E satu.com (Tangerang ) - Di tengah pesatnya pembangunan kota industri, megahnya gedung perkantoran, ramainya pusat perdagangan, dan tingginya aktivitas ekonomi, masih banyak masyarakat kecil yang hidup dalam kesulitan. Ironisnya, rasa empati yang seharusnya tumbuh kuat di tengah kehidupan sosial, justru sering terasa hanya muncul saat acara-acara seremoni semata.
Ketika kamera menyala, panggung kegiatan dibuka, dan sambutan demi sambutan disampaikan, kata-kata tentang kepedulian sosial terdengar begitu indah. Bantuan simbolis diberikan, foto bersama dilakukan, lalu dipublikasikan di media sosial maupun pemberitaan. Namun setelah acara selesai, sebagian masyarakat kecil kembali menghadapi kenyataan hidup tanpa pendampingan yang nyata dan berkelanjutan.
Empati sejatinya bukan hanya soal ucapan, slogan, atau kegiatan seremonial. Empati adalah keberanian untuk hadir, mendengar keluhan masyarakat, dan ikut merasakan penderitaan mereka tanpa harus menunggu momentum tertentu. Empati juga bukan sekadar membagikan bantuan sesaat, melainkan memastikan masyarakat dapat bangkit dan hidup lebih baik secara berkelanjutan.
Sayangnya, dalam praktik kehidupan sosial dan politik saat ini, empati kadang berubah menjadi pencitraan. Kehadiran kepada masyarakat lebih sering dilakukan ketika ada kepentingan tertentu, momentum politik, atau kegiatan formal yang mengundang perhatian publik. Sementara ketika masyarakat benar-benar membutuhkan bantuan mendesak, tidak semua pihak mau turun langsung melihat kondisi di lapangan.
Padahal, kota industri seharusnya tidak hanya menjadi simbol kemajuan ekonomi, tetapi juga menjadi contoh kuatnya nilai kemanusiaan.
Kemajuan pembangunan akan terasa hambar apabila tidak dibarengi dengan kepedulian sosial yang nyata. Tingginya investasi dan pertumbuhan ekonomi seharusnya mampu menghadirkan kesejahteraan yang merata, bukan hanya dinikmati segelintir kalangan.
Masyarakat saat ini juga semakin cerdas menilai mana empati yang tulus dan mana yang sekadar formalitas. Karena itu, sudah saatnya seluruh elemen, baik pemerintah, dunia usaha, organisasi sosial, maupun tokoh masyarakat, membangun budaya kepedulian yang lebih nyata, konsisten, dan tidak berhenti pada seremoni belaka.
Sebab bagi masyarakat kecil yang sedang menghadapi kesulitan hidup, empati bukanlah pidato panjang atau tepuk tangan di atas panggung. Empati adalah tindakan nyata, kehadiran, dan keberpihakan yang benar-benar dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis ; Asep Wawan Wibawan
( Jurnalis E satu.com )








.webp)













Post A Comment:
0 comments: