E satu.com (Kota Cirebon) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon mengajak masyarakat yang memiliki dana menganggur atau uang dingin untuk mulai berinvestasi di pasar modal. Langkah tersebut dinilai dapat menjadi salah satu bentuk kontribusi masyarakat dalam memperkuat ketahanan pasar saham nasional.
Ajakan itu disampaikan Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib, dalam kegiatan Edukasi dan Literasi Keuangan tentang Reksadana Syariah melalui program PINTAR di Aula Cakrabuana OJK Cirebon, Senin (26/10/2026).
Agus mengatakan, masyarakat perlu melihat kondisi pasar modal dari perspektif jangka panjang. Menurutnya, ketika pasar saham mengalami tekanan, masyarakat yang memiliki dana lebih dan tidak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dapat mempertimbangkan investasi di pasar modal.
"Kita justru meminta kepada rekan-rekan itu berpikir secara jauh ke depan, out of the box, bahwa kalau sistem saham kita ini memang lagi tertekan, dan upaya kita untuk membantu sebagai warga negara yang baik dan memiliki uang dingin, mulailah kemudian masuk di pasar modal supaya IHSG kita, bursa saham kita itu masih bisa bertahan dari kemerosotan dari IHSG itu sendiri," ujar Agus.
Untuk memperkuat fundamental pasar modal dan meningkatkan kesadaran investasi jangka panjang, OJK Cirebon menggandeng berbagai pihak melalui pendekatan pentahelix.
Sinergi tersebut melibatkan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) serta mitra kerja Self-Regulatory Organization (SRO) pasar modal, yakni Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Edukasi dan literasi keuangan juga terus didorong hingga lingkungan sekolah dan kampus di wilayah Ciayumajakuning, yang meliputi Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan.
Sementara itu, Kepala Direktorat Pengawasan Pengelolaan Investasi I OJK, Sujanto, menjelaskan peningkatan literasi dan inklusi pasar modal menjadi tantangan yang perlu ditangani bersama.
Berdasarkan data yang dipaparkannya, indeks literasi pasar modal nasional masih berada di angka 17,78 persen. Sementara itu, indeks inklusi atau akses masyarakat terhadap produk pasar modal baru mencapai 1,34 persen.
Menurut Sujanto, angka tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus memperluas akses terhadap instrumen investasi di Indonesia.
Untuk mempercepat peningkatan literasi dan partisipasi masyarakat, OJK meluncurkan program nasional PINTAR pada 27 April 2026. Program tersebut diresmikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Ketua Dewan Komisioner OJK.
"Program investasi PINTAR ini sebenarnya program nasional yang sudah di-launching pada tanggal 27 April 2026 kemarin. Harapannya ini akan menyebar kepada banyak penduduk yang ada di Indonesia ini, termasuk nanti apakah pelajar, mahasiswa, pekerja, dan sebagainya," kata Sujanto.
Program PINTAR dirancang untuk menjangkau berbagai kelompok masyarakat melalui dua skema utama, yakni PINTAR Reksa Dana Umum dan PINTAR Reksa Dana SiMuda Investasiku.
PINTAR Reksa Dana Umum merupakan program investasi terencana dan berkala yang ditujukan bagi calon investor tanpa batasan usia. Pilihan produknya mencakup reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, hingga saham.
Adapun PINTAR Reksa Dana SiMuda Investasiku secara khusus menyasar masyarakat berusia 18 hingga 30 tahun untuk membangun kebiasaan berinvestasi sejak dini.
"Nama programnya SiMuda Investasiku, yang memang secara khusus menyasar masyarakat muda berusia 18 hingga 30 tahun. Jalur ini merupakan wujud nyata komitmen OJK untuk membangun kebiasaan investasi sejak dini karena mereka adalah calon-calon investor yang sofistikated di masa depan," jelasnya.
Dalam pemaparannya, Sujanto menyebut total aset investasi nasional telah mencapai Rp 1.003 triliun. Dari jumlah tersebut, sektor reksa dana menyumbang sekitar Rp 637 triliun dengan jumlah investor mencapai 30,87 juta secara nasional, meningkat sekitar 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Di Jawa Barat, jumlah investor reksa dana tercatat sekitar 750.000 orang, atau sekitar 12 persen dari total investor pasar modal provinsi tersebut yang mencapai 6,2 juta orang.
Sementara itu, jumlah investor di wilayah Kota dan Kabupaten Cirebon mencapai sekitar 400.000 orang. Cirebon dan Kuningan mencatatkan jumlah tertinggi, dengan total hampir 270.000 investor.
Dari sisi kepemilikan aset, nilai investasi reksa dana di wilayah Ciayumajakuning mencapai Rp 1,37 triliun. Kota dan Kabupaten Cirebon menyumbang hampir Rp 1 triliun dari total tersebut.
Khusus reksa dana syariah, tercatat sekitar 34.000 investor dengan nilai aset mencapai Rp 378 miliar. Sebagian besar investor reksa dana syariah tersebut berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun.
Data tersebut menunjukkan potensi pengembangan investasi reksa dana syariah masih terbuka, terutama melalui peningkatan edukasi keuangan dan perluasan akses bagi generasi muda.
Melalui program PINTAR, OJK berharap masyarakat semakin memahami karakteristik produk investasi, mampu mengambil keputusan keuangan secara bijak, serta membangun kebiasaan investasi yang terencana sesuai profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing. (Wandi)









.webp)










Post A Comment:
0 comments: