E satu.com (Tangerang) -
“Kenapa pemberitaannya selalu menyudutkan anggota dewan? Ada apa dengan anggota dewan?”

Pertanyaan tersebut disampaikan salah seorang anggota DPRD Provinsi Banten melalui WhatsApp kepada jurnalis Asep Wawan Wibawan beberapa bulan lalu. Pertanyaan itu muncul setelah Asep beberapa kali menyoroti kinerja wakil rakyat melalui pemberitaan.

Awalnya, Asep memilih tidak menjawab. Namun, pertanyaan tersebut terus teringat hingga akhirnya ia mengungkap alasan mengapa dirinya konsisten mengkritisi kinerja anggota dewan.

Menurut Asep, sikap kritis tersebut tidak muncul tanpa alasan. Salah satu latar belakangnya adalah pengalaman yang dialami langsung oleh almarhumah istrinya ketika mendapatkan pelayanan kesehatan.

Peristiwa pertama terjadi di RSUD Kota Tangerang sekitar 2022. Saat itu, menurut Asep, almarhumah istrinya sempat ditanya oleh seorang dokter dengan nada yang dinilainya keras atau marah.

Kejadian tersebut kemudian menjadi perhatian publik dan sempat diberitakan oleh puluhan media online.

Menurut Asep, pengalaman itu meninggalkan trauma yang cukup panjang bagi almarhumah istrinya. Trauma tersebut membuatnya enggan kembali menjalani pemeriksaan di rumah sakit, bahkan ketika kondisi kesehatannya mulai mengkhawatirkan.

Pihak keluarga kemudian berusaha meyakinkan almarhumah agar kembali mendapatkan pemeriksaan medis.

Namun, persoalan serupa kembali dirasakan pada 2026.

Saat kondisi kesehatan almarhumah memburuk, keluarga membawanya menggunakan ambulans ke IGD RS Primaya. Menurut Asep, setelah dilakukan observasi, almarhumah tidak menjalani rawat inap dan disarankan untuk pulang.

Asep menilai keputusan tersebut patut dipertanyakan karena saat itu kondisi kesehatan istrinya menurut keluarga cukup memprihatinkan.

Peristiwa tersebut kembali menjadi perhatian dan diberitakan sejumlah media online.

Yang kemudian menjadi pertanyaan Asep adalah apa yang terjadi setelah pemberitaan tersebut muncul.

Ia mengaku tidak mendengar adanya tindak lanjut yang menurutnya terlihat secara terbuka dari dinas terkait maupun anggota DPRD untuk menelusuri persoalan pelayanan yang dialami keluarganya.

Bagi Asep, pengalaman dua peristiwa tersebut menjadi salah satu alasan mengapa dirinya memilih tetap kritis terhadap lembaga legislatif.

Ia mempertanyakan fungsi pengawasan DPRD ketika persoalan pelayanan publik menyangkut masyarakat yang berada dalam kondisi rentan.

“Kalau masyarakat mengalami persoalan pelayanan, saya berharap ada wakil rakyat yang datang, mempertanyakan, mengawasi, dan memastikan persoalannya tidak berhenti begitu saja,” ujar Asep. Dikediamannya. Senin ( 21/9/2026 )

Menurutnya, kritik terhadap anggota dewan bukan berarti kebencian terhadap lembaga legislatif. Kritik justru muncul karena adanya harapan agar fungsi representasi dan pengawasan benar-benar dirasakan masyarakat.

Asep juga menegaskan bahwa pengalaman keluarganya tidak seharusnya menjadi alasan untuk menggeneralisasi seluruh anggota DPRD.

Namun, pengalaman tersebut menjadi alasan pribadi baginya untuk terus mempertanyakan bagaimana fungsi pengawasan dijalankan ketika masyarakat menghadapi persoalan pelayanan publik.

Dari sinilah pertanyaan “Kenapa pemberitaannya selalu menyudutkan dewan?” mendapatkan jawaban dari Asep.

Baginya, persoalannya bukan menyudutkan atau membela.

Kritik muncul karena ada persoalan yang dirasakan, ada pertanyaan yang belum terjawab, dan ada harapan agar wakil rakyat benar-benar hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Kini pertanyaannya bukan hanya, “Ada apa dengan dewan?”

Tetapi juga: sejauh mana fungsi pengawasan DPRD berjalan ketika masyarakat mempertanyakan kualitas pelayanan publik?

Menurut Asep, jika persoalan pelayanan publik ditelusuri lebih jauh, bukan tidak mungkin masih terdapat masyarakat lain yang memiliki pengalaman dan keluhan serupa, tetapi belum menyampaikannya ke ruang publik.

Karena itu, baginya, kritik bukan sekadar persoalan pribadi. Kritik merupakan bagian dari upaya membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pengalaman, mempertanyakan pelayanan publik

( AWW )
Baca Juga

Post A Comment:

0 comments:

AADD Biro Jasa STNK
Back To Top