E satu.com - Di balik setiap pengabdian kepada bangsa, sering kali terdapat sosok yang memilih setia dalam diam. Mereka bukan orang yang berdiri di garis depan, tetapi menjadi sumber kekuatan bagi mereka yang mengabdikan hidup demi kepentingan negara dan masyarakat.
Begitulah kisah yang dijalani Ibu Uan Rohman, perempuan tangguh yang harus menerima kenyataan pahit ketika suaminya gugur saat menjalankan tugas negara sebagai pejuang pembangunan. Hingga hari ini, menurut keterangan keluarga, jasad sang suami belum pernah ditemukan. Luka kehilangan itu tidak pernah benar-benar sembuh, namun ia memilih bertahan dengan kesabaran dan keikhlasan.
Selama mendampingi almarhum, Ibu Uan Rohman selalu setia menemani dalam suka maupun duka. Di tengah berbagai tantangan pekerjaan yang penuh risiko, ia tidak pernah berhenti memberikan doa, dukungan, dan semangat kepada suaminya. Baginya, pengabdian kepada bangsa adalah sebuah kehormatan, meski harus dibayar dengan waktu bersama keluarga yang sangat terbatas.
Sepeninggal suaminya, beban kehidupan sepenuhnya berada di pundaknya. Dengan ketabahan luar biasa, ia membesarkan enam orang anak seorang diri. Dalam keterbatasan ekonomi dan luka kehilangan yang begitu mendalam, ia tetap menanamkan nilai-nilai kejujuran, kerja keras, dan semangat pengabdian kepada anak-anaknya. Harapan terbesar yang selalu ia simpan adalah agar mereka dapat meneruskan cita-cita dan semangat perjuangan almarhum ayah mereka.
Menurut keterangan keluarga, atas jasa dan pengabdiannya kepada negara, almarhum memperoleh Piagam Penghargaan Pahlawan Pembangunan yang diserahkan pada masa pemerintahan Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto. Piagam tersebut menjadi simbol penghormatan atas pengabdian yang telah diberikan, meskipun bagi keluarga, kehilangan sosok suami dan ayah tidak pernah dapat tergantikan oleh penghargaan apa pun.
Kisah pilu keluarga ini ternyata telah berlangsung lintas generasi. Menurut riwayat keluarga, ayah dari Ibu Uan Rohman juga gugur di medan perang melawan penjajaj. Hingga kini, keberadaan jasadnya pun tidak pernah diketahui. Peristiwa itu membuat Ibu Uan Rohman tumbuh sebagai anak yatim sejak masih balita, mengenal kehilangan bahkan sebelum memahami arti kehidupan.
Kini, di usia senjanya, Ibu Uan Rohman telah cukup lama terbaring di tempat tidur karena kondisi kesehatannya yang terus menurun. Dengan penuh kasih sayang, anak-anak dan keluarga merawatnya tanpa kenal lelah sebagai bentuk bakti atas seluruh pengorbanan yang telah ia berikan sepanjang hidupnya.
Salah seorang putranya,, memilih jalan pengabdian melalui dunia jurnalistik. Sebagai jurnalis otodidak, ia aktif menyuarakan aspirasi masyarakat dan menjalankan fungsi kontrol sosial. Dalam berbagai tulisannya, ia kerap mengkritisi kebijakan maupun kinerja sejumlah pejabat daerah yang menurut penilaiannya belum cukup responsif terhadap persoalan masyarakat, khususnya di bidang pelayanan publik. Baginya, kritik merupakan bagian dari upaya membangun pemerintahan yang lebih baik dan lebih berpihak kepada kepentingan rakyat.
Kisah keluarga ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap pembangunan yang dinikmati masyarakat, terdapat pengorbanan yang sering kali tidak terlihat. Ada keluarga yang kehilangan ayah, suami, bahkan kakek demi sebuah pengabdian kepada negara. Mereka mungkin tidak banyak disebut dalam lembar-lembar sejarah, tetapi keteguhan, kesabaran, dan pengorbanan mereka merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan bangsa Indonesia.
Semoga almarhum diberikan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan Ibu Uan Rohman senantiasa diberikan kekuatan serta keberkahan. Semoga pula semangat pengabdian yang diwariskan kepada anak-anak dan cucunya terus hidup sebagai teladan bahwa pengorbanan untuk bangsa tidak pernah sia-sia.
Saat ini, Ibu Uan Rohman menjalani perawatan di rumah anak sulungnya yang beralamat di Jalan Samiaji, Kavling Agraria, RT 01/RW 05, Kelurahan Nusa Jaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang. Di usia senjanya, beliau telah cukup lama terbaring di tempat tidur akibat kondisi kesehatan yang terus menurun.
Meski demikian, kasih sayang dari anak-anak dan keluarga tidak pernah surut. Mereka secara bergantian merawat, mendampingi, dan memenuhi seluruh kebutuhan Ibu Uan Rohman dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Bagi keluarga, merawat sang ibu bukanlah sebuah beban, melainkan bentuk bakti dan ungkapan terima kasih atas seluruh pengorbanan yang telah beliau berikan sejak membesarkan enam orang anak seorang diri setelah kepergian sang suami.
Rumah sederhana tersebut kini menjadi saksi perjalanan hidup seorang perempuan tangguh yang telah melewati berbagai ujian kehidupan. Dari kehilangan ayah sejak masih balita, ditinggal suami yang gugur saat menjalankan tugas negara, hingga berjuang membesarkan anak-anaknya dengan penuh keterbatasan, Ibu Uan Rohman tetap menunjukkan keteguhan hati yang luar biasa.
Bagi keluarga, Ibu Uan Rohman bukan sekadar seorang ibu, melainkan sosok pejuang yang mengajarkan arti kesetiaan, keikhlasan, dan pengorbanan. Keteladanan hidupnya menjadi warisan berharga yang terus dikenang dan diharapkan dapat menginspirasi generasi penerus untuk tetap mencintai bangsa, menghormati jasa para pejuang, serta tidak melupakan pengorbanan keluarga yang telah ikut berjuang dalam diam.
(AWW)








.webp)










Post A Comment:
0 comments: