kepala KPw BI Cirebon Wihujeng Ayu Rengganis mengatakan, dari lima kabupaten dan kota di wilayah Ciayumajakuning, penghitungan inflasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dilakukan pada dua daerah, yakni Kota Cirebon dan Kabupaten Majalengka.

"Sementara daerah lainnya dihitung melalui IPH (Indeks Perkembangan Harga)," kata Wihujeng, usai kegiatan HLM TPID dan TP2DD Ciayumajakuning Semester I Tahun 2026, Selasa (15/9/2026).

Menurutnya, penghitungan inflasi dan IPH memiliki metode yang berbeda. Kota Cirebon yang menjadi daerah konsumsi memiliki karakteristik berbeda dibandingkan daerah lain yang lebih banyak berperan sebagai sentra produksi pertanian.

"Untuk Kota Cirebon ini kan daerah yang banyak konsumennya, daerah konsumsi. Tentu saja yang kita dorong melalui pendampingan," ujarnya.

Sementara itu, untuk daerah lainnya, BI bersama pemerintah daerah mendorong penguatan sektor pertanian. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan ketersediaan pasokan pangan.

"Adapun daerah-daerah lain untuk pendampingan di sektor pertanian, untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan di level," jelasnya.

Wihujeng menyebut salah satu evaluasi pengendalian inflasi pada tahun ini adalah memperkuat kerja sama antar daerah, khususnya di dalam wilayah Ciayumajakuning.

Kerja sama tersebut diharapkan dapat memperpendek rantai distribusi pangan. Dengan jarak antar daerah yang relatif dekat, biaya transportasi dan distribusi juga diharapkan lebih efisien.

"Tahun ini kita coba untuk mendorong kerja sama antar daerah di intra Ciayumajakuning yang kita kuatkan, supaya pasokan ini terjaga dulu," katanya.


Menurut Wihujeng, selama ini sejumlah kebutuhan pangan masih didatangkan dari daerah yang cukup jauh. Salah satunya komoditas telur yang pasokannya bisa berasal dari Semarang maupun Blitar.


"Telur saja kita dari Semarang sama Blitar, jauh sekali. Pasti ongkos distribusinya juga cukup mahal, cukup transportasinya," ujarnya.

Karena itu, BI mendorong agar pemenuhan kebutuhan pangan di Ciayumajakuning terlebih dahulu dioptimalkan dari daerah-daerah sekitar.

"Kenapa kita enggak dorong antarwilayah saja karena lebih dekat dan patokannya pastinya akan lebih gampang terpenuhi. Nah, itulah yang kita dorong sebagai evaluasi dari pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya," pungkasnya. (Wandi)
Baca Juga

Post A Comment:

0 comments:

AADD Biro Jasa STNK
Back To Top