E satu.com (Kabupaten Cirebon) - Perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari menjadi langkah penting bagi siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Cirebon untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Anak-anak yang sebelumnya kesulitan mengatur waktu tidur dan belum terbiasa menjalankan rutinitas secara teratur, kini mulai menunjukkan perubahan positif melalui pendampingan di sekolah dan asrama.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Cirebon, Mimin Kasminah mengatakan, perubahan tersebut menjadi salah satu perkembangan yang dirasakan sejak program pendidikan itu mulai berjalan pada 2026.
Menurutnya, Sekolah Rakyat tidak hanya memberikan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, tetapi juga membangun karakter, kedisiplinan, dan kemandirian agar mereka memiliki bekal untuk memperbaiki kehidupan keluarga pada masa mendatang.
“Alhamdulillah, sekarang sudah banyak perubahan. Bertemu dengan siapa pun mereka pasti salam tangan, cium tangan. Bahkan tidur pun sekarang sudah menjadi lebih tertib,” kata Mimin saat ditemui pada Jumat (16/10/2026).
Melalui pendampingan secara bertahap, kebiasaan tersebut mulai berubah. Siswa kini lebih teratur menjalani aktivitas harian, mulai dari bangun pagi, beribadah, membersihkan diri, sarapan, hingga mengikuti kegiatan pembelajaran.
Mimin menilai perubahan itu menunjukkan pentingnya pendampingan yang berkelanjutan, terutama bagi anak-anak yang membutuhkan perhatian lebih dalam pembentukan karakter dan perilaku.
Ia menjelaskan, Sekolah Rakyat merupakan program pemerintah pada masa Presiden RI Prabowo Subianto yang bertujuan memutus rantai kemiskinan agar tidak diwariskan kepada generasi berikutnya.
Program yang dilaksanakan Kementerian Sosial tersebut menyasar masyarakat pada desil 1 dan desil 2, yakni kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah dalam pengelompokan kesejahteraan yang digunakan pemerintah.
Penerimaan siswa tidak dilakukan melalui pendaftaran reguler. Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di tingkat kecamatan, kelurahan, dan desa melakukan penjangkauan untuk menemukan anak-anak yang memenuhi sasaran program.
Menurut Mimin, mekanisme tersebut membantu pemerintah menjangkau keluarga yang sebelumnya belum teridentifikasi atau belum memperoleh akses memadai terhadap program bantuan.
“Program ini bertujuan memutus rantai kemiskinan masyarakat, sehingga tidak menjadi warisan untuk generasi selanjutnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, program ini tidak hanya berfokus pada pendidikan anak. Pemerintah juga mendorong peningkatan kondisi ekonomi keluarga agar perubahan yang dialami siswa dapat memberikan manfaat lebih luas bagi kehidupan orang tua dan keluarganya.
Dengan pendekatan tersebut, anak-anak diharapkan dapat tumbuh menjadi pribadi mandiri, memiliki kemampuan untuk memperoleh penghasilan, dan kelak membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Cirebon mulai menggelar kegiatan open house pada 31 Juli 2026. Kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) kemudian dimulai pada 15 Agustus 2026 setelah pihak sekolah mempertimbangkan kondisi sarana dan prasarana yang masih terdampak debu pembangunan.
Mimin menyebutkan, sekolah tersebut dirancang untuk menampung 540 siswa dari empat daerah, yakni Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Majalengka.
Kuota siswa terdiri atas 270 siswa dari Kabupaten Cirebon serta masing-masing 90 siswa dari Kota Cirebon, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Majalengka. Pada awal pelaksanaan kegiatan, jumlah siswa yang hadir tercatat 529 orang.
Sebagai sekolah berasrama, Sekolah Rakyat menerapkan pola pendidikan selama 24 jam. Kegiatan siswa mencakup pembelajaran dengan kurikulum pendidikan nasional serta pembinaan kehidupan di asrama.
Namun, pelaksanaan pendampingan pada masa awal menghadapi tantangan, karena keterbatasan sumber daya manusia. Mimin mengatakan, wali asuh yang idealnya mendampingi sekitar 10 siswa saat itu harus menangani lebih dari 50 siswa.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, pihaknya mendapat bantuan pendampingan dari tiga Sekolah Rakyat di kabupaten dan kota lain selama pelaksanaan MPLS.
Mimin berharap pendampingan yang konsisten dapat memperkuat perubahan perilaku siswa sekaligus membantu mereka mengembangkan potensi diri.
Ia menegaskan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari terpenuhinya kebutuhan sehari-hari siswa, tetapi juga dari kemampuan mereka membangun kedisiplinan, karakter, dan kemandirian sebagai bekal untuk masa depan.
Sumber : Diskominfo Kabupaten Cirebon












.webp)










Post A Comment:
0 comments: