E satu.com (Tangerang) - Ada seorang anak yang selama bertahun-tahun berjuang melawan penyakit, namun tetap memilih merawat ibunya hingga akhir hayat. Kemudian, ada seorang suami yang harus merelakan kepergian istrinya. Sementara itu, anak-anak yang ditinggalkan harus terus makan dan bersekolah meski sumber penghasilan keluarga telah pergi.
Dalam cerita ini, tersisa satu pertanyaan: mengapa bantuan dana kematian yang diajukan melalui program Pemerintah Kota Tangerang belum juga dicairkan?
Siti (nama samaran), satu-satunya anak Fatimah (nama samaran) yang tinggal di Kelurahan Cimone Jaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, selama enam tahun menghadapi penyakit kronis. Kondisinya semakin memburuk, namun dia tetap setia merawat ibunya yang lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur.
Untuk merawat sang ibu, Siti meninggalkan pekerjaannya sebagai pengajar di sebuah Raudhatul Athfal (RA) dan memilih selalu berada di sisi ibunya.
Sekitar April 2026, Fatimah pun meninggal dunia. Meski begitu, perjuangan Siti belum berakhir.
Ketika Orang yang Merawat Pergi Lebih Dulu
Usai kepergian ibunya, Siti mengajukan bantuan dana kematian lewat aplikasi Tangerang LIVE.
Bagi keluarga yang sederhana, bantuan tersebut sudah pasti sangat berarti untuk meringankan beban setelah kehilangan anggota keluarga tercinta.
Namun beberapa bulan kemudian, kondisi Siti semakin memburuk.
Pada Juli 2026, Siti jatuh sakit parah dan lebih banyak terbaring di tempat tidur. Suaminya, Abdullah (nama samaran), bekerja serabutan dan berusaha mendapatkan perawatan yang layak untuk istrinya.
Meski penghasilannya tidak pasti, ia tetap berusaha mencari cara agar Siti mendapatkan pengobatan.
Siti kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Jakarta.
Sayangnya, nasib berkata lain. Pada Juli 2026, Siti meninggal dunia.
Dalam waktu singkat, keluarga ini kehilangan dua sosok penting: seorang ibu dan putri tunggal yang selama ini setia merawatnya.
Kini Tinggal Seorang Ayah dan Anak-Anak yang Harus Bertahan
Sepeninggal Siti, Abdullah harus menjalani peran sebagai ayah sekaligus pencari nafkah bagi keluarga.
Pekerjaan serabutan tidak memberikan kepastian pendapatan. Kebutuhan harian dan biaya sekolah anak harus terus terpenuhi.
Dalam situasi tertentu, Abdullah kerap menghadapi kenyataan bahwa kebutuhan anak-anak datang bersamaan dengan kosongnya isi dompet.
Di sinilah persoalan bantuan dana kematian mencuat kembali.
Menurut keterangan keluarga, usulan bantuan untuk Fatimah telah diajukan melalui aplikasi Tangerang LIVE dan disebutkan telah mendapatkan persetujuan administrasi.
Namun, bantuan itu belum juga dicairkan. Keluarga mendapat informasi bahwa masalah muncul karena Siti, satu-satunya anak, telah meninggal. Sedangkan anak-anak Siti tidak termasuk pihak yang dianggap berhak menerima bantuan tersebut.
Lebih jauh lagi, jika permohonan sudah diproses dan disetujui, mengapa manfaatnya tidak sampai kepada keluarga?
Persoalannya bukan hanya soal hak atau tidaknya keluarga menerima bantuan.
Masalah lebih besar adalah bagaimana pemerintah memperlakukan warga dalam situasi paling rentan.
Sistem administrasi memang membutuhkan aturan. Namun pemerintahan sepatutnya memberikan solusi atau menunjukkan empati ketika aturan bertemu keadaan luar biasa.
( AWW )








.webp)










Post A Comment:
0 comments: