E satu.com (Kota Cirebon) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cirebon memperkuat langkah antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Kopiluhur.
Sejumlah langkah teknis disiapkan untuk menekan potensi munculnya api di area landfill.
Upaya tersebut dilakukan dengan menyiapkan tanah urugan, tangki air hingga perangkat penyiraman. Peralatan itu disiapkan untuk mempercepat penanganan apabila sewaktu-waktu muncul titik api di kawasan TPA.
Kepala DLH Kota Cirebon, Fina Amalia Purwantini mengatakan, pihaknya telah menempatkan tanah urugan di dua area landfill TPA Kopiluhur.
"Penjagaan kebakaran itu kita sudah membuat gundukan-gundukan atau urugan untuk antisipasi kalau nanti ada kebakaran," kata Fina.
Fina menjelaskan TPA Kopiluhur memiliki dua landfill, yakni di sisi kanan dan kiri. Tanah urugan telah disiapkan di kedua area tersebut sehingga bisa langsung digunakan ketika terjadi kebakaran.
Selain itu, DLH menyiapkan satu tangki air di landfill yang saat ini masih aktif digunakan. Tangki tersebut difungsikan untuk mempercepat proses pemadaman apabila ditemukan titik api.
"Kalau misalkan ada apa-apa, kita langsung siram," ujarnya usai menerima kunjungan kerja Pansus XV DPRD Provinsi Jawa Barat, Rabu (3/9/2026).
DLH juga telah membeli satu set perangkat penyiraman. Peralatan tersebut terdiri dari pipa hingga genset yang digunakan sebagai sumber penggerak sistem penyiraman.
Menurut Fina, berbagai langkah tersebut merupakan bagian dari mitigasi untuk mencegah kebakaran meluas. Terlebih, timbunan sampah di landfill berpotensi menghasilkan gas metana yang mudah terbakar.
"Metan ini dinamis, dia mencari ruang kosong," katanya.
Karena itu, pengelolaan timbunan sampah menjadi salah satu hal penting untuk menekan risiko kebakaran. Setiap sampah yang masuk ke landfill terus dikontrol dan ditutup menggunakan tanah.
"Alhamdulillah karena kita sudah kontrol landfill, setiap sudah ada sampah diuruk. Ini salah satu untuk mengurangi potensi kebakaran," jelasnya.
Fina mengatakan berdasarkan hasil pemetaan pada 2025, sejumlah titik panas memang ditemukan di kawasan TPA Kopiluhur. Namun, titik panas tersebut tidak terkonsentrasi pada satu lokasi.
"Kalau hasil pemetaan itu ada titik panas. Di 2025, titik panasnya menyebar, kecil-kecil. Jadi tidak berkumpul," ungkapnya.
Meski demikian, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian DLH. Sebab, potensi kebakaran tidak hanya berasal dari kondisi internal timbunan sampah, tetapi juga sumber api dari aktivitas manusia.
Salah satu sumber risiko yang diantisipasi yakni puntung rokok. DLH pun telah memasang sejumlah larangan dan imbauan di kawasan TPA.
"Pemicu-pemicu itu tetap harus dihilangkan. Salah satunya rokok, ada yang buang puntung. Menyalakan api juga seperti itu," tegas Fina.
Larangan merokok dan menyalakan api telah dipasang di sejumlah titik. Imbauan tersebut ditujukan kepada pekerja maupun pemulung yang beraktivitas di sekitar landfill.
Fina berharap berbagai langkah pencegahan itu dapat menjaga TPA Kopiluhur tetap aman dari ancaman kebakaran, terutama mengingat adanya potensi gas metana di dalam timbunan sampah.
"Sudah kita tempelkan, dilarang merokok, dilarang menyalakan api di landfill dan di kantor. Ke pemulung juga sudah," pungkasnya. (Wandi)








.webp)










Post A Comment:
0 comments: