E satu.com (Cirebon) - Laskar Agung Macan Ali Nuswantara menandai satu dasawarsa kebangkitannya dengan sejumlah agenda berbeda dibandingkan peringatan tahun-tahun sebelumnya.
Memasuki usia 10 tahun kebangkitan dari Cirebon, organisasi tersebut melakukan pengukuhan panglima dan calon panglima dari berbagai daerah di Indonesia hingga membentuk divisi khusus.
Sejumlah panglima dan calon panglima yang dikukuhkan berasal dari berbagai kota, di antaranya Manado, Riau, dan Palembang. Pengukuhan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat struktur organisasi sekaligus memperluas jaringan Macan Ali di berbagai wilayah.
Panglima Tinggi Laskar Agung Macan Ali Nuswantara, Prabu Diaz, mengatakan salah satu hal baru dalam peringatan satu dasawarsa kali ini adalah pembentukan Divisi Sapu Jagad.
Divisi tersebut merupakan pasukan khusus Macan Ali yang memiliki tugas utama dalam bidang pengamanan. Pasukan ini dipimpin oleh Letnan Kolonel Infanteri Agus dari Korps Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
"Kita membentuk Divisi Sapu Jagad, pasukan khusus Macan Ali yang khusus untuk tim pengamanan," kata Prabu Diaz, kepada wartawan, Sabtu (31/10/2026).
Selain itu, Macan Ali juga tengah mempersiapkan pembentukan BIMA atau Badan Intelijen Macan Ali. Personel yang akan bergabung merupakan orang-orang pilihan dan harus melewati sejumlah tahapan seleksi.
"Kita membentuk BIMA, Badan Intelijen Macan Ali. Jadi nanti pendidikannya rencananya di Cibubur. Itu orang-orang pilihan semua," ujarnya.
Prabu Diaz menjelaskan, calon personel BIMA nantinya akan menjalani serangkaian tes, mulai dari tes inteligensi, psikologi, hingga tahapan seleksi lainnya.
Hal berbeda lainnya dalam peringatan satu dasawarsa ini adalah bergabungnya sekitar 18 paguron, komunitas adat, serta kelompok pelestari tradisi dan budaya ke dalam Macan Ali.
Menurutnya, bergabungnya berbagai kelompok tersebut menjadi perkembangan positif bagi organisasi, terutama dalam memperkuat persatuan komunitas adat dan budaya Nusantara.
"Yang luar biasa tahun ini banyak paguron, komunitas adat, dan tradisi budaya yang bergabung dengan Macan Ali. Ada sekitar 18 yang mengikrarkan diri bergabung," tuturnya.
Dalam musyawarah besar (Mubes) ke-10, Macan Ali juga menetapkan sejumlah program utama untuk 2027. Salah satunya kembali menggelar kegiatan thudong dengan perjalanan lintas negara.
Rute perjalanan direncanakan dimulai dari wilayah selatan Thailand, kemudian menuju Malaysia, Singapura, Jakarta, hingga berakhir di kawasan Candi Borobudur.
Namun, agenda terbesar yang disiapkan adalah Kirab Agung Macan Ali dari Sunda Kelapa menuju Cirebon.
Kirab tersebut dijadwalkan berlangsung pada 1 Oktober hingga 14 Oktober 2027. Rombongan direncanakan tiba di Alun-alun Sangkala Buana, Keraton Kasepuhan Cirebon.
Kegiatan itu digelar untuk memperingati 500 tahun peristiwa perjuangan Fatahillah mengusir Portugis dari Sunda Kelapa pada 1527, sekaligus mengangkat kembali sejarah Laskar Agung Macan Ali.
"Agenda paling besar adalah Kirab Agung dari Sunda Kelapa. Tanggal 1 Oktober sampai 14 Oktober 2027, tiba di Alun-alun Sangkala Buana Kasepuhan Cirebon dalam rangka memperingati 500 tahun Laskar Agung Macan Ali Nuswantara yang dipimpin Fatahillah ketika mengusir Portugis di Sunda Kelapa tahun 1527," jelasnya.
Prabu Diaz menyebut, peringatan 500 tahun tersebut menjadi momentum penting bagi Macan Ali untuk mengenang sejarah perjuangan sekaligus memperkuat eksistensi organisasi yang kebangkitannya dimulai dari Cirebon.
Dalam perjalanan sembilan tahun sebelumnya, Macan Ali telah menjalankan berbagai kegiatan sosial, khususnya membantu masyarakat yang terdampak bencana alam.
Sejumlah daerah yang pernah menjadi lokasi kegiatan sosial tersebut di antaranya Semeru, Cianjur, Palu, dan Lombok.
Memasuki tahun ke-10, Macan Ali juga menggelar prosesi memandikan para panglima dan Wakil Panglima Tinggi di Sumur Kejayaan, lingkungan Keraton Kasepuhan Cirebon.
Prosesi tersebut menjadi salah satu rangkaian khusus dalam peringatan satu dasawarsa kebangkitan macan ali.
Saat ini, Prabu Diaz menyebut jumlah anggota Laskar Agung Macan Ali Nuswantara telah mencapai lebih dari 48 ribu orang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan sejumlah negara.
Jaringan anggotanya juga berada di luar negeri, seperti Serawak, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Taiwan. Taiwan disebut menjadi salah satu wilayah dengan jumlah anggota cukup besar, yang didominasi pekerja migran Indonesia.
Dengan berbagai agenda tersebut, Macan Ali berharap momentum satu dasawarsa kebangkitan menjadi langkah untuk memperkuat organisasi, memperluas jaringan, serta menjaga tradisi dan budaya Nusantara. (Wandi)


.jpeg)







.webp)










Post A Comment:
0 comments: