E satu.com (Tangerang ) -
Guru yang dicintai siswa tidak selalu lahir dari metode mengajar yang rumit. Sering kali, kedekatan justru tumbuh dari kemampuan guru memahami dunia peserta didiknya.

Salah satu cara yang dapat digunakan adalah metode bercerita. Namun, bercerita dalam pendidikan bukan sekadar menyampaikan kisah. Guru perlu pandai memilih cerita, menentukan waktu, menyesuaikan bahasa, serta memahami kondisi psikologis dan tingkat perkembangan siswa.

Ketika cerita ditempatkan pada situasi yang tepat, materi pembelajaran dapat terasa lebih hidup. Siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga diajak memahami nilai, sebab-akibat, pengalaman, dan pesan yang terkandung di dalamnya.

Cerita Dapat Menjadi Jembatan Pembelajaran

Dalam proses pendidikan, perhatian siswa merupakan salah satu bagian penting dari pembelajaran. Cerita dapat menjadi jembatan untuk menghubungkan materi dengan pengalaman yang lebih mudah dipahami.

Misalnya, ketika guru menjelaskan tentang kejujuran, tanggung jawab, disiplin, persahabatan, atau kepedulian, sebuah cerita yang relevan dapat membantu siswa melihat bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, metode bercerita tetap perlu ditempatkan secara proporsional. Cerita tidak boleh menggantikan seluruh proses pembelajaran. Ia harus menjadi salah satu metode yang mendukung tujuan pembelajaran.

Guru yang Dekat, Bukan Berarti Kehilangan Ketegasan

Disukai siswa juga bukan berarti guru harus selalu mengikuti keinginan mereka.

Guru tetap membutuhkan batas, aturan, dan ketegasan. Justru ketika ketegasan disampaikan dengan cara yang komunikatif dan manusiawi, siswa dapat memahami bahwa aturan dibuat bukan semata-mata untuk menghukum, tetapi untuk membentuk tanggung jawab.

Di sinilah kemampuan guru menempatkan metode menjadi penting.

Kapan harus menjelaskan, kapan harus bertanya, kapan harus berdiskusi, kapan harus bercerita, dan kapan harus bersikap tegas merupakan bagian dari kecermatan seorang pendidik.

Pada akhirnya, “Guruku, Idolaku” bukan sekadar ungkapan kekaguman siswa kepada gurunya. Lebih dari itu, ia dapat menjadi gambaran bahwa seorang guru mampu meninggalkan kesan melalui ilmu, sikap, keteladanan, dan cara mendidik yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Sebab, pelajaran mungkin selesai ketika bel berbunyi, tetapi keteladanan seorang guru dapat terus diingat jauh setelah siswa meninggalkan ruang kelas.

Penulis : Asep Wawan Wibawan 

(  Jurnalis E satu.com/ Pemerhati Pendidikan Kota Tangerang)
Baca Juga

Post A Comment:

0 comments:

AADD Biro Jasa STNK
Back To Top